Ada Usul agar Harga BBM Naik Bertahap
JAKARTA, investor.id – Keputusan pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah lonjakan harga minyak dunia dinilai hanya menjadi peredam tekanan jangka pendek. Jika terus dipertahankan, kebijakan ini berisiko memicu lonjakan beban subsidi energi yang dapat mengancam stabilitas fiskal nasional.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, mengungkapkan bahwa selisih antara harga jual dan harga keekonomian saat ini semakin melebar akibat kenaikan harga minyak global dan pelemahan rupiah. Setiap liter BBM yang terjual membawa beban kompensasi yang harus ditanggung oleh APBN maupun arus kas Pertamina.
“Setiap kali harga BBM ditahan, selisih antara harga jual dan harga keekonomian itu harus ditanggung oleh APBN. Dalam kondisi harga minyak tinggi dan rupiah tertekan, selisih ini bisa melebar dengan cepat,” ujar Yusuf saat dihubungi, dikutip pada Kamis (2/4/2026).
Saat ini, harga keekonomian Pertamax diperkirakan telah menembus kisaran Rp 15.000 hingga Rp 17.000 per liter. Sementara itu, Pertalite secara keekonomian mendekati Rp 12.000 hingga Rp 13.000 per liter, dan solar subsidi berada di kisaran Rp 10.000 hingga Rp 11.000 per liter.
Yusuf memperingatkan bahwa ruang waktu pemerintah untuk menahan harga sangat terbatas, yakni dalam hitungan bulan. Jika tekanan eksternal terus berlanjut, akumulasi beban subsidi berisiko mendorong defisit APBN mendekati ambang batas aman 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Sebagai solusi, pemerintah disarankan menyiapkan kombinasi kebijakan. Penyesuaian harga BBM dinilai tetap perlu dilakukan, namun secara bertahap untuk memitigasi lonjakan inflasi yang tajam dan menjaga daya beli masyarakat.
“Penyaluran subsidi perlu semakin ditargetkan agar lebih tepat sasaran. Selain itu, pemerintah didorong melakukan evaluasi terhadap program-program belanja besar agar beban penyesuaian tidak sepenuhnya ditanggung masyarakat,” tambah Yusuf.
Sebagai informasi, PT Pertamina (Persero) memutuskan tidak mengubah harga BBM per 1 April 2026, meski konflik di Timur Tengah telah mendorong harga minyak dunia melampaui US$ 100 per barel. Padahal, asumsi harga minyak dalam APBN 2026 hanya sebesar US$ 70 per barel dengan alokasi subsidi energi Rp 381,3 triliun.
Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (2/4/2026) siang, harga minyak Brent sebesar US$ 107,6 per barel dan WTI sebesar US$ 106,0 per barel, masing-masing melonjak antara 5-6% dalam sehari. Lonjakan ini seiring dengan meredupnya harapan pasar akan penyelesaian konflik di Iran dalam waktu dekat.
Subsidi Energi Ditambah Rp 100 T
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






