Target Fintech Lending Terancam Meleset
JAKARTA, investor.id - Target penyaluran pinjaman dari fintech p2p lending sepanjang tahun 2023 terancam meleset. Kendati masih dalam tren pertumbuhan, realisasi penyaluran tidak sekencang yang diharapkan.
Di awal tahun ini, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) sebagai asosiasi fintech p2p lending sempat mencanangkan nilai penyaluran pinjaman sepanjang tahun 2023. Pinjaman yang disalurkan ditargetkan mencapai Rp 335 triliun, tumbuh 48,89% dibandingkan realisasi penyaluran sebesar Rp 225 triliun pada tahun 2020.
Ketika itu, AFPI cukup percaya diri mengingat seluruh penyelenggara telah mengantongi status berizin dari OJK, atau naik satu tingkat dari status terdaftar. Hal tersebut mengindikasikan peningkatan kualitas penyelenggara dari berbagai aspek.
Selain itu, fintech p2p lending juga menjadi satu-satunya industri pembiayaan yang tetap mampu mencatat pertumbuhan eksponensial meski sama-sama dihadapkan pandemi Covid-19. Sebagai gambaran, nilai penyaluran di tahun 2019 sempat terbang 190%, kembali naik 25% pada 2020, melesat 112% pada 2021, dan masih mampu tumbuh 45% pada tahun 2022.
Sehingga target pertumbuhan pinjaman sekitar 48% di tahun ini pun dirasa mampu dicapai industri. Apalagi misi mendemokratisasi pinjaman yang diusung punya daya ungkit tersendiri, sejalan masih banyak segmen masyarakat yang belum terlayani (underserved). Begitu juga gap pinjaman untuk sektor UMKM yang masih lebar atau menembus Rp 1.000 triliun.
Namun dalam perjalanannya, pertumbuhan penyaluran pinjaman fintech p2p lending tidak secepat yang diharapkan. Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran pinjaman periode Januari-Juli 2023 baru menyentuh nilai Rp 133,32 triliun. Nilai tersebut hanya meningkat tipis 2,85% dari realisasi Januari-Juli 2022 sebesar Rp 129,62 triliun. Bahkan, penyaluran dalam tujuh bulan belum mampu menyentuh separuh dari target.
Jika ditelisik lebih lanjut, klaster pinjaman ke sektor produktif jadi dalangnya. Dalam kurun Januari-Juli 2023, pinjaman ke sektor produktif malah susut 18,46% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 50,28 triliun dari periode sama tahun lalu sebesar Rp 61,66 triliun.
Hal tersebut sekaligus menegaskan bahwa penyaluran pinjaman fintech p2p lending di tahun ini cenderung didongkrak dari klaster pinjaman konsumtif. Ditandai melalui rasio pinjaman produktif yang turun dari periode Januari-Juli 2022 sebesar 47,57% menjadi 37,71% pada periode sama tahun ini.
Beberapa sektor ekonomi sebagai target penyaluran produktif yang mencatatkan penurunan signifikan adalah aktivitas keuangan dan asuransi (-90,97%), pengangkutan dan pergudangan (-70,76%), serta aktivitas badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya (80,12%).
Menariknya, sektor pertanian yang belakangan dinilai punya kualitas pinjaman buruk malah tercatat tumbuh baik bersama sektor kehutanan dan periklanan sebesar 38,96%. Disusul sektor kesehatan manusia dan aktivitas sosial (184,22%) , serta aktivitas jasa lainnya (84,88%).
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman menerangkan, fintech p2p lending masih membukukan pertumbuhan outstanding pinjaman sebesar 22,41% (yoy) menjadi Rp 55,98 triliun per Juli 2023. Indikator utang masyarakat yang masih berada di fintech p2p lending ini relatif meningkat dari bulan Juni yang tumbuh 18,86% (yoy).
Sementara dari sisi kualitas, pinjaman tersebut memiliki tingkat wanprestasi 90 hari (TWP 90) sebesar 3,47% per Juli 2023. TWP 90 atau gagal bayar pinjaman bergerak naik dari posisi Juni 2023 yang tercatat sebesar 3,29%.
Alasan Target Bisa Meleset
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





