RI Alami Degradasi Kuantitas Rempah, Kalah dari Brasil dan Vietnam
JAKARTA, investor.id - Ketua Sustainable Spices Initiative (SSI) Indonesia, Dippos Naloanro Simanjuntak mengungkapkan bahwa kondisi industri rempah di Indonesia saat ini menghadapi penurunan yang signifikan.
Penurunan ini akibat kurangnya perhatian serius dari pemerintah dan lemahnya tata kelola yang berkelanjutan. Padahal, Indonesia pernah dikenal sebagai pusat rempah dunia sejak era penjajahan VOC.
Baca Juga:
Ekspor Pertanian Januari-Agustus 2025 Melonjak 38,25 Persen, Bukti Ketangguhan Pangan Nasional“Kalau kita lihat saat ini, hampir semua komoditas rempah stagnan bahkan menurun. Hampir tidak ada yang naik. Dulu lada putih Muntok menjadi nomor satu di dunia, sekarang kita sudah kalah jauh dari Brasil dan Vietnam,” ungkap Dippos dalam acara International on Spice Route di Museum Bahari, Jakarta, dikutip Senin (6/10/2025).
Menurutnya, persoalan utama terletak pada minimnya ekosistem tata kelola yang menyeluruh, mulai dari on-farm, pascapanen, hingga hilirisasi produk. Indonesia selama ratusan tahun hanya mengekspor rempah dalam bentuk bahan mentah tanpa nilai tambah, sehingga kalah bersaing dengan negara lain yang sudah mengembangkan industri olahan.
“Sejak zaman VOC hingga sekarang, produk yang diekspor itu sama saja, raw material. Tidak ada pengembangan menjadi produk setengah jadi atau olahan bernilai tinggi. Itu sebabnya daya saing kita melemah,” ucap dia.
Dippos juga menyoroti kebijakan pemerintah yang dinilai kurang memperhatikan sektor rempah. Dia menyebut, Kementerian Pertanian dinilai masih terlalu fokus pada pangan pokok seperti padi, jagung, dan kedelai, sementara rempah yang merupakan identitas Nusantara justru terabaikan.
“Kita kehilangan momentum puluhan tahun. Akibatnya, produktivitas rendah, harga kita mahal, dan akhirnya pasar global lebih memilih produk dari negara pesaing. Padahal kualitas rempah kita, seperti lada Muntok atau kayu manis, masih jauh lebih baik,” bebernya.
Meski begitu, Dippos menekankan Indonesia masih memiliki peluang besar, terutama pada komoditas pala yang hingga kini tetap mendominasi pasar dunia dengan kontribusi sekitar 80%. Ia berharap adanya roadmap hilirisasi rempah yang tengah disusun bersama Bappenas bisa menjadi acuan membangun ekosistem yang berkelanjutan.
“Kalau ekosistemnya kuat, kita bisa menjaga keberlanjutan dan mengembalikan kejayaan rempah Indonesia. Pala bisa jadi model agar tidak bernasib sama dengan komoditas lain yang sudah hilang dominasi,” pungkas Dippos.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Cara Daikin Dongkrak Kepercayaan Konsumen
Saat ini AC tidak hanya sekadar pemberi kesejukan, melainkan juga menjadi pendukung bagi produktivitas.Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang
Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data
Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah PutihKetika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel
Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh
Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.Tag Terpopuler
Terpopuler


