Jumat, 15 Mei 2026

Meski Solid, Bank Dunia Revisi Turun Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 4,8%

Penulis : Triyan Pangastuti
11 Jan 2023 | 11:25 WIB
BAGIKAN
Ekspor impor Indonesia. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
Ekspor impor Indonesia. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

JAKARTA, Investor.id - Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,8% tahun 2023 atau direvisi turun dari perkiraan semula sebesar 5,3%.

Meski direvisi turun, ekonomi Indonesia diprediksi tetap solid tahun ini, karena perlambatan pertumbuhan ekonomi tahun ini juga tidak lebih parah dibandingkan negara lain di kawasan seperti Tiongkok 4,8% dan Thailand sebesar 3,6%.

Bahkan, pertumbuhan ekonomi di Malaysia, Filipina, dan Vietnam diperkirakan melambat akibat pertumbuhan ekspor ke pasar-pasar utama melambat. Pertumbuhan ekonomi Malaysia diproyeksikan sebesar 4,0% dan Filipina sekitar 5,4%, dan Vietnam sekitar 6,3%.

ADVERTISEMENT

"Di Indonesia, PDB diproyeksikan tumbuh rata-rata sebesar 4,9% pada tahun 2023-2024, hanya sedikit lebih lambat dari tahun 2022, yang mencerminkan pelemahan namun tetap kuatnya pengeluaran swasta," sebut Bank Dunia dalam laporan Global Economic Prospect Edisi Januari, Rabu (11/1/2023).

Bank Dunia menyebut setelah pemulihan ekonomi yang kuat untuk sisi kepercayaan bisnis diperkirakan akan tetap solid dengan latar belakang fundamental ekonomi makro yang sehat dan reformasi struktural momentum implementasi, termasuk dalam kebijakan dan administrasi perpajakan.

"Berbagai proyeksi ini dilatarbelakangi pada beberapa risiko penurunan, termasuk kemungkinan gangguan baru terkait pandemi, tekanan sektor real estat yang lebih berkepanjangan di Tiongkok, pengetatan kondisi keuangan global yang lebih tajam," ungkap Bank Dunia.

Lebih lanjut, faktor pelemahan ekonomi global juga menyebabkan kinerja ekonomi dunia melambat, yang disertai dengan perubahan iklim yang mengganggu lebih sering.

Terakhir, faktor masih berlanjutnya perang yang berkepanjangan di Ukraina dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. "Faktor ini dapat semakin mengurangi kepercayaan bisnis dan konsumen secara global dan menyebabkan perlambatan yang lebih tajam daripada yang diproyeksikan dalam pertumbuhan ekspor kawasan," tutup laporan tersebut.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia