Suara Hati Masyarakat Terdampak Proyek Geothermal Mataloko
Isu Lingkungan
Tak jauh dari lokasi kontruksi wellpad, terdapat pula kubangan lumpur panas yang sesekali mengepul gas belerang berbau menyengat. Sejumlah masyarakat yang menolak, menilai munculnya semburan lumpur panas tersebut akibat dari aktivitas pengeboran yang pernah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral (DJGSM) dengan kedalaman 100-760 meter yang dimulai pada 1999-2005. Namun, karena terjadi penurunan pressure uap, operasional PLTP kemudian dihentikan pada 2015.
Emerensiana menuturkan, semburan lumpur panas tersebut sebenarnya sudah ada ketika Ia masih kecil. Jauh sebelum kehadiran proyek Geothermal di Mataloko. Bahkan, menurutnya semburan lumpur tersebut sudah ada sejak zaman nenek moyangnya.
“Karena di situ kan timbul, panas-panas, dengan mata-mata air kecil, mata air panas itu di kebun-kebun warga, di rumah-rumah warga. Itu mulai sejak kami masih kecil, sebelum nenek moyang mungkin,” katanya.
Namun, Ia meyakini, berdasarkan hasil survei dan sosialisasi oleh pihak PLN maupun ahli geologi di wilayahnya, semburan lumpur panas tersebut akan hilang dengan sendirinya, ketika itu dialihkan ke sumur-sumur yang akan dibor dan dijadikan sebagai sumber tenaga listrik.
“Tapi ketika hadirnya, mulai survei, mulai adakan pembangunan geotermal ini, ketika sumur itu sudah dibor, mungkin panasnya dialihkan ke situ (wellpad). Dan sekarang terbukti, daerah sekitar itu sudah hijau kembali. Di lokasi itu kan, kemarin sempat viral, bilang ini seperti di lumpur Sidoarjo, lumpur Lapindo, itu mungkin tidak seperti itu,” ungkapnya.
“Hanya itu yang dibesar-besarkan dari pengaruh luar. Hanya kalau kami masyarakat merasa bahwa itu terlalu dibesar-besarkan. Mungkin itu adalah dampak sebuah proyek,” tambah Emerensiana.
Redaksi juga menemui Marselus Gone (40) Warga Desa Wogo, Mataloko, yang sedang merawat tanaman sayur di sekitar lokasi semburan lumpur panas tersebut.
Sembari menggembur tanah di sekitar tanaman sayurnya, ketika ditanyai kemana sayur sayuran yang ditanamnya akan dijual. Ia menjawab belum bisa menjual ke luar Bajawa (kab. Ngada), karena produksinya baru permulaan. "Kami belum jual ke tempat lain (luar daerah) paling di Bajawa saja dulu,"ucap Marselus.
Gone bersama sejumlah rekannnya diberikan kesempatan oleh PLN untuk menggarap lahan milik PLN di sekitaran daerah semburan lumpur tersebut. Beragam jenis sayuran di ditanam, ada sawi, bawang hingga cabai. Atas saran pihak PLN cara tanam pun lebih modern, tidak lagi asal nanam, sehingga lebih menjanjikan dari sisi produksinya.
Dia berkisah, sayur mayur yang ditanam itu tidak menggunakan pupuk organik, karena lahannya subur. Begitupun dengan pasokan air, sama sekali tidak ada ada kendala.
"Jadi, tidak ada cerita gara gara Geothermal (Panas Bumi) ini tanaman tidak tumbuh, debit air kurang. Ini buktinya, sayuran ini tumbuh, padahal ini hanya 30-40 meter dari lokasi manifes,"ungkap Gone
Nampak pula, tak jauh dari situ, sekitar 100 meter dari lokasi manifes, terdapat juga pohon kemiri tumbuh subur dengan buahnya. Begitu juga pepohonan lainnya. Tidak tampak kerusakan tanaman warga seperti yang ramai diberitakan.
Editor: Emanuel
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
WOM Finance (WOMF) Tebar Dividen 30% dari Laba, Ini Jadwalnya
PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk atau WOM Finance (WOMF) berencana menebar dividen tunai 30% dari laba tahun 2025.Cara Daikin Dongkrak Kepercayaan Konsumen
Saat ini AC tidak hanya sekadar pemberi kesejukan, melainkan juga menjadi pendukung bagi produktivitas.Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang
Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data
Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah PutihKetika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel
Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.Tag Terpopuler
Terpopuler






