Jumat, 15 Mei 2026

AS Terapkan Tarif Impor 32%, Petani Berharap Ekspor Sawit RI Bebas BK dan PE 

Penulis : Tri Listiyarini
9 Apr 2025 | 08:34 WIB
BAGIKAN
Ketua Umum Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Nasional Sabarudin bersama sejumlah anggotanya berfoto bersama, baru-baru ini. (Foto : Istimewa)
Ketua Umum Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Nasional Sabarudin bersama sejumlah anggotanya berfoto bersama, baru-baru ini. (Foto : Istimewa)

JAKARTA, investor.id-Kalangan petani berharap Pemerintah Indonesia membebaskan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) serta turunannya dari bea keluar (BK) dan pungutan ekspor (PE), menyusul pengenaan tarif impor hingga 32% oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS). Dengan upaya itu diharapkan daya saing komoditas sawit nasional di pasar global, terutama AS, tetap kuat. Efeknya, keberlangsungan nasib para petani sawit di Tanah Air selalu terjaga.

Menurut Ketua Umum Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Nasional Sabarudin, perdagangan dunia bakal mendapat berbagai distorsi baru akibat efek samping kebijakan AS itu, termasuk komoditas sawit. Keberadaan kebijakan BK dan PE oleh Pemerintah RI diperkirakan kian memperberat kondisi ekonomi perkebunan sawit milik petani nasional.

Sebab, sawit telah mendapat distorsi berat akibat terkena dampak pajak impor 32% yang diterapkan AS. "Karena itu, SPKS meminta kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk menurunkan BK dan PE terhadap CPO dan produk turunannya, bisa diturunkan menjadi 0%. Sambil terus memperhatikan gejolak ekonomi yang akan timbul akibat penerapan tarif dagang baru AS tersebut," jelas Sabarudin. 

ADVERTISEMENT

Seperti digambarkan para pakar ekonomi, perdagangan dunia akan menuai gelombang badai akibat tarif dagang tinggi yang diterapkan Presiden AS Donal Trump secara sepihak. Oleh AS, Indonesia dikenai tarif hingga 32%. “Akan timbul badai ekonomi baru di perdagangan global sebagai reaksi pemberlakuan tarif dagang tinggi AS," ujar Sabarudin.

Diskusi perdagangan dunia yang selama ini fokus di hambatan perdagangan tarif dan nontarif, dengan tarif dagang baru yang sangat besar oleh AS maka seolah-olah meniadakan semua perundingan dagang yang dilakukan selama ini. "Dampak tarif 32% oleh AS akan dirasakan langsung oleh petani sawit RI, harga jual hasil panen tandan buah segar (TBS) akan terpengaruh. Lantaran, sesuai hukum ekonomi, tiap ada beban baru maka itu akan terdistribusi hingga ke rantai paling lemah. Dan, posisi paling lemah sepanjang mata rantai produksi sawit secara umum itu petani," tutur dia.

Sabarudin menyatakan, adanya keputusan tarif dagang Presiden Trump akan mendistorsi permintaan CPO dan produk turunannya sehingga akan menurunkan harga jual TBS hasil panen petani. SPKS Nasional memperkirakan, harga TBS akan turun 2-3% atau sekitar Rp 60-100 per kilogram (kg). Turunnya harga jual petani tersebut tentu akan terbantu dengan diturunkannya BK dan PE hinga 0%, sehingga harga jual TBS hasil panen petani akan stabil. "Karena itu, penting dan butuh dilakukan penurunan BK dan PE menjadi 0% secepat mungkin," tutur dia.

Melalui antisipasi sedini mungkin, melalui pembebasan BK dan PE pada ekspor, SPKS Nasional berharap kondusifitas perkebunan sawit tetap terjaga keberlangsungannya. "Kondisi ini sangat penting bagi petani supaya kinerja perkebunan sawit dapat terus meningkatkan produktivitasnya, sehingga membantu negara menghasilkan devisa dari penjualan CPO dan produk turunannya," papar Sabarudin.

Penihilan BK dan PE dalam ekspor juga bentuk perlindungan pemerintah atas industri sawit nasional secara holistik. Untuk itu, seiring penerapan pajak impor oleh AS hingga 32% untuk produk dari Indonesia, SPKS Nasional mendorong kebijakan Pemerintah RI yang berpihak ke petani sawit dengan menurunkan BK dan PE hingga 0%. Pasalnya, kenaikan pajak impor di AS sebagai negara tujuan ekspor sawit nasional akan berdampak ke turunnya harga jual panen petani.

Editor: Tri Listiyarini

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 7 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 11 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 49 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 53 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia