Sabtu, 4 April 2026

Ikan Belida, Primadona Sungai Musi yang Bangkit dari Kepunahan

Penulis : Imam Suhartadi
16 Sep 2024 | 10:25 WIB
BAGIKAN
Area Manager Communication Relations & CSR Kilang Pertamina International Unit Plaju Siti Rachmi Indahsari melihat proses inseminasi ikan belida pada saat kunjungan Program CSR Kilang Pertamina International Unit Plaju Belida Musi Lestari di Universitas PGRI, Palembang, Sumatera Selatan pada Senin (9/9/2024).
Area Manager Communication Relations & CSR Kilang Pertamina International Unit Plaju Siti Rachmi Indahsari melihat proses inseminasi ikan belida pada saat kunjungan Program CSR Kilang Pertamina International Unit Plaju Belida Musi Lestari di Universitas PGRI, Palembang, Sumatera Selatan pada Senin (9/9/2024).

PALEMBANG, investor.id - Ikan belida adalah salah satu jenis ikan endemik di Indonesia yang merupakan penghuni perairan Sungai Musi dan anak sungai yang lain. Ikan belida termasuk ikan konsumsi dan ikan hias dengan nilai ekonomis tinggi.

Dahulu, ikan belida sangat mudah di temukan hidup liar di perairan Sungai Musi dan anak-anak sungainya.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, ikan belida mulai sulit ditemukan di perairan Sumsel. Hal tersebut disinyalir terjadi akibat tingginya konsumsi daging ikan belida tidak berimbang dengan kecepatan reproduksinya di alam bebas.

Advertisement

Selain itu, kerusakan ekosistem dan minimnya pelestarian habitat ikan belida dinilai menjadi faktor eksternal penyebab langkanya ikan belida.

Berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) Kelautan dan Perikanan Nomor 1 tahun 2021 tentang Jenis Ikan yang Dilindungi, ada empat spesies famili Notopteridae yang dilindungi yaitu Chitala Lopis, Chitala Boorneensis, Chitala Hypselonotus dan Notopterus Notopteru.

Menurut ahli, mayoritas ikan belida di Indonesia masuk dalam spesies Chitala lopis.

Ikan Belida, Primadona Sungai Musi yang Bangkit dari Kepunahan
Ikan belida generasi satu yang berhasil dibesarkan hasil dari indukan belida yang merupakan Program CSR Kilang Pertamina International Unit Plaju Belida Musi Lestari di Universitas PGRI Palembang, Sumatera Selatan pada Senin (9/9/2024)

Karena termasuk ikan yang dilindungi maka bagi masyarakat yang menangkap ikan belida akan dikenakan sanksi pidana Pasal 100 junto Pasal 7 ayat 2 huruf C Undang-undang RI Nomor 45 tahun 2009, tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 tahun 2004 Tentang Perikanan dengan denda maksimal Rp250 juta.

Sedangkan untuk yang pengepul atau penadah lalu mendistribusikan dikenakan sanksi pasal siup yakni, Pasal 92 junto pasal 26 ayat 1 tentang perikanan dengan denda Rp1,5 miliar.

Menurut IUCN Redlist, spesies Chitala termasuk dalam kategori Least Concern yang mengindikasikan tingkat risiko kepunahannya di Indonesia masih rendah, kecuali untuk C lopis yang sebelumnya dianggap punah. Maka dari itu status konservasi IUCN perlu dievaluasi pada sebaran C lopis di Indonesia bukan hanya di Jawa.

Warga Sumsel memang sudah terbiasa mengonsumsi daging ikan belida sejak dulu. Ikan belida biasanya  diolah menjadi pindang, pempek, kerupuk atau kemplang. Konon, dari sinilah awal mula melekatnya simbol ikan belida dengan keseharian masyarakat Palembang.

Logo ikan belida pun masih bisa dijumpai di berbagai bungkus suvenir khas Palembang seperti kerupuk dan kemplang, karena pada dasarnya, ikan yang pertama menjadi bahan dasar pembuatan kedua penganan tersebut adalah ikan belida.

Meski kebanyakan pempek di Palembang kini dibuat dari daging ikan tenggiri dan gabus, namun ikan belida nyatanya tetap dianggap sebagai bahan terbaik untuk membuat pempek. Selain karena dagingnya lebih padat dan putih, baunya setelah dicampur dengan tepung pun  tak amis jika dibandingkan dengan ikan lain yang sering dijadikan pempek.

Konon, ikan belida paling disukai kaum ningrat Kesultanan Palembang, baik digoreng, dibuat pepes, atau dijadikan bahan baku pempek.

Karena itu, mengkonsumsi ikan belida menjadi nilai sosial tersendiri di masyarakat, karena terkesan mewah.

Bahkan, untuk mengingatkan pentingnya ikan belida maka dibangunlah Tugu Ikan Belido dan kini menjadi salah satu icon kebanggaan Kota Palembang yang lokasinya berada di jantung kota.

Tugu Ikan Belido yang diresmikan Februari 2018 ini memiliki tujuan untuk membangkitkan kembali semangat masyarakat tentang pentingnya menjaga habitat ikan belida yang dulu pernah menjadi ekosistem penting Sungai Musi dan sekaligus menjadi sumber pangan masyarakat.

Untuk menangkal ikan belida dari kepunahan, PT Kilang Pertamina Internasional Unit Plaju berkolaborasi dengan Universitas PGRI Palembang (UPGRIP) yakni Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) dan Pusat Riset Konservasi Sumber Daya Laut dan Perairan Darat – Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN). melakukan riset konservasi Ex-Situ Ikan Belida pada lingkungan akuakultur dengan teknologi maturasi, pemijahan dan pembenihan yang berlokasi di Kampus C FPK UPGRIP.

Di UPGRIP, saat ini ada sekitar 176 ekor bibit indukan ikan belida yang sedang diteliti dan konservasi.

“Sementara itu, sebagian ikan belida lainnya dititipkan kepada Kolam Animalium BRIN di daerah Cibinong,” kata Area Manager Communication, Relations & CSR PT KPI Unit Plaju, Siti Rachmi Indahsari saat berkunjung ke Kampus C Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas PGRI Palembang, Senin (9/9/2024).

Sebelumnya Kilang Plaju telah menggelar program Belida Musi Lestari berupa riset konservasi Ikan Belida dan budi daya perikanan lokal konsumsi Sumsel terintegrasi. Program ini awalnya ditujukan untuk pelestarian dan budidaya ikan belida lopis (Chitala lopis), melibatkan masyarakat binaan yang membudidayakan ikan yang masuk kategori dilindungi tersebut.

Ikan Belida, Primadona Sungai Musi yang Bangkit dari Kepunahan
Dari kiri ke kanan (Siti Rachmi Indahsaru, Area Manager Communication, Relation & CSR PT KPI RU III Plaju, Rektor Universitas PGRI Palembang Assoc. Prof Dr.H. Bukman Lian M.M, M.si, Dr. S.St.Pi, M.M , Peneliti BRIN).

Program tersebut diharapkan bisa menjadi salah satu solusi untuk menyelamatkan ikan belida dari ancaman kepunahan akibat masalah lingkungan dan aktivitas manusia. Berdasarkan data, pada 2021 melalui Program Belida Musi Lestari berhasil melakukan konservasi 47 ekor ikan belida, dengan survival rate sebesar 51%.

Sebelumya pada 2020, dapat diselamatkan sekitar 30 ekor ikan belida dengan inovasi permodelan habitat alami. Pada 2019, dapat diselamatkan sekitar 17 ikan belida dari perdagangan bebas dan melakukan edukasi ke nelayan.

Melalui Program Belida Musi Lestari, lanjut dia, maka berhasil dilakukan langkah sistematis untuk penyelamatan melalui konservasi ikan belida dimana dilakukan riset domestikasi ikan belida, pengembangan inovasi pemijahan ikan belida, pemenuhan suplai pakan ikan belida, serta melakukan edukasi dan sosialisasi ikan belida .

Selain itu, melalui program ini juga dilakukan budidaya perikanan air tawar terintegrasi dengan melakukan upaya sentra pemijahan ikan, optimasi pembesaran ikan, pengembangan pakan alternatif, dan diversifikasi produk olahan perikanan.

Program ini juga mengembangkan perkawinan semi-buatan dan inovasi kriokonservasi bank semen ikan belida lopis dan ikan belida jawa.

Program domestikasi ikan belida ini sangat penting dalam menjaga keanekaragaman hayati dan restocking populasi ikan belida ke alam. Upaya konservasi ini harus dapat ditransfer dan dilakukan oleh masyarakat pembudidaya ikan.

Selain itu, Kilang Plaju melibatkan masyarakat melalui kemitraan dengan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan). Salah satunya adalah Pokdakan Tunas Makmur. Sebelumnya KPI Unit Plaju bekerja sama dalam penyusunan kurikulum untuk buku cinta belida dan tanggap bencana yang di sosialisasikan untuk anak – anak usia sekolah.

"Cita-cita besar Pertamina adalah secara bertahap ingin mengembangkan ikan belida menuju konservasi in-situ dan berujung pada meningkatnya populasi ikan belida sehingga bisa keluar dari status hewan dilindungi secara penuh," ujar Siti Rachmi.

