Jumat, 15 Mei 2026

Perkuat Manufaktur untuk Genjot Pertumbuhan Ekonomi  

Penulis : Harso Kurniawan
5 Jun 2025 | 18:53 WIB
BAGIKAN
Pekerja mengoperasikan mesin untuk memproduksi pakaian rajut di Sentra Rajut Binong Jati, Bandung, Jawa Barat, Senin (6/1/2025). (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Pekerja mengoperasikan mesin untuk memproduksi pakaian rajut di Sentra Rajut Binong Jati, Bandung, Jawa Barat, Senin (6/1/2025). (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

JAKARTA, Investor.id – Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada kondisi global dalam memacu pertumbuhan ekonomi 8%. Sebaliknya, Indonesia harus membangun ketahanan dalam negeri, baik dari sisi penguatan industri manufaktur, stabilitas nilai tukar, maupun kebijakan fiskal. 

Direktur Utama PT Merak Chemicals Indonesia (MCCI), produsen purified terephthalic acid (PTA), produk tekstil hulu, Anang Adji Sunoto menegaskan, pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi tinggi, sebesar 8% dalam beberapa tahun ke depan. Demi mencapai target itu, diperlukan perlindungan terhadap sektor industri serta kebijakan yang mampu menarik investasi langsung.  Dengan iklim usaha yang kondusif, sektor industri akan berkembang dan membuka lebih banyak lapangan kerja. 

Anang menyatakan, meskipun ketidakpastian global masih tinggi, ada tanda-tanda perbaikan yang bisa dimanfaatkan oleh Indonesia. Per Mei 2025, berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 diperkirakan 3%, lebih besar dari proyeksi sebelumnya pada April 2025 yang mencapai 2,9%.

ADVERTISEMENT

Kenaikan proyeksi ini, kata dia, dipicu oleh adanya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok untuk menurunkan tarif impor selama 90 hari, yang berdampak positif terhadap aktivitas perdagangan global. Pertumbuhan ekonomi AS dan Tiongkok juga diprediksi membaik, yang kemudian ikut mendorong pertumbuhan ekonomi negara lain seperti Eropa, Jepang, dan India.

Namun, dia juga mengingatkan, faktor eksternal masih penuh dinamika. Ketegangan fiskal di AS, misalnya, tercermin dari yield US Treasury yang lebih tinggi dari perkiraan dan menciptakan potensi tekanan keuangan global baru. Di sisi lain, aliran modal global mulai bergeser ke negara berkembang (emerging markets) setelah sebelumnya mengalir ke aset-aset safe haven.

“Pada titik ini, kita tidak bisa hanya menunggu arah angin global, melainkan harus membangun ketahanan dalam negeri,” ujar Anang dalam talkshow Resiliensi Ekonomi Nasional di Tengah Dinamika Global di Jakarta, dikutip Kamis (5/6/2025). 

Dalam menghadapi tantangan global, Anang menegaskan, perlunya menciptakan iklim industri yang kompetitif namun tetap adil. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan kerap menimbulkan tantangan tersendiri, seperti tingginya biaya logistik dan distribusi, yang dapat mempengaruhi daya saing produk dalam negeri.

“Biaya logistik yang tinggi akibat kondisi geografis negara kepulauan ini menjadi tantangan nyata bagi pelaku industri dalam negeri. Agar industri kita bisa bersaing, perlu ada dukungan nyata dari pemerintah,” ujar dia 

MCCI, kata dia, mendukung kebijakan pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada industri dalam negeri melalui penerapan safeguard measures dan bea masuk anti-dumping (BMAD) partially oriented yarn dan draw textured yarn (POY-DTY). Langkah ini sangat penting untuk melindungi industri hulu tekstil dari praktik perdagangan yang tidak adil seperti dumping dan impor ilegal yang bisa merusak pasar domestik.

Di sisi lain, MCCI menerima penghargaan Best Liaison Contact dari Bank Indonesia (BI). Penghargaan ini diberikan atas kontribusi MCCI dalam dalam membantu penyusunan kebijakan ekonomi yang tepat dan responsif.

Penghargaan ini sekaligus menegaskan posisi strategis MCCI dalam rantai pasok industri tekstil nasional, khususnya dalam menyediakan bahan baku berkualitas tinggi yang menjadi fondasi bagi produk tekstil bernilai tambah. MCCI berkomitmen untuk terus mengembangkan kapasitas produksi serta mendorong hilirisasi industri tekstil di Indonesia.


 

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 9 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 13 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 51 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 55 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia