Kamis, 14 Mei 2026

2045, Permintaan Sawit Domestik untuk Energi Capai 40 Juta Ton

Penulis : Tri Listiyarini
20 Jun 2024 | 09:10 WIB
BAGIKAN
Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang sudah mencampurkan energi terbarukan ke dalam minyak solar mencapai 30% melalui Biodiesel B30.
Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang sudah mencampurkan energi terbarukan ke dalam minyak solar mencapai 30% melalui Biodiesel B30.

JAKARTA, investor.id–Permintaan minyak sawit untuk pemenuhan kebutuhan energi domestik pada 2045 diperkirakan 22,4-40,12 juta ton, naik pesat dari 2023 yang hanya 10,64 juta ton. Karena itu, produksi minyak sawit nasional pada 2045 harus mencapai 86,51 juta ton dari 2023 yang masih 50,06 juta ton.

Peningkatan produksi minyak sawit sebesar itu hanya bisa dilakukan dengan melakukan peremajaan sawit (replanting) 120 ribu hektare (ha) setiap tahun mulai 2025.

Direktur Perencanaan dan Pengelolaan Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Kabul Wijayanto mengatakan, permintaan (demand) minyak sawit pada 2045 akan sangat besar dan itu harus dibarengi dengan peningkatan produksi. Data yang diolah BPDPKS dari berbagai asosiasi hulu-hilir sawit, permintaan untuk ekspor pada 2045 diperkirakan mencapai 33,19 juta ton.

ADVERTISEMENT

Pada 2045, kebutuhan domestik untuk pangan diproyeksikan 15,34 juta ton, energi (biodiesel) 22,4 juta ton (B35) dan menjadi 40,12 juta ton apabila ditingkatkan menjadi B100, serta oleokimia 10,68 juta ton. “Total kebutuhan atau demand minyak sawit nasional pada 2045 diperkirakan 81,61 juta ton, sehingga produksi harus bisa 86,51 juta ton. Bisa 86,51 juta ton asalkan replanting tiap tahun 120 ribu ha mulai 2025, kalau tidak bisa ya turun (produksi) jadi 44 juta ton, lebih turun lagi dari sekarang,” ungkap Kabul.

Saat seminar bertajuk Menakar Keseimbangan Produksi CPO untuk Kebutuhan Domestik dan Ekspor: Urgensi dan Tantangan yang dipantau dari kanal media sosial Warta Ekonomi, Rabu (19/06/2024), Kabul menjelaskan, pemerintah telah menggeber replanting dengan menggalakkan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang didanai dari pungutan ekspor sawit yang dihimpun oleh BPDPKS.

Tujuannya, memacu produktivitas agar produksi sawit meningkat. Apabila produktivitas makin menurun, bisa timbul masalah ketidakcukupan dalam memenuhi permintaan yang kian besar. “Peningkatan produktivitas dilakukan dengan PSR. Kami menargetkan replanting melalui PSR seluas 120 ribu ha di 2024, tapi faktanya selama BPDPKS ada (berdiri) itu paling tinggi realisasinya 97 ribu ha,” jelas Kabul.

Editor: Tri Listiyarini

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 11 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 28 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 58 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 1 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia