Kolaborasi Mandiri (BMRI) dan Wise Menghemat Biaya Transfer Valas Rp 35 Miliar
JAKARTA, investor.id – PT Bank Mandiri (BMRI) dan Wise telah lebih dari setahun menjalin kolaborasi untuk membantu para nasabah melakukan transfer uang antar negara dengan biaya yang terjangkau. Kerja sama yang dimulai pada 15 Februari 2023 ini dilaporkan telah mengembalikan market Mandiri yang sempat hilang selama dua tahun, dikarenakan banyak nasabah menggunakan fitur layanan transfer lain.
VP of Micro Funding & Remittance Services Bank Mandiri, Rolland Setiawan mengungkapkan bahwa kolaborasi bank pelat merah itu dengan Wise mendorong peningkatan tren pertumbuhan frekuensi hampir 20% setiap bulan, sehingga bisa mengembalikan market yang hilang dua tahun sebelumnya.
Sementara itu, Country Manager Wise Indonesia Elian Ciptono melihat kerja sama dengan Mandiri membuat para nasabah Livin' by Madiri menghemat biaya transaksi valas antar negara hingga Rp 35 miliar. Dari total Rp 15 triliun biaya yang dibayarkan saat transaksi valas, 45% atau sekitar Rp 6,8 triliun hilang untuk hidden fee yang tidak disadari oleh nasabah.
Sebagai informasi, Wise adalah perusahaan teknologi global yang bergerak di bidang pembayaran internasional. Perusahaan asal Inggris ini fokus untuk mengatasi permasalahan pembayaran antar negara, dengan mengusung misi money without border.
Dalam wawancaranya dengan Investor Daily beberapa waktu lalu, Rolland dan Elian menjelaskan seputar bisnis remitansi, tantangan yang dihadapi financial technology (fintech), serta dampak dari kolaborasi Mandiri dan Wise terhadap para nasabah dalam kehidupan sehari-hari. Berikut kutipannya:
Bagaimana perkembangan Kolaborasi Mandiri dengan Wise?
Elian: Sebagai perusahaan yang mengusung misi money without border, kami ingin mewujudkan pembayaran antar negara se-friction less, juga mewujudkan transaksi antar negara yang cepat, mudah, transparan, dan semurah mungkin.
Tetapi kami menyadari ada permasalahan besar dalam cross border payment atau pembayaran antar negara, yang tidak bisa kami selesaikan sendiri. Untuk itu kami
menghadirkan layanan platform Wise dalam bentuk Application Programming Interface (API) Solution yang kami tawarkan untuk mitra-mitra industri keuangan termasuk perbankan, seperti Mandiri.
Dengan menggunakan API, mereka dapat mengintegrasikan solusi atau infrastruktur pembayaran Wise ke aplikasi Livin’ by Mandiri untuk memberikan layanan prima bagi para nasabah, khususnya di Indonesia. Kami juga percaya, Mandiri adalah mitra bank terbaik dari sisi coverage dan loyalitas nasabah, yang terlihat dari tingginya penggunaan Livin’. Ya, jadi ini adalah kerja sama dengan sinergi sangat tinggi untuk melayani para nasabah Indonesia.
Rolland: Bank Mandiri sejak dulu sudah ada mobile apps, tetapi ternyata aplikasi ini belum menjawab semua kebutuhan nasabah. Setelah ditelusuri, kami menemukan fitur yang juga dibutuhkan nasabah yaitu remitansi. Dalam penelusuran lebih lanjut, kebutuhan nasabah mengenai remitansi pun tidak sekadar layanan itu ada, melainkan juga mereka menginginkan nilai-nilai transfer uang yang cepat, utuh, mudah dan murah di mana value ini telah kami bagikan kepada Wise. Kami pun menemukan kecocokan dan semangat yang sama dengan Wise, ibarat bertemu jodoh.
Bagaimana peningkatan transaksi remitansi pada nasabah Mandiri?
Ada tren pertumbuhan frekuensi (pengiriman) hampir 20% setiap bulannya. Tercatat per akhir Februari 2024, rata-rata pertumbuhan bulanan transaksi untuk fitur Forex Transfer di Livin’ By Mandiri adalah 19%.
Selain itu di Mandiri, ada empat kelompok nasabah paling besar yang menggunakan layanan remitansi, yakni edukasi, bisnis, keluarga, dan kesehatan, dengan persentase edukasi dan keluarga (27%), perdagangan/bisnis 6% dan kesehatan 1%. Yang terbanyak memang dari edukasi dan keluarga, ini karena ada banyak anak yang bersekolah di luar negeri. Bahkan seiring berakhirnya pandemi, tawaran program beasiswa pun berdatangan.
