Jumat, 15 Mei 2026

Hub Produksi dan Ekspor Mobil Listrik

Penulis : Investor Daily
3 Feb 2023 | 08:15 WIB
BAGIKAN
Hyundai Ioniq 5, salah satu mobil listrik. (dok. B-Universe Photo)
Hyundai Ioniq 5, salah satu mobil listrik. (dok. B-Universe Photo)

Indonesia punya potensi menjadi hub produksi dan ekspor mobil listrik. Setidaknya dua produsen mobil listrik besar sudah membangun pabriknya di sini dan sudah mulai berproduksi, yakni Hyundai dari Korea dan Wuling dari Tiongkok.

Hyundai yang memindahkan sebagian pabriknya dari Tiongkok ke Cikarang mulai produksi perdana mobilnya di Indonesia pada Januari 2022, termasuk dengan memproduksi sedikit mobil listrik. Sementara itu, Wuling sudah enam tahun beroperasi di Indonesia dan baru tahun lalu memproduksi juga mobil listrik.

Di pasar mobil dunia, penetrasi Hyundai Kia tercatat mengalami kemajuan pesat. Bila pada 2019 menduduki ranking kelima, tahun berikutnya naik ke keempat dan pada 2021 sudah ketiga, dengan penjualan sekitar 6,7 juta unit. Ia hanya dikalahkan Toyota dari Jepang di peringkat pertama dengan penjualan mobil 9,6 juta dan VW dari Jerman 8,9 juta.

Sedangkan Wuling merupakan produsen mobil yang sudah 10 tahun beroperasi di Tiongkok dan sudah delapan tahun lebih memproduksi mobil listrik di sana. Menariknya, Wuling justru mengenalkan model mobil listrik barunya Air ev pertama kalinya di Indonesia pada Agustus lalu, baru kemudian di negara asalnya dan menyusul di negara yang lain. Ini mengindikasikan Indonesia dipandang sebagai pasar yang sangat potensial untuk mobil listrik.

ADVERTISEMENT

Hitungan Wuling itu ada benarnya, melihat produk mobil listrik keluaran pabriknya di Cikarang, Jawa barat, ‘meledak’ penjualannya dan mengerek populasi mobil ramah lingkungan ini di jalanan kita. Berdasarkan data Gaikindo, total penjualan mobil listrik kategori battery electric vehicle (BEV) sepanjang 2022 mencapai 10.327 unit, melambung tinggi 1.403% dibanding pada 2021 yang baru 687 unit. Dari jumlah tersebut, Wuling Air Ev Long Range yang baru dipasarkan mulai Agustus lalu mencatatkan penjualan tertinggi dengan angka wholesale 6.859 unit, diikuti Hyundai Ioniq 5 Signature Extended 1.517 unit, dan Wuling lagi untuk tipe lain Air EV Standard Range 1.194 unit.

Sementara, untuk kendaraan ramah lingkungan jenis plug in hybrid electric vehicle (PHEV), totalnya hanya 10 unit yang disumbang oleh Mitsubishi Outlander PHEV. Sedangkan untuk model hybrid, totalnya 10.344 unit. Berbeda dengan jenis plug-in hybrid yang baterainya bisa diisi menggunakan wall charger selain dengan kerja mesin bakar, baterai mobil hybrid hanya bisa diisi daya listriknya dengan kerja mesin bakar.

Pesatnya pertumbuhan penjualan mobil listrik di Indonesia yang populasinya keempat terbesar di dunia ini merupakan salah satu pilar potensial untuk mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi hub produksi dan ekspor mobil listrik. Hal ini mengingat kita punya sebagian besar bahan baku utama baterai mobil listrik, yakni nikel, tembaga, timah, dan bauksit.

Untuk itu, kita harus mempercepat pembangunan ekosistem baterai EV dan ekosistem yang lebih besar mobil listrik. Oleh karenanya, kita harus menyatukan dan mengintegrasikan seluruh kekayaan alam yang dibutuhkan dalam pembuatan baterai EV. Langkah awal sudah dimulai dengan Presiden Joko Widodo melarang ekspor nikel mentah agar bisa diolah di dalam negeri, yang disusul larangan sama untuk bauksit mentah per Juni nanti. Berikutnya, ekspor tembaga mentah juga bakal distop, menyusul smelter PT Freeport Indonesia yang pembangunannya hampir rampung.

Dengan banyaknya negara maju dan sejumlah negara lain sudah mulai menetapkan jadwal penghentian penjualan mobil berbahan bakar fosil untuk meredam pemanasan global, maka mereka bakal mencari barang ini ke Indonesia. Sebab, mobil listrik tergantung pasokan baterai listrik, yang merupakan komponen terbesar harga mobil, mencapai 30-40%.

Untuk itu, kita harus memastikan bahwa rencana pembangunan smelter yang dibutuhkan dan selanjutnya pabrik baterai listrik berjalan dengan baik. Peristiwa bentrokan maut di area smelter milik PT Gunbuster Nikel Industri (GNI) di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, yang membawa korban jiwa pekerja warga negara asing (WNA) dan warga lokal jangan terulang. Apalagi, smelter hingga pabrik baterai ini butuh investasi luar biasa besar, yang tentunya memerlukan iklim investasi yang sangat kondusif dan mendapat jaminan hukum yang kuat.

Selain itu, pemerintah juga harus membantu meningkatkan SDM kita, agar bisa mengisi semua lini kebutuhan industri baterai dan mobil listrik yang ramah lingkungan, yang semakin kuat menjadi tren dunia. Dengan demikian, kita tidak perlu lagi mendatangkan banyak tenaga kerja asing, yang memiliki perbedaan budaya yang rawan gesekan di lapangan.

Dari sisi produsen, mereka perlu mempercepat peningkatan teknologi agar pengisian daya listrik baterai tidak terlalu lama. Selain itu, harga mobil listrik juga harus lebih terjangkau.

Kemudahan pengisian daya listrik baterai ini juga harus dibantu pemerintah, dengan seluruh jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) wajib pula menyediakan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Hal ini juga mempertimbangkan kepentingan negara untuk memperkokoh ketahanan energi dan ekonomi nasional, mengingat sudah separuh kebutuhan BBM kita tergantung dari impor yang menguras devisa.

Pemerintah juga perlu menambah sejumlah insentif untuk menumbuhkan industri baterai hingga mobil listrik, baik fiskal maupun nonfiskal. Sejumlah insentif memang sudah diberikan, seperti insentif fiskal tarif pajak kendaraannya yang sangat murah di Ibu Kota, hanya Rp 800 ribu, dibanding mobil konvensional sekitar Rp 3 juta. Sedangkan untuk nonfiskal, antara lain, mobil listrik bebas ketentuan ganjil genap di Jakarta lantaran ramah lingkungan.

Pemerintah perlu mempercepat realisasi insentif subsidi yang menarik untuk pembelian mobil listrik yang memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tinggi. Bila kini TKDN mobil listrik buatan lokal sudah mencapai minimal 40% sesuai ketentuan, maka perlu dirangsang untuk ditingkatkan setidaknya 80% dengan mendapat insentif subsidi pembelian cukup besar.

Dengan demikian, industri mobil listrik ini akan kokoh didukung berkembangnya industri komponen di dalam negeri. Selain itu, penyerapan tenaga kerjanya akan bertambah sehingga mendapat dukungan lebih luas dari masyarakat.

Artinya, dengan meningkatnya penjualan dalam negeri dan didukung tumbuhnya industri komponen, maka industri mobil listrik dapat mencapai skala ekonominya, sehingga harganya bisa kompetitif untuk bersaing di pasar global. Dengan demikian, Indonesia bisa semakin dekat untuk mewujudkan tekad menjadi hub produksi dan ekspor mobil listrik.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia