KTNA Optimistis Indonesia Bakal Jadi Lumbung Pangan di 2045
JAKARTA, Investor.id - Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) optimistis Indonesia akan menjadi negara lumbung pangan pada 2045. Itu artinya, masih ada 23 tahun lagi untuk mewujudkan rencana tersebut.
Ketua KNTA Nasional Yadi Sofyan Noor menegaskan, guna mendukung hal ini, sejumlah sentra pertanian menjadi fokus perhatian, seperti, Sulawesi, Sumatera, dan juga Kalimantan. Tak hanya itu, petani Indonesia saat ini sudah dikenalkan dengan teknologi, mulai dari teknik budidaya hingga pascapanen. Ini termasuk pemanfataan benih unggul berkualitas dan juga benih bioteknologi.
"Komponen-komponen ini yang membuat kami optimistis Indonesia bisa menjadi negara lumbung pangan di kemudian hari," ujar dia, Senin (4/9/2023).
Di sisi lain, dia menegaskan, tantangan yang mesti dihadapi dunia pertanian juga semakin besar. Saat ini, perubahan iklim semakin nyata, mulai dari siklus musim yang berubah hingga kemunculan berbagai penyakit yang membuat tanaman pangan kurang optimal berproduksi. Kondisi ini bisa membuat sektor pertanian sulit berkembang.
Karena itu, dia menerangkan, para ilmuwan terus berupaya menciptakan berbagai solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan umat manusia di tengah ancaman krisis iklim tersebut. Salah satunya melalui intensifikasi pertanian, termasuk pemanfaatan benih bioteknologi.
Peneliti ahli madya Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan (PRHP) BRIN Tri Joko Santoso mengatakan, bioteknologi merupakan salah satu jawaban atas masalah-masalah yang dihadapi dalam dunia pertanian. Itu sebabnya, BRIN berupaya memanfaatkan bioteknologi yang tujuannya untuk merakit varietas unggul.
Salah satu varietas tanaman yang tengah diteliti oleh BRIN saat ini, kata dia, adalah bawang merah, dengan fokus akselerasi perakitan varietas unggul berbasis bioteknologi dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Bioteknologi ini, kata dia, ditujukan untuk perbaikan sifat tertentu, misalnya, tahan terhadap penyakit, produktivitas tinggi, dan lainnya. Bioteknologi yang digunakan dalam kegiatan ini adalah marka molekuler sebagai alat untuk seleksi klon-klon bawang merah yang membawa sifat yang diinginkan.
Jadi, dia menerangkan, varietas hasil seleksi molekuler ini akan aman untuk dibudidayakan, sehingga petani bisa menggunakan varietas bawang merah yang sudah ada sentuhan bioteknologi
“Pada dasarnya, bioteknologi aman dan sangat diperlukan, bukan hanya oleh petani, tetapi juga oleh peneliti atau pemulia dalam merakit varietas. Petani memanfaatkan varietas yang dihasilkan oleh peneliti atau pemulia,” tegas Tri Joko Santoso.
Contoh lain, kata dia, keunggulan benih bioteknologi adalah benih jagung yang memiliki keunggulan ganda yaitu tahan penggerek batang dan juga herbisida. Dengan keunggulan ganda tersebut, varietas jagung ini akan membuat petani dapat menekan ongkos produksi, meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen.
Pasalnya, jagung bioteknologi ini dapat meningkatkan hasil berkisar 10-15 % dibandingkan varietas sama yang nonbioteknologi. Dengan begini, apabila ditanam secara luas, ini dapat mendongkrak panen jagung dari rata-rata nasional sebesar 5,3 ton per hektare (ha) menjadi sekitar 7 ton per ha.
Benih jagung bioteknologi telah digunakan oleh petani di sejumlah negara di dunia sejak tahun 1990-an. Di Indonesia, varietas jagung ini telah mendapatkan sertifikasi aman pangan, pakan, dan lingkungan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Keberadaan varietas jagung bioteknologi ini akan membuat akses petani Indonesia terhadap benih unggul akan sama dengan petani di luar negeri. Alhasil, produktivitas jagung dan daya saing petani Indonesia tak akan kalah dari petani negara lain serta target agar Indonesia menjadi lumbung pangan pada 2045.
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

