Jumat, 15 Mei 2026

Bulog Butuh Dana Rp 57 Triliun untuk Dukung Swasembada Pangan Prabowo

Penulis : Erfan Ma’ruf
22 Jan 2025 | 18:19 WIB
BAGIKAN
Petugas mengecek stok beras di gudang Perum Bulog Umbul Tengah, Kota Serang, Banten, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)
Petugas mengecek stok beras di gudang Perum Bulog Umbul Tengah, Kota Serang, Banten, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)

JAKARTA, investor.id – Perum Bulog membutuhkan dana sebesar Rp 57 triliun dalam satu tahun guna mengelola beras sebanyak 4,7 juta ton. Estimasi nilai kebutuhan dana tersebut dihitung sejalan instruksi kepada Bulog untuk menyerap 3 juta ton beras dari petani.

Direktur Keuangan Bulog, Iryanto Hutagaol menjelaskan, sesuai arahan Menko Pangan, Zulkifli Hasan, Bulog diminta untuk menyerap 3 juta ton beras pada tahun 2025. Sedangkan, saat ini stok beras Bulog sebanyak 1,7 juta ton.

Dengan estimasi 4,7 juta ton beras dan harga pembelian pemerintah (HPP) beras dengan asumsi Rp 12.000, maka dana yang dibutuhkan berdasarkan hitungan Bulog adalah sekitar Rp 57 triliun.

ADVERTISEMENT

“Kurang lebih Rp 57 triliun harus kita sediakan dalam mengelola beras ini oleh pemerintah… Dan kami kurang lebih 10% biaya pengelolaan, dan itulah yang kita butuhkan setiap tahun,” kata Iryanto di Kantor Bulog, pada Rabu (22/1/2025).

Dia menerangkan, saat ini Bulog sedang berbicara dengan pemerintah untuk memberikan bantuan pendanaan yang lebih terstruktur. Sementara sekarang, pendanaan yang dibutuhkan Bulog masih berasal dari perbankan.

“Kalau struktur kita dibantu oleh pemerintah, (skemanya) nanti pemerintah sebagian memberikan APBN-nya langsung kepada kita. Nah sementara ini kami bisa recovery dari revenue atau pendapatan kita adalah pada saat kita menyalurkan, di situlah pemerintah membeli beras kami dan itulah menjadikan recovery pendapatan kami,” ujar Iryanto.

“Jadi kira-kira kita beli dulu kita simpan, perbaiki, rapikan, salurkan, dan kita mendapat bayaran kira-kira seperti itu,” lanjut Iryanto.

Iryanto menyatakan, Bulog masih bisa bertahan sampai saat ini karena skema pendanaan yang berasal dari perbankan tersebut, kendati beban berat harus diterima. Ia pun mengakui pendekatan itu adalah konsekuensi untuk memastikan Bulog tetap mampu menjalankan tugas dari pemerintah.

“Tentunya nanti ada transisi dari bentuk pembangunan Bulog, nanti kita lihat sejauh mana kita akan bisa survive untuk membantu dalam pengadaan dan penyaluran beras pemerintah atau pangan pemerintah,” ujar Iryanto.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 38 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 42 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 3 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 3 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia