Musim Gugur Fintech Lending Datang Lagi
Namun, Agusman juga menerangkan bahwa baru sebanyak 22 dari 33 fintech p2p lending yang mengajukan permohonan peningkatan permodalan. Sisanya sebanyak 11 penyelenggara lain belum mengajukan permohonan peningkatan permodalan.
Lebih jauh, dia mengungkapkan, terdapat dua penyelenggara yang kini sedang berproses mengembalikan izin usaha kepada OJK. Artinya, jumlah fintech p2p lending akan tersisa sebanyak 99 penyelenggara dalam waktu dekat ini.
“Jadi kalau tadi ada pertanyaan apakah jejak Danafix ada yang mengikuti? Sepertinya ada yang akan mengikuti. Lalu bagaimana tentang konsolidasi? Sangat terbuka peluang konsolidasi, kami mendorong untuk itu untuk (industri ini) lebih baik lagi kedepan,” beber Agusman dalam kesempatan tersebut.
Berpotensi Berlanjut
Berkaca pada tren historikal tentang pemenuhan permodalan dan tantangan pemenuhan sederet asesmen dari OJK, musim gugur untuk bagi penyelenggara fintech p2p lending semakin nyata untuk kembali datang. Belum lagi, OJK tengah meramu ketentuan turunan dari POJK Fintech P2P Lending, yang nantinya akan berbentuk Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK).
Aturan yang sedang digodok ini akan menerangkan lebih detail berbagai hal sudah tertuang di POJK. Beberapa hal dimaksud yang sudah mengemuka misalnya batasan manfaat ekonomi dari suatu pinjaman atau tingkat bunga fintech p2p lending; batas penyaluran yang mungkin akan berbeda masing-masing untuk klaster multiguna dan produktif; porsi penyaluran ke luar pulau Jawa, dan menyangkut credit scoring.
Baca Juga:
Terendus Dugaan Kartel Bunga PinjolFintech p2p lending sendiri boleh berbangga atas predikat jasa keuangan yang diakomodasi lewat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentangan Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU PPSK). Tapi layaknya pelaku usaha jasa keuangan lainnya, hal tersebut turut menegaskan bahwa fintech p2p lending jadi industri yang padat modal. Segala upaya pemenuhan kriteria ideal dari OJK tadi pun membutuhkan modal.
Sayangnya, kebijakan OJK untuk mengembangkan dan memperkuat industri fintech p2p lending, dimana salah satunya dari aspek permodalan agaknya tidak sejalan dengan tren pendanaan dalam beberapa waktu belakangan. Industri ini baru berusia sekitar tujuh tahun, banyak dari penyelenggara yang merupakan startup punya modal terbatas yang memang membutuhkan suntikan dana untuk bertahan hingga sejauh ini.
Pendanaan Perusahaan Modal Ventura (PMV) ke startup secara global turun sampai dengan 49% year on year (yoy) menjadi US$ 23 miliar di semester I-2023, berdasarkan laporan S&P Global Market Intelligence. Bahkan dalam paruh pertama tahun ini, kesepakatan putaran pendanaan turun 64% (yoy) menjadi 1.178 kesepakatan. Selain itu, putaran pendanaan dengan nilai besar (US$ 100 juta) semakin jarang bergulir. Pengaruhnya adalah perekonomian global yang masih menunjukkan perlambatan.
Tentu sebanyak 33 penyelenggara yang kini sedang berjibaku menambah permodalan akan menemui kerikil-kerikil tajam. Hal itu juga diakui oleh Ketua Steering Committee Indonesia Fintech Society (IFSoc) Rudiantara yang bilang bahwa saat ini adalah masa yang sulit untuk para startup, termasuk mereka di sektor fintech p2p lending mendapatkan suntikan dana segar.
“Secara umum, apalagi dalam fenomena winter tech akibat berkurangnya alokasi dana untuk startup, (pilihan) melakukan business remodeling bahkan menutup startup adalah suatu hal yang tidak bisa dihindarkan,” ucap Rudiantara saat dihubungi, Kamis (12/10/2023) malam.
Baca Juga:
Target Fintech Lending Terancam MelesetTiada pelaut ulung yang lahir dari ombak yang tenang. Rudiantara bilang, fenomena winter tech sekaligus akan memperkuat fundamental pengembangan sektor fintech p2p lending di masa yang akan datang. “Saat fenomena winter tech beralih ke fenomena spring atau bahkan summer, startup tersebut sudah semakin baik dengan fundamental bisnis yang lebih sound and sustainable,” kata Rudiantara.
Untuk itu, Rudiantara mengakui fintech p2p lending perlu sedikit lebih lama bertahan untuk bisa bertemu dengan fenomena "spring tech" atau mungkin "summer tech" tersebut, guna mendambakan meraih pendanaan terbaru. Namun sayangnya, dirinya juga tidak yakin periode tersebut akan datang dalam waktu dekat ini.
“Indikasinya setelah Fed Rate (patokan suku bunga di AS) kembali ke level di bawah 1%, maka dana direalokasikan untuk startup akan mulai mengalir lagi. Kapan? Pastinya tidak akan terjadi tahun ini. Tahun depan? Belum tentu,” demikian ungkap pria kelahiran Bogor, 3 Mei 1959 itu.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





