Jumat, 15 Mei 2026

Soal Kebijakan Energi, Pemerintah Jangan Mau Didikte Asing

Penulis : Kunradus Aliandu
8 Sep 2023 | 16:50 WIB
BAGIKAN
PLTU Suralaya
PLTU Suralaya

JAKARTA, investor.id - Pemerintah diimbau untuk tetap berdaulat mempertahankan pembangkitan energi listrik dengan sumber daya yang melimpah di Indonesia. Hal itu diungkapkan Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto.

Menurut Mulyanto, pembangkitan listrik harus tetap mengacu pada situasi di Tanah Air. Pemerintah Indonesia jangan latah dengan dunia internasional yang ramai-ramai menghentikan pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).


“Walaupun kita sudah mengakui investment plan dari Just Energy Transition Partnership/JETP yang di dalamnya mengatur kebijakan investasi untuk penghentian PLTU, pemerintah tetap harus mengutamakan sumber daya dalam negeri,” tegas dia kepada media.

Menurutnya, jangan sampai kesepakatan internasional tersebut justru menyulitkan Indonesia, terutama masyarakatnya dalam memperoleh energi listrik. “Pemerintah harus tetap menjamin ketersediaan listrik secara aman dan terjangkau,” kata dia.

Dia melanjutkan, Indonesia jangan secara gegabah meninggalkan energi yang dimiliki lalu mengimpor sumber daya dari luar. “Kita harus optimalkan kondisi sumber daya yang dimiliki untuk pembangkitan listrik di Tanah Air,” tuturnya.

ADVERTISEMENT

Yang jelas, papar Mulyanto, pada kesepakatan apapun dengan pihak luar, pemerintah harus berhati-hati menjaga kepentingan dalam negeri, terutama yang terkait dengan daya beli masyarakat secara luas.

“Jangan sampai kita harus impor, karena impor justru menyulitkan daya beli masyarakat. Itu namanya sudah jatuh tertimpa tangga,” kata dia.

Pernyataan bernada imbauan itu diungkap Mulyanto seusai mengunjungi PLTU Suralaya yang shutdown unit sebesar 1,6 GW sejak 29 Agustus 2023. Saat itu Mulyanto juga memastikan bahwa emisi operasional PLTU Suralaya sudah terkelola dengan baik.

Sebagaimana diketahui, PLTU Suralaya sempat dituding sebagai kambing hitam penyebab polusi udara di Jakarta. Namun yang terjadi saat PLTU tersebut shutdown, kualitas udara tidak kunjung membaik pada 30-31 Agustus. Pada tanggal itu, Indeks IQAir masih pada posisi 163 atau tidak sehat.

Tercatat, kualitas udara membaik justru saat penerapan 75% WFH aparatur sipil negara (ASN) yang bekerja di Jakarta. “Hal itu membuktikan bahwa PLTU Suralaya bukan penyebab memburuknya kualitas udara di Jakarta,” kata Mulyanto.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 12 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 23 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 27 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia