Pertumbuhan Sektor EBT Berpotensi Meledak
JAKARTA, investor.id – Kontribusi sektor energi baru terbarukan (EBT) berpotensi meledak dengan pertumbuhan dua kali lipat bahkan lebih dari semula di bawah 20% menjadi 40-50% terhadap total kontribusi energi nasional.
Founder & CEO Finvesol Consulting Indonesia Fendi Susiyanto menilai, prospek sektor energi terutama EBT masih sangat menjanjikan karena mempunyai ruang (room) atau potensi yang lebar untuk terus dikembangkan.
“Kita punya minihidro 450 megawatt (MW), biomassa sekitar 50-an gigawatt dan energi angin, bahkan nuklir. Tapi, kami melihat masih ada lagging. Jadi, penting bagaimana potensi bahan baku tersebut dikembangkan secara konstruktif untuk bisa mendukung energi atau net zero emission (NZE) pada 2060,” ungkap Fendi di acara Mineral Energi Forum yang diselenggarakan B-Universe bekerjasama dengan Kementerian ESDM di Hotel Kempinski, Jakarta, Senin (26/5/2025).
Jangan sampai, Fendi mengingatkan, investor asing yang justru melihat besarnya potensi pengembangan EBT di Tanah Air. Catatannya, kembali lagi pada sejauh mana komitmen pemerintah untuk secara konstruktif membuat program-program pengembangan energi menjadi lebih nyata.
Misalnya, Indonesia berkepentingan mengembangkan energi nuklir. Tentu, hal ini mampu diwujudkan melalui bantuan teknologi. Pemerintah, demikian disarankan Fendi, bisa meniru pemerintah Jerman dengan small modular reactor (SMR)-nya.
“Kita bisa belajar dari mereka mulai dari tantangan teknologi sampai tantangan sosialisasi kepada masyarakat,” tambah dia.
Sebab, menurutnya, jika dikomparasikan dengan Jerman, Indonesia memiliki tantangan dari sisi sumber daya manusia (SDM) terutama dalam upaya penerapan SMR tersebut.
Namun jika dilihat dari sisi bahan baku SMR, Fendi berterus terang, Indonesia mempunyai potensi kandungan bahan baku seperti uranium dan thorium yang tersebar luas di berbagai wilayah.
Titik-titik sebaran wilayah tersebut bisa dijadikan sebagai tempat untuk pembangkit tenaga nuklir. Tentunya, didukung dengan pengembangan secara simultan baik dari sisi SDM, pendanaan, termasuk sosialisasi kepada masyarakat.
Dengan begitu, Fendi meyakini, dalam lima tahun ke depan, Indonesia bakal mempunyai SMR di sejumlah tempat terutama di tempat-tempat yang belum terjangkau oleh energi-energi lain.
“Kalau kita lihat data di Kementerian ESDM, kontribusi EBT masih kecil atau di bawah 20% terhadap total kontribusi energi nasional. Karena itu, ruang improvement EBT ini luar biasa besar jika dikembangkan secara konstruktif dalam 10 tahun ke depan pertumbuhannya luar biasa,” katanya.
Paling tidak, Fendi menyebut, sektor EBT bisa memberikan sumbangsih terhadap energi nasional berkisar 40-50% dari posisi saat ini di bawah 20%. “Jadi, ke depan Indonesia tidak lagi bergantung pada energi-energi lain seperti minyak dan batu bara,” tutupnya.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

