Pakar Sebut Harga Minyak Bisa Tembus US$ 100 per Barel Imbas Konflik Iran
LONDON, investor.id – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga 10% menyusul konflik terbuka antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Para analis memperkirakan harga minyak berpotensi menembus level psikologis US$ 100 per barel jika gangguan pasokan berlanjut.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent sempat melonjak ke kisaran US$ 80 per barel dalam perdagangan over the counter pada Minggu (1/3/2026), setelah sebelumnya ditutup di US$ 73 per barel pada Jumat, level tertinggi sejak Juli tahun lalu. Lonjakan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap dampak perang baru di Timur Tengah.
Direktur energi dan pengilangan ICIS Ajay Parmar menilai, bukan hanya serangan militer yang mendorong kenaikan harga, melainkan keputusan Iran menutup Selat Hormuz. “Serangan militer memang mendukung kenaikan harga minyak, tetapi faktor kunci di sini adalah penutupan Selat Hormuz,” ujarnya.
Lebih dari 20% pasokan minyak global dikirim melalui jalur sempit tersebut. Sumber perdagangan menyebut sebagian besar pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, dan rumah dagang telah menghentikan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz setelah Teheran memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintas.
Parmar memperkirakan harga minyak bisa dibuka mendekati US$ 100 per barel saat pasar kembali aktif, bahkan berpotensi melampaui level tersebut jika penutupan berlangsung lama.
Ekonom energi Rystad Energy Jorge Leon memperkirakan penutupan Selat Hormuz dapat memangkas pasokan minyak mentah global sebesar 8–10 juta barel per hari (bpd), meski sebagian aliran dapat dialihkan melalui pipa East-West Arab Saudi dan pipa milik Abu Dhabi.
Rystad memproyeksikan harga minyak bisa naik sekitar US$ 20 menjadi kisaran US$ 92 per barel saat perdagangan dibuka.
Analis RBC Helima Croft menyebut sejumlah pemimpin Timur Tengah telah memperingatkan Washington bahwa perang terhadap Iran dapat mendorong harga minyak melampaui US$ 100 per barel. Sementara itu, analis Rabobank memperkirakan harga dapat bertahan di atas US$ 90 per barel dalam jangka pendek.
OPEC+ Tambah Produksi
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Gedung Big Tech AS Oracle Rusak Akibat Rudal Iran
Gedung Big Tech AS Oracle Dubai rusak akibat serpihan rudal Iran. 4 warga Bahrain terluka saat serangan udara kian meluas di kawasan Teluk.Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan
Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.Banjir Setinggi 30-80 cm Rendam Sejumlah Wilayah di Tangerang Selatan
Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat sejumlah wilayah di Tangerang Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-80 cm.Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial
Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun
Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.PTPP Perkuat Fundamental Keuangan melalui Langkah Transformasi dan Penyesuaian Berbasis Prudence
PTPP memperkuat langkah transformasi bisnis dan fondasi keuangan Perseroan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan.Tag Terpopuler
Terpopuler






