Jumat, 15 Mei 2026

Produktivitas dan Hilirisasi Sawit

Penulis : Investor Daily
13 Des 2022 | 12:07 WIB
BAGIKAN
Aktivitas di perkebunan kelapa sawit PT Astra Agro Lestari Tbk. (Foto: Perseroan)
Aktivitas di perkebunan kelapa sawit PT Astra Agro Lestari Tbk. (Foto: Perseroan)

Ada dua agenda besar untuk mendorong kemajuan industri kelapa sawit di Indonesia. Pertama adalah akselerasi hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk yang lebih tinggi. Agenda kedua adalah mendorong produktivitas sawit, terutama perkebunan rakyat yang saat ini jauh tertinggal dibanding perkebunan besar.

Menyangkut aspek produktivitas, yang harus digenjot adalah produksi petani sawit yang kini menguasai 6,9 juta hektare atau 42% dari total 16,37 juta hektare lahan sawit di Indonesia. Dari areal tersebut, setidaknya 2,4 juta hektare wajib diremajakan karena usia tanaman lebih dari 15 tahun. Rata-rata produktivitas perkebunan sawit rakyat saat ini hanya 2,57 ton CPO per hektare, terlalu jauh dibanding perkebunan swasta dengan tingkat produksi 7 ton per ha.

Sementara itu, hilirisasi menjadi tema sentral bagi ekonomi Indonesia saat ini, baik menyangkut industri berbasis tambang dan mineral maupun industri agro, khususnya kelapa sawit. Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan menekankan urgensi hilirisasi. Untuk produk sawit, hilirisasi yang terjadi boleh dikata sudah cukup menggembirakan, namun tetap perlu akselerasi dan pendalaman ragam produk yang lebih luas.

Sebelum tahun 2010, ekspor sawit Indonesia memang masih didominasi oleh minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Setelah periode itu, secara bertahap terjadi perubahan cukup signifikan. Bahkan dalam lima tahun terakhir, porsi ekspor produk CPO hanya di bawah 20%, sisanya merupakan produk sawit olahan. Saat ini, ekspor produk sawit olahan telah mencapai 90%, sedang ekspor dalam bentuk CPO kurang dari 10%.

ADVERTISEMENT

Khusus produk olahan, Indonesia kini sudah mampu memproduksi 21 juta ton produk oleokimia dengan torehan devisa cukup impresif. Ekspor produk oleokimia pada 2018 mampu mencetak devisa sebesar US$ 2,3 miliar, tahun 2020 naik menjadi US$ 3,8 miliar, dan tahun 2021 tembus US$ 4 miliar.

Selama ini, hilirisasi terhambat oleh pola pikir sebagian produsen yang mencari jalan pintas dengan hanya mengekspor produk mentah. Mereka memiliki persepsi, hilirisasi membutuhkan investasi besar karena padat modal dan teknologi. Selain itu, tingkat pengembalian investasi (return on investment) di industri hilir dipandang lebih rendah dibanding industri hulu.

Pemerintah kemudian mendorong hilirisasi lewat instrumen kebijakan pungutan ekspor (PE) dan bea keluar (BK). Tarif pungutan ekspor maupun bea keluar yang diberlakukan cenderung lebih menguntungkan bagi produk hilir. Semakin hilir sebuah produk, tarif yang diberlakukan semakin rendah. Bahkan, perbedaan tarif antara CPO dan produk olahan sangat besar.

Saat ini sebagian produk hilir sawit kita tergolong masih sederhana. Ke depan, diversifikasi ke produk turunan yang lebih canggih dan memenuhi standar internasional menjadi keharusan. Hal itu akan membuka peluang untuk menarik investasi ke produk-produk hilir turunan sawit yang lebih canggih. Di sinilah ada potensi besar untuk mengundang investor dari negara-negara pengimpor utama produk sawit kita, terutama mereka yang memiliki teknologi lebih canggih. Untuk itu, insentif sangat dibutuhkan, baik di bidang fiskal maupun nonfiskal.

Industri sawit semakin menjadi andalan dalam perekonomian negeri ini. Industri ini menyerap 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung. Kontribusinya terhadap perolehan devisa negara mencapai 13,5% dari ekspor nonmigas. Tahun ini, produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan mencapai 51,3 juta ton relatif sama dengan tahun lalu.

Daya saing minyak sawit Indonesia di pasar ekspor sangat tinggi dibanding produk minyak nabati lainnya. Terbukti, hanya dengan luas lahan 6% dari total lahan minyak nabati global, namun pangsa pasar CPO mencapai 33% dari total minyak nabati dunia. Sedangkan kedelai menggunakan 44% lahan tapi hanya menghasilkan 23% minyak nabati.

Hilirisasi yang dibarengi kenaikan produktivitas sawit akan semakin menempatkan Indonesia sebagai pemain utama minyak nabati global yang disegani.

Industri sawit juga mendorong kemandirian energi melalui program biodiesel yang menghemat impor solar senilai US$ 8 miliar per tahun. Karena itu, target bauran biodiesel 40% atau program B40 diharapkan dapat diimplementasikan tahun depan. Program ini sangat penting dalam mendukung perluasan pasar dan penyerapan industri sawit nasional.

Indonesia adalah produsen sawit terbesar dunia, menguasai lebih dari separuh pangsa pasar global. Minyak sawit menguasai 36% pasar minyak nabati global, dan perannya bakal terus meningkat. Kontribusi terhadap kas negara pun sangat signifikan lewat setoran bea keluar dan pungutan ekspor. Pungutan ekspor yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPD-PKS) selama ini pun sebagian dananya dikembalikan untuk mengembangkan industri sawit, termasuk meremajakan perkebunan sawit rakyat dan subsidi program biodiesel.

Mengingat strategisnya industri sawit, semua pemangku kepentingan harus saling memberikan dukungan, termasuk memperjuangkan ketika produk sawit kita diserang oleh negara lain karena alasan deforestasi. Itulah sebabnya, seluruh pelaku industri sawit, terutama di hulu, harus memastikan bahwa industri sawit dikelola secara lestari alias ramah lingkungan. Sebab, isu itu sangat sensitif di pasar global dan dijadikan senjata untuk menjatuhkan produk sawit kita.

Hilirisasi dan peningkatan produktivitas sawit mesti menjadi prioritas. Hilirisasi bukan hanya menciptakan nilai tambah, tapi juga menciptakan lapangan kerja baru serta memperkokoh struktur industri dari hulu ke hilir. Dengan demikian, hilirisasi dapat menjadi katalis bagi akselerasi transformasi ekonomi yang tengah kita gaungkan.

Di samping itu, hilirisasi akan membuat Indonesia naik pamor. Sebab, Indonesia mampu memainkan peran sebagai global supply chain dengan menjadi produsen bahan setengah jadi dan bahan yang sudah diolah lebih lanjut. Hilirisasi yang dibarengi kenaikan produktivitas sawit akan semakin menempatkan Indonesia sebagai pemain utama minyak nabati global yang disegani. *

Editor: Totok Subagyo

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 1 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia