DBS Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 5,1%
JAKARTA, investor.id - DBS memangkas proyeksi pertumbuhan Indonesia dari 5,3% menjadi 5,1% untuk tahun 2026, meskipun realisasi pertumbuhan pada awal tahun sesuai dengan prakiraan sebelumnya. DBS melihat potensi perlambatan pada triwulan-triwulan selanjutnya karena penurunan aktivitas riil dan keterbatasan dukungan fiskal.
Hal ini diungkapkan DBS melalui laporan bertajuk "Indonesia growth: Firm start, speed bump ahead". Radhika Rao, Ekonom Senior DBS untuk kawasan Uni Eropa, India, Indonesia, menyampaikan bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 sebesar 5,61% secara tahunan (year on year/yoy) sesuai dengan prakiraan.
“Ini menandai pertumbuhan kuartalan tercepat sejak kuartal ketiga 2022,” ungkap Radhika Rao dalam laporan tersebut, seperti dikutip pada Kamis (14/5/2026).
Menurut dia, momentum ekonomi Indonesia cukup tangguh pada awal tahun. Kondisi ini didukung oleh peningkatan konsumsi akibat perayaan keagamaan, langkah-langkah stimulus fiskal termasuk tunjangan hari raya (THR), efek basis yang rendah (low base effects), belanja pemerintah yang kuat, serta sentimen pasar yang lebih optimis.
“Namun, aktivitas mulai melambat pada akhir kuartal sekitar bulan Maret, akibat volatilitas di pasar saham, serta perusahaan-perusahaan yang menghadapi gangguan pasokan dan biaya tinggi akibat memanasnya ketegangan antara AS dan Iran,” ucap Radhika Rao.
Di samping itu, konsumsi naik sebesar 7% yoy, didorong oleh peningkatan belanja rumah tangga dan pemerintah. Pertumbuhan investasi juga tetap kuat pada tingkat sekitar 6% yoy. Ekspor bersih menjadi faktor penghambat utama pada periode tersebut, yang mengurangi angka pertumbuhan keseluruhan sebesar 1,2 poin persentase.
Secara keseluruhan, DBS memandang bahwa triwulan I-2026 kemungkinan menandai puncak pertumbuhan, dengan momentum yang diperkirakan akan melambat pada triwulan-triwulan selanjutnya. Sebabnya yaitu aktivitas riil berpotensi terkendala oleh tingginya harga energi dan tekanan untuk menyeimbangkan keuangan publik.
Perlambatan setelah pertumbuhan mencapai puncak di awal tahun itu menjadi dasar DBS untuk saat ini memangkas target pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk sepanjang tahun 2026. Menurut dia, Indonesia memulai 2026 dengan fondasi ekonomi yang positif, namun risiko eksternal membuat proyeksi pertumbuhan tahunan perlu disesuaikan.
“Dengan mempertimbangkan risiko-risiko tersebut, kami sedikit merevisi turun proyeksi pertumbuhan kami menjadi 5,1% dibandingkan dengan 5,3% saat ini untuk tahun 2026,” jelas Radhika Rao.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Jasa Marga: Volume Lalin Keluar Jabotabek Naik 25,12%
Total volume lalu lintas yang meninggalkan wilayah Jabotabek di H-1 (13/5) Hari Kenaikan Yesus Kristus meningkat 25,12%.Wamen Nezar: Permainan Tradisional Jadi “Tombol Jeda” Anak dari Dominasi Ruang Digital
Wamen Komdigi Nezar Patria sebut permainan tradisional jadi "tombol jeda" efektif bagi anak untuk imbangi hidup di ruang digital.Prediksi Harga Emas Antam (ANTM) Jumat 15 Mei 2026
Harga emas Antam (ANTM) diperkirakan bergerak menguat pada Jumat,15 Mei 2026. Harga emas Antam diprediksi naik ke level iniKenaikan Pangkat Kapolda Metro Jaya Dinilai sebagai Langkah Strategis
Pengamat sosial Dr. Serian Wijatno menilai kenaikan pangkat Irjen Pol Asep Edi Suheri menjadi Komisaris Jenderal (Komjen) sebagai Kapolda Metro Jaya merupakan langkah strategis di tengah kompleksitas tantangan keamanan di Jakarta.Pengawasan Barcode BBM Perlu Diperketat
Pengawasan distribusi BBM diminta diperketat menyusul antrean panjang dan dugaan penyalahgunaan barcode subsidi.DBS Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 5,1%
DBS merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi RI tahun 2026 dari 5,3% menjadi 5,1%. Asumsikan aktivitas riil menurun dan ruang fiskal terbatas.Tag Terpopuler
Terpopuler