Road Map Program

Berdasarkan road map yang telah ditetapkan maka pada 2024 dilakukan integrasi perikanan untuk Musi Berkelanjutan dimana dilakukan optimasi reproduksi ikan belida. Selain itu, dilakukan suplementasi hormonal dan ekspresi Gen GH dan IGF.

“Kami juga akan melakukan suplementasi pakan dengan ikan lokal dan ujicoba pelet,” katanya.

Siti Rachmi melanjutkan, Pertamina Kilang Plaju juga akan melakukan pengembangan proses usaha pembenihan ikan dan pengembangan siklus pakan ikan mandiri. “Kami juga ingin mengembangkan produk UMKM dan olahan PMT MPASI,” tambahnya.

Sedangkan pada 2025 dilakukan pengembangan teknologi kriokonservasi bank semen, transisi domestikasi Belida Jawa (putak) berbasis masyarakat, serta pengembangan koperasi pakai perikanan berbasis masyarakat dan pendampingan pemasaran UMKM perikanan.

“Kami berharap pada 2026 bisa terbangun pusat edukasi perikanan air tawar yang melakukan domestikasi ikan belida, pakan berdikari, benih berdikari, dan produk UMKM berdikari,” katanya.

Pada 2026, kata dia, diharapkan akan terbentuk Desa Perikanan Berdikari di Desa Sungai Gerong, Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin, Sumsel. Desa ini akan berperan sebagai sentra produksi pakan ikan, sentra pembenihan perikanan, dan sentra olahan perikanan berdikari dan terintegrasi.

Dia menambahkan program pelestarian ini menunjukkan usaha KPI Unit Plaju dalam mendukung terwujudnya tujuan kelima belas yang tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yakni menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati.

Melalui konservasi ikan belida, sambung dia, Kilang Pertamina Plaju juga turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 14, yang berfokus pada kehidupan bawah air.

Program konservasi ikan belida ini tidak hanya melibatkan rehabilitasi ekosistem air tetapi juga berkontribusi pada pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar, sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). “Mimpi kami bersama bahwa suatu saat ikan belida akan kembali berenang bebas di Sungai Musi,” katanya.

Prioritas Perlindungan

Di tempat yang sama, Peneliti dari Pusat Riset Konservasi Sumber Daya Laut dan Perairan Darat (BRIN), Dr. Boby Muslimin mengatakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengeluarkan daftar baru 19 ikan yang dilindungi karena terancam punah, salah satunya ikan belida.

Sebagai informasi, ikan belida ini tersebar di paparan Sunda, yaitu Belida Jawa (Chitala lopis) tersebar di pulau Jawa, Belida Sumatera (Chitala hypselonotus) tersebar di pulau Sumatera, dan Belida Kalimantan (Chitala borneensis), serta Belida Jawa (Notopterus notopterus.

Keempat jenis Ikan Belida ini menjadi prioritas perlindungan pemerintah melalui Kepmen Kelautan dan Perikanan No. 1 tahun 2021 dan Perpres No. 34 tahun 2022 dengan status dilindungi penuh. Ikan yang di lindungi ini perlu dilestarikan dan dibudidayakan sehingga komoditas ini tidak punah.

Kerja sama PT Kilang Pertamina Internasional Unit Plaju dengan Universitas PGRI Palembang (UPGRIP) yakni Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) dan Pusat Riset Konservasi Sumber Daya Laut dan Perairan Darat – Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) ini pada 2018-2022 diarahkan untuk keberhasilan pada pemijahan alami di Pokdakan dan BRPPUPP KKP.

Sedangkan pada 2023, kata dia, fokusnya pada transportasi dan identifikasi genetik. Dia mengakui tantangan dalam pembudiyaan ikan belida sendiri yakni dalam proses pemindahan. Diketahui, indukan Ikan Belida di Kampus C didatangkan langsung dari Riau, Kalimantan, Jawa, Lampung, dan Sumatera Selatan.

Ikan Belida, Primadona Sungai Musi yang Bangkit dari Kepunahan
Ilustrasi Sungai Musi dan Jembatan Ampera (wikipedia)

“Ikan belida ini kan dari antar pulau dalam durasi lebih 24 jam harus dilakukan pengaturan yang tepat, karena dalam proses pemindahan itulah ikan belida akan rentan mati, oleh karena itu ada ruangan karantina khusus untuk ikan belida,” kata Boby.

Hambatan lain dalam pembudidayaan ikan belida yakni untuk pengembangan ikan agar menghasilkan telur.

“Itu juga masih menjadi PR yang akan dikembangkan saat ini, tetapi, bisa dengan diberikan suplemen dan lainnya yang sesuai, sehingga untuk massa kehamilan ikan belida atau menghasilkan telurnya diharapkan bisa dalam satu tahun dua atau tiga kali,” terang Boby.

Pada 2024, kata dia, BRIN akan fokus pada rekayasa lingkungan dan reproduksi. Selanjutnya pada 2025, lanjut dia, dilakukan identifikasi Nutrient ikan belida.

Dia juga menyebutkan sejumlah keberhasilan inovasi dan riset ikan belida yang dilakukan BRIN yaitu kriokonservasi sperma ikan belida, modernisasi wadah pemeliharaan ikan belida denngan Bak Recirculation Aquaculture System (RAS), dan pemijahan semi buatan.

Dia berharap teknologi reproduksi dapat membantu produksi benih ikan belida untuk restocking. Selanjutnya, diharapkan teknologi tepat guna pengangkutan, pemeliharaan induk, wadah pemeliharaan urban, dan perkawinan semi -buatan dapat dimanfaatkan untuk masyarakat pembudidaya untuk pelestarian ikan belida berkelanjutan.

“Kami juga berharap pengembangan teknis penetasan telur, dan pembesaran larva Ikan Belida yang presisi. Pada akhirnya, status perlindungan Ikan Belida dapat diturunkan dengan pengembangan riset budidaya pada setiap gnerasi hingga G2,” ucapnya.

Sementara itu, Rektor UPGRIP. Prof. Dr. H.Bukman Lian, M.M..M.Si berharap melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit III Plaju ini dapat menyelamatkan ikan belida dari kepunahan.

Sebagai informasi launching konservasi Ex situ ikan belida dilaksanakan di Kampus C PGRI Palembang, Kecamatan Sematang Borang Palembang, pada 27 September 2023 .

“Harapan kami Suatu saat ikan belida kita lepas di sembilan sungai di Sumsel yang dikenal dengan Batang Hari Sembilan. Ini obsesi kami, bahwa konservasi ikan belida ke depannya akan  berkelanjutan. Ada 176 ikan belida dengan tiga spesies yang sudah dilakukan proses bersama BRIN,” ujar Bukman.

Langkah konservasi dan keberhasilan penetasan bukanlah akhir dari perjalanan ikan belida, tetapi awal dari peradaban baru.

Sebab, pada akhirnya, ikan belida ini harus kembali dikembalikan ke habitat aslinya di Sungai Musi.

Sungai Musi yang panjangnya 750 kilometer itu diharapkan bisa kembali menjadi rumah yang nyaman bagi ikan belida untuk tumbuh dan berkembang sehingga ekosistem perairan bisa terus terjaga.

Keragaman hayati di Sungai Musi memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Ikan-ikan termasuk belida membantu menjaga populasi plankton dan serangga air, sementara tumbuhan air membantu menjaga kualitas air dan menyediakan habitat bagi berbagai jenis hewan.

Sedangkan bagi masyarakat, keberadaan ikan ini bisa menjadi sumber pangan dan ekonomi yang diandalkan bagi masyarakat yang menetap di sekitar Sungai Musi. Jangan sampai ikan belida  di masa mendatang hanya menjadi dongeng semata karena punah, tetapi diharapkan ikan yang lezat dan kaya protein ini  habitatnya tetap terus terjaga lestari menjaga sungai musi.


 

Editor: Imam Suhartadi

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 3 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Sabtu 4 April 2026: Kokoh

​​​​​​​Harga emas Antam (ANTM) terpantau kokoh pada hari ini, sabtu (4/4/2026). Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 3 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Sabtu 4 April 2026: Kokoh

​​​​​​​Harga emas Antam (ANTM) terpantau kokoh pada hari ini, sabtu (4/4/2026). Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 3 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Sabtu 4 April 2026: Kokoh

​​​​​​​Harga emas Antam (ANTM) terpantau kokoh pada hari ini, sabtu (4/4/2026). Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 4 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Sabtu 4 April 2026: Kokoh

​​​​​​​Harga emas Antam (ANTM) terpantau kokoh pada hari ini, sabtu (4/4/2026). Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 8 menit yang lalu

Masuk Saham Terkonsentrasi Tinggi, Laba Samator (AGII) Merosot

Laba bersih Samator Indo Gas (AGII) merosot 44,37% pada 2025, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
International 16 menit yang lalu

Kadin: Perang Lumpuhkan Ekonomi Timur Tengah, Biaya Kirim Melonjak 3 Kali

Kadin ungkap dampak perang Iran-AS: Biaya logistik naik 3 kali lipat & pengiriman barang molor hingga 2 bulan. Cek dampaknya bagi Indonesia.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia