Jumat, 15 Mei 2026

Sssttt... Ada BUMN yang Segera Eksekusi Perdagangan Karbon

Penulis : Muawwan Daelami
4 Jul 2023 | 16:10 WIB
BAGIKAN
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), anak usaha PT Pertamina (Persero), untuk pertama kalinya memiliki pos pendapatan baru dari hasil perdagangan karbon.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), anak usaha PT Pertamina (Persero), untuk pertama kalinya memiliki pos pendapatan baru dari hasil perdagangan karbon.

JAKARTA, investor.id – Kementerian BUMN buka-bukaan soal perdagangan karbon. Perusahaan pelat merah seperti PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero) disebut bakal mulai mengeksekusi perdagangan karbon sebelum September tahun ini.

Wakil Menteri BUMN I Pahala Mansury menyampaikan, pedagangan karbon perusahaan BUMN tersebut akan difasilitasi langsung oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menggunakan regulasi Kementerian LHK dan Otoritas Jasa Keuangan. "Institusinya ada di ruangan ini, apakah itu PT PLN atau Pertamina," kata dia di Jakarta, yang dikutip pada Selasa (4/7/2023).

Menurut Pahala, pihaknya sudah mendorong setiap BUMN untuk menyusun peta jalan (roadmap) pengurangan emisi. Bahkan, setiap tahun Kementerian BUMN telah meminta key performance index (KPI) dari delapan perusahaan BUMN penghasil emisi terbesar.

ADVERTISEMENT

Di luar delapan BUMN itu, Kementerian BUMN juga sudah meminta PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) atau BKI dan Perhutani untuk bisa berperan dalam menghubungkan pasar karbon.

"BKI kita harapkan menjadi pihak yang bisa membantu BUMN dalam memverifikasi dan memvalidasi karbon yang dihasilkan perusahaan BUMN," jelasnya.

Terkait peran BUMN dalam menekan emisi, lebih lanjut, Pahala menuturkan, Kementerian BUMN juga sudah menerbitkan surat edaran kepada seluruh perusahaan milik negara untuk menyusun peta jalan yang sesuai dengan Nationally Determined Contribution (NDC).

Sebab menurutnya, masing-masing sektor memiliki NDC salah satunya sektor minyak dan gas (migas) yang mempunyai target NDC. Target paling jelas berada di sektor pembangkit listrik yang diharapkan jumlah emisinya berkurang pada 2030.

"Kalau perusahaan-perusahaan BUMN sudah menurunkan emisi sesuai targetnya masing-masing, kalau bisa divalidasi dan diverifikasi rencana mitigasi penurunan emisinya, termasuk project development plan-nya," ujar Pahala.

"Sebab, membuat carbon market itu memerlukan proses rumit seperti mengetahui berapa based load emisi yang dihasilkan, kemudian apa penyebab penurunannya, lalu divalidasi, dan memiliki karbon kredit yang harus didaftarkan," tutup Pahala.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 45 menit yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 55 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 9 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia