Sabtu, 4 April 2026

RI Alami Degradasi Kuantitas Rempah, Kalah dari Brasil dan Vietnam

Penulis : Erfan Maruf
6 Okt 2025 | 10:48 WIB
BAGIKAN
Rempah-rempah Indonesia. ( Foto ilustrasi: Shutterstock )
Rempah-rempah Indonesia. ( Foto ilustrasi: Shutterstock )

JAKARTA, investor.id -  Ketua Sustainable Spices Initiative (SSI) Indonesia, Dippos Naloanro Simanjuntak mengungkapkan bahwa kondisi industri rempah di Indonesia saat ini menghadapi penurunan yang signifikan.

Penurunan ini akibat kurangnya perhatian serius dari pemerintah dan lemahnya tata kelola yang berkelanjutan. Padahal, Indonesia pernah dikenal sebagai pusat rempah dunia sejak era penjajahan VOC.

“Kalau kita lihat saat ini, hampir semua komoditas rempah stagnan bahkan menurun. Hampir tidak ada yang naik. Dulu lada putih Muntok menjadi nomor satu di dunia, sekarang kita sudah kalah jauh dari Brasil dan Vietnam,” ungkap Dippos dalam acara International on Spice Route di Museum Bahari, Jakarta, dikutip Senin (6/10/2025).

Advertisement

Menurutnya, persoalan utama terletak pada minimnya ekosistem tata kelola yang menyeluruh, mulai dari on-farm, pascapanen, hingga hilirisasi produk. Indonesia selama ratusan tahun hanya mengekspor rempah dalam bentuk bahan mentah tanpa nilai tambah, sehingga kalah bersaing dengan negara lain yang sudah mengembangkan industri olahan.

“Sejak zaman VOC hingga sekarang, produk yang diekspor itu sama saja, raw material. Tidak ada pengembangan menjadi produk setengah jadi atau olahan bernilai tinggi. Itu sebabnya daya saing kita melemah,” ucap dia.

Dippos juga menyoroti kebijakan pemerintah yang dinilai kurang memperhatikan sektor rempah. Dia menyebut, Kementerian Pertanian dinilai masih terlalu fokus pada pangan pokok seperti padi, jagung, dan kedelai, sementara rempah yang merupakan identitas Nusantara justru terabaikan.

“Kita kehilangan momentum puluhan tahun. Akibatnya, produktivitas rendah, harga kita mahal, dan akhirnya pasar global lebih memilih produk dari negara pesaing. Padahal kualitas rempah kita, seperti lada Muntok atau kayu manis, masih jauh lebih baik,” bebernya.

Meski begitu, Dippos menekankan Indonesia masih memiliki peluang besar, terutama pada komoditas pala yang hingga kini tetap mendominasi pasar dunia dengan kontribusi sekitar 80%. Ia berharap adanya roadmap hilirisasi rempah yang tengah disusun bersama Bappenas bisa menjadi acuan membangun ekosistem yang berkelanjutan.

“Kalau ekosistemnya kuat, kita bisa menjaga keberlanjutan dan mengembalikan kejayaan rempah Indonesia. Pala bisa jadi model agar tidak bernasib sama dengan komoditas lain yang sudah hilang dominasi,” pungkas Dippos.

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 3 menit yang lalu

Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh

Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.
National 40 menit yang lalu

Sebar Qurban 2026 Targetkan Ratusan Ribu Penerima

Selain nilai spiritual, kegiatan kurban dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta mendukung perputaran ekonomi masyarakat.
Business 60 menit yang lalu

Hemat Energi 40%, Industri Tekstil Mulai Adopsi Truk Listrik

Penggunaan kendaraan listrik menjadi langkah strategis dalam merespons tantangan pasokan BBM di tengah dinamika geopolitik global.
International 1 jam yang lalu

WHO Kecam Serangan ke Fasilitas Kesehatan di Iran

WHO kecam serangan AS & Israel ke fasilitas kesehatan Iran. 4 juta orang mengungsi, risiko wabah penyakit kian mengancam Timur Tengah.
Business 2 jam yang lalu

Green SM Dapat Dukungan Pembiayaan BCA Rp600 M

Fasilitas pembiayaan dari BCA ditujukan memperkuat kesiapan operasional serta menjaga keberlanjutan layanan Green SM di sejumlah kota.
Market 2 jam yang lalu

Laba Mitratel (MTEL) Rp 2,1 Triliun

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 2,11 triliun tahun 2025.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia