Diminta Perkuat Koordinasi, BI Sebut Inflasi Berpotensi ke 6,5%
JAKARTA, Investor.id - Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S Budiman memproyeksikan inflasi tahun ini mencapai 6,5%. Kenakan ini dipicu peningkatan harga pangan baik dalam negeri maupun luar negeri serta kenaikan harga BBM bersubsidi.
Oleh karena itu, ia meminta semua pihak terus memperkuat koordinasi dan mewaspadai berbagai faktor untuk dapat mengendalikan lonjakan inflasi. "Kita harus waspadai, ekspektasi inflasi dengan kenaikan harga BBM akan mendorong naiknya tarif angkutan yang juga akan mempengaruhi harga pada keranjang core. Ini sebabkan ekspektasi inflasi meningkat akhir tahun 6,5%, jauh lebih tinggi dari target inflasi keputusan pemerintah dan BI sebesar 3 plus minus 1%"ucapnya dalam Diskusi Publik Memperkuat Sinergi untuk Menjaga Stabilitas Perekonomian, Rabu (28/9).
Aida menjelaskan, komponen pangan bergejolak (volatile food) dari hortikultura turut menyumbang peningkatan inflasi dikarenakan faktor cuaca yang tidak kondusif. Selain itu, kenaikan harga komoditas pangan dipicu kendala dari sisi produksi barang antara waktu dan wilayah.
"Contohnya cabai merah besar dan cabai rawit betapa pasokan antara bulan tidak merata dan juga kelihatan perbedaan gap produksi yang terkadang rendah dan tinggi ini terjadi tahun ini. Sebelum Agustus produksi cabai alami penurunan sangat tinggi sehingga harga alami peningkatan"tegasnya.
Aida menjelaskan bahwa BI berkomitmen untuk menjaga strategi pengendalian inflasi, tidak hanya menjaga suplai dan demand atau core inflation. Namun yang lebih penting mengendalikan volatile food.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memproyeksi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada September 2022 berpotensi mengerek inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada tahun ini tembus 6 persen (yoy).
Kenaikan harga BBM akan memberikan dampak second round effect terhadap kenaikan tarif angkutan umum hingga permintaan barang lainnya. Oleh karena itu, kenaikan inflasi akan meningkat tinggi pada September. Adapun pemerintah baru menerapkan penyesuaian harga BBM sejak (3/9) lalu.
"Penyesuaian harga BBM, khususnya Pertalite dan Solar tidak hanya berdampak langsung tetapi juga tidak langsung. Sehingga akan terjadi second round effect yang berlangsung 3 bulan dan karenanya kemungkinan inflasi akan meningkat"ucapnya dalam Konferensi Pers RDG, Kamis (22/9).
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






