Sabtu, 4 April 2026

Harga Batu Bara Menguat, Ditopang Sentimen dari China, AS, dan Rusia  

Penulis : Indah Handayani
17 Feb 2026 | 08:01 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi batu bara. (Image By maniacvector/freepik)
Ilustrasi batu bara. (Image By maniacvector/freepik)

JAKARTA, investor.id – Harga batu bara mayoritas menguat pada Senin (16/2/2026). Penguatan itu ditopang restrukturisasi industri di China, dukungan kebijakan energi Presiden Donald Trump di AS, serta gangguan pasokan Rusia dan Indonesia yang memicu kekhawatiran pasar global.

Harga batu bara Newcastle untuk Februari 2026 turun US$ 0,45% ke level US$ 116,25 per ton. Sedangkan Maret 2026 naik US$ 0,2 menjadi US$ 120,1 per ton. Sementara itu, April 2026 terkerek US$ 0,05 menjadi US$ 120,1 per ton.

Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Februari 2026 melejit US$ 0,5 menjadi US$ 105,35. Sedangkan, Maret 2026 menguat US$ 0,3 menjadi US$ 107,35. Sedangkan pada April 2026 terkerek US$ 0,3 menjadi US$ 106,5.

Advertisement

Dikutip dari Trading Economics, Kenaikan ini dipicu langkah restrukturisasi sektor batu bara di China serta dukungan kebijakan energi dari Presiden Donald Trump di Amerika Serikat (AS). 

Penguatan harga terjadi setelah regulator menyetujui rencana akuisisi besar oleh China Shenhua Energy Co senilai sekitar US$19 miliar dari induknya, China Energy Investment Corp.

Aset yang diambil mencakup proyek batu bara menjadi kimia, tambang, pembangkit listrik, hingga jaringan logistik. Langkah ini akan memperkuat integrasi vertikal dan meningkatkan efisiensi rantai pasok, sekaligus mendongkrak kapasitas produksi batu bara Shenhua menjadi 512 juta ton per tahun.

Restrukturisasi tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya China merapikan industri batu bara di tengah indikasi konsumsi domestik yang mulai mencapai puncaknya. Konsolidasi ini juga memperkuat posisi perusahaan besar dalam menjaga stabilitas pasokan dan efisiensi biaya.

Di sisi lain, pemerintah AS mengambil langkah untuk menopang sektor pembangkit listrik berbasis batu bara yang mulai tertekan. Presiden Donald Trump mengalokasikan dana federal sebesar US$ 175 juta untuk meningkatkan fasilitas enam pembangkit, serta menginstruksikan Departemen Pertahanan AS membeli listrik dari lebih banyak pembangkit batu bara.

Kombinasi restrukturisasi industri di China dan dukungan kebijakan di Amerika Serikat memperkuat sentimen bullish di pasar batu bara global. Pelaku pasar kini melihat langkah tersebut sebagai sinyal bahwa batu bara masih memainkan peran penting dalam bauran energi global, meski tekanan transisi energi bersih terus meningkat.

Sementara itu, Energy News Beat melaporkan, harga batu bara menguat didorong oleh serangan drone Ukraina terhadap pusat ekspor batu bara utama Rusia di Laut Hitam serta kendala pasokan baru dari Indonesia, eksportir batu bara termal terbesar di dunia.

Pelabuhan Rusia Diiserang

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 5 menit yang lalu

Operator Transportasi Antisipasi Libur Panjang Paskah

Sejumlah operator transportasi mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat pada libur panjang Hari Raya Paskah 2026.
International 8 menit yang lalu

12 RT dan 4 Ruas Jalan di Jakbar Terendam Banjir

Banjir rendam 12 RT di Jakarta Barat akibat luapan Kali Angke dan Pesanggrahan. BPBD DKI siagakan personel untuk penyedotan genangan air.
Market 17 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Sabtu 4 April 2026: Kokoh

​​​​​​​Harga emas Antam (ANTM) terpantau kokoh pada hari ini, sabtu (4/4/2026). Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 21 menit yang lalu

Masuk Saham Terkonsentrasi Tinggi, Laba Samator (AGII) Merosot

Laba bersih Samator Indo Gas (AGII) merosot 44,37% pada 2025, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
International 29 menit yang lalu

Kadin: Perang Lumpuhkan Ekonomi Timur Tengah, Biaya Kirim Melonjak 3 Kali

Kadin ungkap dampak perang Iran-AS: Biaya logistik naik 3 kali lipat & pengiriman barang molor hingga 2 bulan. Cek dampaknya bagi Indonesia.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Komitmen Investasi Rp574 Triliun dari Jepang dan Korsel

Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, Indonesia masih menjadi daya tarik bagi para investor dari Jepang maupun Korsel.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia