Jumat, 15 Mei 2026

Pertamina Buka Opsi Impor Minyak dari Afrika, Jika Konflik Iran-Israel Memburuk

Investor.id
13 Jun 2025 | 19:59 WIB
BAGIKAN
Foto ilustrasi. Kapal Pertamina International Shipping (PIS) sebagai subholding dan bagian dari Pertamina Group. (Sumber: Pertamina/Istimewa)
Foto ilustrasi. Kapal Pertamina International Shipping (PIS) sebagai subholding dan bagian dari Pertamina Group. (Sumber: Pertamina/Istimewa)

JAKARTA, investor.id – Timur Tengah kian memanas, usai Iran membalas serangan Israel pada Jumat (13/6/2025). Menyikapi hal ini, PT Pertamina (Persero) menyiapkan skenario pengubahan jalur pelayaran logistik (reroute) dan mempertimbangkan impor minyak dari Afrika.

Mengutip CNBC International, Iran menembakkan rudal ke Israel, sebagai balasan setelah rudal Israel menewaskan sedikitnya tiga pemimpin militer Iran. Adapun Iran meluncurkan sekitar 100 UAV ke wilayah Israel dan diupayakan untuk dicegat, kata juru bicara Pasukan Pertahanan Israel Effie Defrin.

Sementara serangan Israel terhadap Iran sebelumnya disebut ditujukan pada fasilitas pengayaan nuklir. Ini terjadi beberapa hari sebelum pejabat AS dan Iran dijadwalkan menghadiri putaran ke-6 perundingan kesepakatan nuklir. Itu adalah serangan terbesar terhadap Republik Islam tersebut sejak perang Iran dengan Irak pada 1980-an.

ADVERTISEMENT

Merespons situasi Timur Tengah yang kian memanas, Pertamina mengungkapkan akan melakukan mitigasi. VP Corporate Communication PT Pertamina, Fadjar Djoko Santoso menyebut, konflik Iran-Israel belum berdampak terhadap perusahaan, sehingga mitigasi yang dilakukan hanya mengubah jalur pelayaran logistik (reroute). Mitigasi secara khusus dilakukan oleh Pertamina International Shipping (PIS) dan Pertamina Patra Niaga.

“Kalau kemarin-kemarin yang beberapa konflik, biasanya caranya reroute (pengubahan jalur), cari jalur pelayaran distribusi yang aman,” ujar Fadjar Djoko Santoso di Jakarta, Jumat (13/6/2025), seperti dikutip Antara.

Selain skenario reroute, Pertamina juga mempertimbangkan untuk mengimpor minyak dari negara lain yang berlokasi di luar kawasan Timur Tengah. Salah satu kawasan yang dimaksud adalah Afrika.

“Sekarang bisa impor crude (minyak mentah) lebih fleksibel. Jadi, kami tidak terlibat kontrak panjang. Kami bisa modifikasi kalau ada gangguan di satu titik, bisa pindah misalnya (impor) dari Afrika,” kata Fadjar.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia