Perkuat Manufaktur untuk Genjot Pertumbuhan Ekonomi
JAKARTA, Investor.id – Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada kondisi global dalam memacu pertumbuhan ekonomi 8%. Sebaliknya, Indonesia harus membangun ketahanan dalam negeri, baik dari sisi penguatan industri manufaktur, stabilitas nilai tukar, maupun kebijakan fiskal.
Direktur Utama PT Merak Chemicals Indonesia (MCCI), produsen purified terephthalic acid (PTA), produk tekstil hulu, Anang Adji Sunoto menegaskan, pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi tinggi, sebesar 8% dalam beberapa tahun ke depan. Demi mencapai target itu, diperlukan perlindungan terhadap sektor industri serta kebijakan yang mampu menarik investasi langsung. Dengan iklim usaha yang kondusif, sektor industri akan berkembang dan membuka lebih banyak lapangan kerja.
Anang menyatakan, meskipun ketidakpastian global masih tinggi, ada tanda-tanda perbaikan yang bisa dimanfaatkan oleh Indonesia. Per Mei 2025, berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 diperkirakan 3%, lebih besar dari proyeksi sebelumnya pada April 2025 yang mencapai 2,9%.
Kenaikan proyeksi ini, kata dia, dipicu oleh adanya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok untuk menurunkan tarif impor selama 90 hari, yang berdampak positif terhadap aktivitas perdagangan global. Pertumbuhan ekonomi AS dan Tiongkok juga diprediksi membaik, yang kemudian ikut mendorong pertumbuhan ekonomi negara lain seperti Eropa, Jepang, dan India.
Namun, dia juga mengingatkan, faktor eksternal masih penuh dinamika. Ketegangan fiskal di AS, misalnya, tercermin dari yield US Treasury yang lebih tinggi dari perkiraan dan menciptakan potensi tekanan keuangan global baru. Di sisi lain, aliran modal global mulai bergeser ke negara berkembang (emerging markets) setelah sebelumnya mengalir ke aset-aset safe haven.
“Pada titik ini, kita tidak bisa hanya menunggu arah angin global, melainkan harus membangun ketahanan dalam negeri,” ujar Anang dalam talkshow Resiliensi Ekonomi Nasional di Tengah Dinamika Global di Jakarta, dikutip Kamis (5/6/2025).
Dalam menghadapi tantangan global, Anang menegaskan, perlunya menciptakan iklim industri yang kompetitif namun tetap adil. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan kerap menimbulkan tantangan tersendiri, seperti tingginya biaya logistik dan distribusi, yang dapat mempengaruhi daya saing produk dalam negeri.
“Biaya logistik yang tinggi akibat kondisi geografis negara kepulauan ini menjadi tantangan nyata bagi pelaku industri dalam negeri. Agar industri kita bisa bersaing, perlu ada dukungan nyata dari pemerintah,” ujar dia
MCCI, kata dia, mendukung kebijakan pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada industri dalam negeri melalui penerapan safeguard measures dan bea masuk anti-dumping (BMAD) partially oriented yarn dan draw textured yarn (POY-DTY). Langkah ini sangat penting untuk melindungi industri hulu tekstil dari praktik perdagangan yang tidak adil seperti dumping dan impor ilegal yang bisa merusak pasar domestik.
Di sisi lain, MCCI menerima penghargaan Best Liaison Contact dari Bank Indonesia (BI). Penghargaan ini diberikan atas kontribusi MCCI dalam dalam membantu penyusunan kebijakan ekonomi yang tepat dan responsif.
Penghargaan ini sekaligus menegaskan posisi strategis MCCI dalam rantai pasok industri tekstil nasional, khususnya dalam menyediakan bahan baku berkualitas tinggi yang menjadi fondasi bagi produk tekstil bernilai tambah. MCCI berkomitmen untuk terus mengembangkan kapasitas produksi serta mendorong hilirisasi industri tekstil di Indonesia.
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






