Jumat, 15 Mei 2026

Bola dan Diversifikasi Ekonomi Saudi

Penulis : Investor Daily
1 Jul 2023 | 12:10 WIB
BAGIKAN
Putra Mahkota Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman ( Foto: Reuters File Photo )
Putra Mahkota Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman ( Foto: Reuters File Photo )

JAKARTA, investor.id - Sebuah eksperimen berbiaya supermahal tengah dilakukan oleh liga sepak bola kasta tertinggi Kerajaan Arab Saudi, Liga Profesional Saudi atau Saudi Pro League (PSL). Langkah tersebut ditandai dengan kepindahan mengagetkan Cristiano Ronaldo ke klub Al-Nassr akhir tahun lalu dengan mahar 173 juta poundsterling atau sekitar Rp 3,3 triliun per tahun. Sebelumnya, Ronaldo memutuskan hengkang dari Manchester United (MU) sebelum Piala Dunia 2022 digelar.

Tak lama berselang, langkah Ronaldo itu diikuti mantan rekan setimnya di Real Madrid, Karim Benzema, yang hijrah ke Al-Ittihad. Nilai kontrak Benzema bahkan lebih fantastis yaitu 200 juta poundsterling (Rp 3,8 triliun) per tahun. Pemain bintang lainnya yang telah memutuskan merumput di liga Saudi adalah N’Golo Kante ke Al-Ittihad, David Ospina ke Al-Nassr, Ruben Neves ke Al-Hilal, serta Kalidou Koulibaly juga ke Al-Hilal. Bahkan, Neymar disebut-sebut tengah dalam incaran Al-Hilal.

Harian The New York Times menyebutkan, untuk mengerek pamor sepak bola Arab Saudi di tingkat global, sebanyak 20 pemain bintang ditargetkan dapat ditarik untuk bermain di liga yang dibentuk 46 tahun silam itu. Sebanyak 12 pemain akan di sebar rata di empat klub teratas dan sisanya ke klub lainnya. Untuk keperluan itu, Dana Investasi Publik milik kerajaan Arab Saudi siap untuk menggelontorkan dana hingga lebih dari US$ 1 miliar atau sekitar Rp 15 triliun.

ADVERTISEMENT

Eksperimen serupa pernah dilakukan oleh liga sepak bola Amerika Serikat (AS), Major League Soccer (MLS). Kala itu, kesebelasan LA Galaxy memboyong David Beckham dengan transfer ‘murah’, US$ 6,5 juta setahun. Kehadiran Beckham dinilai berhasil mengangkat pamor sepak bola AS yang ditandai dengan keterisian bangku penonton stadion yang berlipat. Sementara langkah serupa yang dilakukan Tiongkok berujung pada kegagalan dan sejumlah program justru menjadi lahan korupsi para pejabat pemerintah.

Kalangan analis menilai, langkah agresif Negeri Petrodolar dalam menggaet pemain bintang itu tidak bisa dilepaskan dari Visi 2030 Arab Saudi yang diluncurkan April 2016. Melalui visi itu, Saudi ingin mendiversifikasi ekonominhya dengan mengurangi ketergantungan pada sektor minyak dan gas (migas), yang menjadi sumber utama pendapatan negara. Selanjutnya, Saudi akan mengembangkan sektor-sektor ekonomi lain seperti pariwisata, energi terbarukan, hiburan, industri pertahanan, dan teknologi informasi.

Melalui olahraga, pemerintah Saudi yang saat ini secara de facto dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman ingin negaranya dilirik dan masuk dalam peta dunia sebagai tujuan dan target investasi yang menarik bagi asing. Sehingga, ada analis yang menyebut, sepak bola lebih diposisikan sebagai ‘umpan’ dibanding sebagai investasi yang langsung bisa diharap hasilnya.

Chris Brown, direktur pelaksana CB Football Management kepada The National menyebut, Arab Saudi ingin sepak bola menjadi kendaraannya untuk mendiversifikasi dan membangun ekosistem berkelanjutan yang berkaitan dengan olahraga, pariwisata, infrastruktur, dan penciptaan lapangan kerja bagi warganya.

Karena itu, melalui program yang diluncurkan awal Juni lalu, Putra Mahkota Mohammed bin Salman ingin, Liga Profesional Saudi menjadi salah satu dari 10 besar liga di dunia. Selain untuk menarik talenta terbaik, liga juga diharapkan bisa meningkatkan pendapatannya sebesar 450 juta riyal (US$ 120 juta), menjadi lebih dari 1,8 miliar riyal setiap tahun.

Tak hanya sepak bola, Arab Saudi juga menyiapkan ‘umpan’ cabang olahraga yang lain. Sebuah laporan tahun 2021 oleh kelompok hak asasi manusia yang berbasis di London, Grant Liberty, dikatakan, Arab Saudi telah menghabiskan US$ 1,5 miliar untuk pengembangan olahraga profesional dalam beberapa tahun sebelumnya. Angka itu meningkat drastis dalam dua tahun terakhir, dengan peningkatan investasi di sepak bola, golf, balap motor, dan kriket. 

Lepas dari kecurigaan para kritikus yang menyebut langkah Saudi itu untuk sportswashing yakni pencucian dosa kemanuasian dan HAM melalui olahraga, dari sisi ekonomi, tekad kuat diversifikasi patut untuk ditiru. Ini tentu saja termasuk oleh Indonesia agar terus menjaga dan meneguhkan kebijakan hilirisasi sumber daya alam (SDA) yang telah dicanangkan beberapa tahun belakangan. ****

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 53 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 55 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia