Gerak Cepat Manfaatkan Potensi EBT untuk Otomotif
JAKARTA, Investor.id - Potensi energi di Indonesia masih belum dimanfaatkan secara maksimal dan menjadi dorongan bagi pemerintah untuk bergerak lebih cepat dalam memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT), terutama untuk sektor otomotif.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, produsen otomotif nasional Toyota bukan lagi sekadar perusahaan otomotif, tetapi berkembang menjadi usaha energi yang berkontribusi besar dalam transisi menuju energi bersih.
“Saya berpikir Toyota telah menjadi usaha energi, bukan lagi otomotif. Komitmen Toyota terlihat dengan melibatkan banyak pihak mulai dari akademisi, kementerian dan lembaga terkait, hingga kelompok masyarakat,” kata Faisol saat mengunjungi pameran Carbon Neutrality (CN) Mobility Event yang digelar Toyota Indonesia di di Gambir Expo area Indonesia Internationl Motor Show (IIMS) 2025, Kemayoran Jakarta Pusat, Kamis (13/2/2025).
Mengusung tema “Beyond Zero: Mobilitas untuk Netralitas Karbon”, kegiatan yang berlangsung 12-15 Februari 2025 ini merupakan jembatan untuk penyelenggaraan Annual Indonesia Green Industry Summit (AIGIS) kedua oleh Kemenperin pada 2025 dalam rangka mewujudkan industri hijau untuk mengurangi dampak negatif karbon, menjaga ketahanan energi nasional, dan keberlanjutan lingkungan untuk masa depan yang lebih baik.
“Ini harus diakui dan diapresiasi, karena seharusnya kerja besar ini dilakukan pemerintah, tapi Toyota justru lebih cepat dari yang direncanakan,” sambung dia.
Menurut Faisol, inisiatif Toyota Indonesia dalam mengembangkan konversi kendaraan berbahan bakar internal combustion engine (ICE) menjadi kendaraan listrik patut diapresiasi. Salah satu prototipe yang sedang dikembangkan adalah Toyota Innova listrik.
“Toyota sedang merancang konversi mobil ICE ke mobil industri listrik. Ada prototipenya Toyota Innova, kelihatannya sangat memungkinkan. Sekarang tinggal menghitung skala ekonomis serta bentuk insentif yang bisa diberikan pemerintah untuk mendukung rencana dekarbonisasi,” sambung dia.
Kepala Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Apit Pria Nugraha menegaskan, industri otomotif menjadi salah satu kunci dalam upaya pengurangan emisi karbon Indonesia. Sektor transportasi mampu menyumbang 6,8% dari PDB nasional. Tetapi, di saat yang bersamaan, sektor ini menyumbang 159 MtCO₂eq terhadap total emisi karbon nasional.
Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan mencapai 5,2% pada 2025, dia menegaskan, transisi menuju transportasi rendah karbon menjadi makin penting untuk mengurangi dampak lingkungan tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi.
“Ekosistem industri hijau yang sedang dikembangkan Kemenperin untuk membantu pencapaian net zero emission salah satunya adalah pengembangan konsep Green Industry Service Company (GISCO) yang dapat menjadi solusi bagi industri dalam menerapkan teknologi rendah karbon,” ujar dia.
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now