Sementara untuk bisnis, fitur remitansi pada Mandiri hanya men-support pebisnis individu karena user pada aplikasi Livin’ adalah perseorangan, untuk perusahaan ada aplikasi yang bernama Kopra Mobile Application. Pada kelompok ini banyak pebisnis yang melakukan transaksi ke luar negeri, terutama ke negara-negara seperti Taiwan, China, Thailand.
Pada kelompok keluarga, dalam data kami ada sekitar lima hingga enam juta diaspora yang umumnya melakukan transfer uang keluar negeri di hari-hari besar keagamaan, atau mengirim orang tua/kerabat yang berada di luar negeri. Untuk kesehatan, transfer uang biasanya digunakan untuk biaya pengobatan, medical check up.
Bagaimana Wise melihat tren peningkatan tersebut?
Jujur kami sangat excited dengan partnership ini, kaena banyak win yang didapatkan para customer Indonesia, utamanya dalam hal transparansi.
Kami sempat melakukan studi dan mengukur bahwa (ternyata) setiap tahunnya customer Indonesia harus membayar biaya cukup tinggi untuk transaksi valas. Pada 2022, total biaya ini mencapai Rp 15,09 triliun, dari jumlah itu, 6,8 triliun atau sekitar 45% hilang untuk hidden fees, yaitu biaya mark up nilai tukar yang sering tidak disadari dan di cek oleh customer.
Dalam kerja sama ini, kami sepakat menggunakan mid market rate (kurs tengah), sebagai kurs terbaik yang bisa customer dapatkan tanpa mark up kurs tengah. Kami melihat ini win yang sangat besar bagi customer Indonesia, karena mereka sekarang memiliki opsi layanan melalui Livin’ transfer valas tanpa mark up nilai tukar.
Dengan adanya promo biaya gratis, kami menghitung kurang lebih sejak partnership ini diluncurkan, customer telah menghemat biaya sekitar Rp 34,5 miliar dalam biaya dan tarif transaksi remitans di Livin’.
Dari sisi kecepatan transaksinya pun jauh lebih cepat, sekitar 66,4% dari seluruh transaksi remitansi yang dilakukan melalui fitur ini selesai dalam hitungan detik.
Berapa besar pertumbuhan nasabah Mandiri dalam kerja sama ini?
Kalau secara frekuensi dan volume, pertumbuhan nasabah Livin saat ini yang terdaftar mencapai 24%, dan kami memperkirakan pertumbuhannya mencapai 32 juta untuk tahun ini.
Tetapi kalau secara spesifik dari transaksi ini, harapannya tumbuh 15% baik itu dari transaksi maupun volume ke depan.
Mengingat kondisi global, mulai dari inflasi tinggi kami melihat pertumbuhannya tidak seagresif sebelumnya yang mencapai 19%. Ini karena ada beban pengeluaran yang perlu mereka hemat sehingga agak tertekan (pertumbuhan) di sana.
Apakah fitur layanan remitansi Mandiri dapat dipakai di semua negara?
Pada peluncuran partnership Maret tahun lalu, pengguna Livin’ by Mandiri dapat mengirim uang dari 10 mata uang ke 5 mata uang. Sekarang pengguna Livin’ by Mandiri dapat mengirim uang dari 13 kurs, yakni IDR, USD, GBP, EUR, CHF, AUD, SGD, CNY, HKD, JPY, THB, MYR, dan SAR.
Untuk fase selanjutnya pengguna Livin’ by Mandiri akan dapat mengirim uang ke 14 kurs lagi. Harapannya dapat tercapai pada kuartal IV tahun ini.
Bagaimana Mandiri dan Wise menghadapi tantangan pertumbuhan tren digital?
Rolland: Kami harus bersaing dengan sesama teman fintech untuk merekrut para talent, salah satunya programmer, karena supply dan demandnya yang tinggi.
Tren digital juga tidak hanya fokus ke perbankan, melainkan sudah merambah ke seluruh segmen sehingga membuat perusahaan-perusahaan memerlukan kehadiran talent.
Hal kedua adalah soal edukasi ke customer, dan ini memerlukan usaha ekstra. Oleh karenanya kami fokus untuk merevisi user interface/user experience (UI/UX)-nya supaya lebih paham. Bahkan transfer valas ini pun beberapa kali kita revisi untuk improvement, dan sebisa mungkin kami mewujudkan perbaikan-perbaikan di aplikasi.
Elian: Kalau dari kami adalah bagaimana mendukung digitalisasi perbankan, terutama tentang solusi Wise platform. Kami juga ingin menjadi mitra yang baik untuk perbankan, seperti Bank Mandiri, bahkan kami melihat masih ada peluang kerja sama antar fintech dan perbankan yang dapat menghasilkan win-win solution bagi para customer.
Biasanya fintech lebih agile (gesit) dalam menghadirkan solusi atau inovasi berbasis teknologi untuk customer. Sementara di perbankan memiliku expertise tentang kebutuhan customer, mempunyai coverage yang sangat luas untuk pasar domestic dan infrastruktur yang kuat. Keduanya dapat bersinergi yang dapat menciptakan win-win solution yang menguntungkan customer.
Bagaimana sistem keamanan Wise untuk menjaga data pribadi nasabah?
Dalam industri pembayaran biasanya ada dua keamanan, yakni dari sisi IT dan anti-money laundering (AML). Untuk AML, Wise bisa dibilang menjadi salah satu fintech yang memiliki lisensi paling banyak di seluruh dunia. Ini karena kami sangat patuh dengan regulasi, dan kami sendiri membangun mekanisme anti money laundering yang sangat kuat secara internal berdasarkan best practice cara menghadapi money laundering, fraud atau aneka scam.
Sementara dari sisi IT, Wise telah berinvestasi cukup besar untuk memastikan bahwa secara security kami aman dari hacker. Kami pun mematuhi sertifikasi ISO27001 dan Payment Card Industry Data Security Standard (PCI DSS), sehingga cukup yakin kami mempunyai pertahanan yang kuat dan memadai.
Bagaimana Mandiri menyoroti kolaborasinya dengan Wise?
Remitansi adalah salah satu bisnis yang ada di Mandiri, untuk itu saya mau meng-highlight bahwa Bank Mandiri sebagai agent of change dan agent of development pemerintah. Seperti yang kita tahu, pemerintah memiliki semangat untuk menarik devisa sebanyak-banyaknya dari diaspora, supaya berinvestasi di Indonesia, dan ini yang sedang dilakukan Mandiri untuk mendukung semangat itu.
Harapannya, nanti para diaspora kita tidak perlu lagi buka rekening bank lokal, cukup memakai rekening Mandiri untuk memenuhi segala kebutuhan, mulai dari transfer valas, investasi, membeli SBN, ORI, saham.
Improvement seperti apa yang akan dilakukan Wise ke depan?
Kami sudah banyak menghasilkan kemajuan dengan Mandiri, termasuk mengeksplorasi fitur-fitur baru atau layanan yang dibutuhkan para customer. Kami juga ingin para mitra kami mengeksplorasi fitur-fitur yang diluncurkan melalui kerja sama dengan platform Wise.
Dari sisi bisnis, kami akan terus mengeksplorasi platform kami dengan mendengarkan feed back dari kebutuhan para konsumen. Kami juga berencana mengaplikasikan layanan-layanan dari luar negeri ke dalam Indonesia, berdasarkan masukan dari konsumen kami.
Saat ini, ada beberapa yang sedang kami eksplorasi. Semisal layanan multicurrency account atau global debit card. Tetapi itu masih step by step, sekarang fokus kami masih di bisnis remitansi untuk memberikan layanan terbaik dari sisi kecepatan, harga, kenyamanan, dan transparansi.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum
Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.Dharma Pongrekun Ajukan Uji Materi UU Kesehatan ke MK
Mantan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Dharma Pongrekun resmi mendaftarkan permohonan uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (13/5/2026).Jasa Marga: Volume Lalin Keluar Jabotabek Naik 25,12%
Total volume lalu lintas yang meninggalkan wilayah Jabotabek di H-1 (13/5) Hari Kenaikan Yesus Kristus meningkat 25,12%.Wamen Nezar: Permainan Tradisional Jadi “Tombol Jeda” Anak dari Dominasi Ruang Digital
Wamen Komdigi Nezar Patria sebut permainan tradisional jadi "tombol jeda" efektif bagi anak untuk imbangi hidup di ruang digital.Prediksi Harga Emas Antam (ANTM) Jumat 15 Mei 2026
Harga emas Antam (ANTM) diperkirakan bergerak menguat pada Jumat,15 Mei 2026. Harga emas Antam diprediksi naik ke level iniKenaikan Pangkat Kapolda Metro Jaya Dinilai sebagai Langkah Strategis
Pengamat sosial Dr. Serian Wijatno menilai kenaikan pangkat Irjen Pol Asep Edi Suheri menjadi Komisaris Jenderal (Komjen) sebagai Kapolda Metro Jaya merupakan langkah strategis di tengah kompleksitas tantangan keamanan di Jakarta.Tag Terpopuler
Terpopuler




