Indonesia Gabung BRICS Bermanfaat Ekonomi dan Stabilitas
JAKARTA, investor.id - Bergabungnya Indonesia dengan BRICS diperkirakan akan memberikan banyak manfaat bagi Indonesia di bidang ekonomi, perdagangan, stabilitas mata uang, hingga diplomasi internasional. Hal tersebut disampaikan para pakar dalam diskusi yang digelar Ikatan Alumni Hubungan Internasional Universitas Padjajaran (IKAHI Unpad).
Hadir dalam diskusi tersebut, Duta Besar Indonesia untuk Rusia Jose Antonio Morato Tavares. Ia menjelaskan berbagai manfaat sekaligus tantangan yang dapat diraih Indonesia dari keanggotaan ini, terutama dalam bidang ekonomi dan geopolitik. Menurut Jose, BRICS menawarkan peluang besar untuk memperkuat perdagangan dan pasar Indonesia.
“Saat ini, 62% dari total produksi kelapa sawit Indonesia diimpor oleh negara-negara anggota BRICS. Dengan populasi BRICS yang mencapai 45% populasi dunia—sekitar 900 juta orang—keanggotaan ini memberikan akses pasar yang besar dan memperlancar perdagangan di antara anggotanya,” tutur Jose Antonio Morato Tavares dalam rilis resmi IKAHI Unpad di Jakarta, Selasa (21/01/2025).
Jose juga menyoroti kekuatan ekonomi BRICS yang mencapai 35% dari Produk Domestik Bruto (GDP) dunia berdasarkan purchasing power parity (daya beli masyarakat), lebih tinggi dibandingkan G7 yang hanya 30%. Meski demikian, ia mengingatkan perlunya kewaspadaan menghadapi tantangan ekonomi global yang saat ini lesu.
“Jembatan ini efektif karena posisi politik luar negeri kita yang bebas aktif,” ujar Jose Antonio Morato Tavares.
Sementara itu, Deputi Stabilisasi Harga Kementerian Koordinator Pangan Siradj Parwito, mendukung langkah Indonesia bergabung ke BRICS. Ia menyebut New Development Bank (NDB)—bank pembangunan milik BRICS—sebagai sumber alternatif pembiayaan untuk proyek-proyek pembangunan Indonesia.
“Dana NDB dapat digunakan untuk mendanai proyek-proyek berisiko tinggi yang sulit menarik minat investor swasta, seperti proyek energi geotermal. Kata kuncinya adalah bankable. Dengan pendanaan ini, proyek-proyek kita yang berisiko tinggi bisa direstrukturisasi agar lebih menarik bagi investor,” jelas Siradj.
Indonesia Buka Kans Beli Minyak dari Rusia, usai Bergabung BRICS
Staf pengajar Politik Luar Negeri, di Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Irman Gurmilang Lanti menilai kebijakan ini diambil tanpa diskusi publik yang memadai. Menurutnya, perdebatan justru muncul setelah Indonesia melamar sebagai anggota BRICS.
“(Mahluk) Apa ini? Untung ruginya baru dibahas. Ini jadi terbalik, ibaratnya bukan ‘kuda menarik kereta, tapi kereta menarik kuda’, artinya keputusan diumumkan sebelum analisis mendalam dilakukan,” papar Irman.
Editor: Ichsan Amin
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





