6 Resep OJK Memugar Asuransi Kesehatan
JAKARTA, investor.id – Persoalan yang menumpuk pada kinerja produk dan layanan asuransi kesehatan telah menuai perhatian dari berbagai pihak. Ini adalah persoalan holistik yang melibatkan setiap elemen dalam ekosistem sektor kesehatan, sehingga memerlukan pemugaran secara menyeluruh.
Produk asuransi kesehatan ini telah mencatatkan rasio klaim melewati level 100%, yang membuat sebuah perusahaan asuransi secara praktis merugi dalam pengelolaan pelayanan ini. Daripada terus merugi, beberapa pemain akhirnya memilih mundur dari bisnis tersebut. Tanpa adanya pembenahan yang berarti, pemain lain yang masih bertahan saat ini melayani produk asuransi kesehatan bukan tidak mungkin siap menyusul.
Untuk kemungkinan yang lebih suram, industri asuransi jiwa mungkin tidak lagi tertarik untuk menyediakan layanan asuransi kesehatan. Sekalipun ada, premi yang ditawarkan akan lebih mahal, termasuk berlaku asesmen yang lebih ketat. Maka, akan semakin sedikit masyarakat yang dapat mengakses asuransi kesehatan.
Menurut Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), fenomena lonjakan klaim telah terjadi sejak dua tahun belakangan ini, persis setelah kasus penularan Covid-19 pandemi mulai melandai dan masyarakat mulai lebih berani memeriksakan diri ke rumah sakit. Sebagai gambaran, rasio klaim asuransi kesehatan telah menembus 138% pada kuartal I-2024.
Persoalan ini telah mendapatkan perhatian regulator, yang salah satunya adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (PPDP) OJK, Ogi Prastomiyono menyatakan tengah melakukan pembenahan ekosistem asuransi kesehatan.
“OJK saat ini sedang melakukan pembenahan ekosistem asuransi kesehatan, dengan tujuan untuk mendorong praktek pengelolaan risiko yang memadai dan efisiensi pengelolaan biaya kesehatan,” ungkap Ogi dalam keterangan tertulis kepada wartawan, dikutip pada Kamis (13/6/2024).
Perihal pembenahan ini, OJK mengungkapkan enam resep yang perlu dijalankan para pelaku usaha dalam ekosistem asuransi kesehatan, antara lain:
1. Efisiensi biaya medis
Menurut Ogi, penting untuk seluruh pemain dalam ekosistem ini didorong untuk melakukan efisiensi biaya medis. Seperti yang diketahui, inflasi medis di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan jauh berada di atas inflasi umum. Pada 2024 saja, inflasi medis diproyeksi lompat ke posisi 13%.
2. Masyarakat hidup sehat
Ogi mengatakan, perbaikan ekosistem asuransi kesehatan tentu tidak lepas dari peran masyarakat yang juga merupakan nasabah. Oleh karena itu, mereka perlu didorong untuk memulai kebiasaan hidup sehat sehingga dapat mendorong produktivitas yang lebih panjang dan potensi sakit yang lebih kecil. Pada saatnya, biaya yang dibutuhkan bisa lebih efisien.
“Hal ini dilakukan melalui sosialisasi yang masif terhadap seluruh pemegang polis asuransi tentang pentingnya hidup sehat. Materi sosialisasi diperoleh dari infografis yang disediakan oleh Rumah Sakit rekanan,” jelas Ogi.
OJK sendiri, kata dia, ke depan mendorong pelaku usaha di ekosistem ini agar menggunakan teknologi digital dan Gen AI. Pemanfaatan teknologi ini untuk mereka dapat mulai membangun database yang dapat digunakan dalam "telekonsultasi", semacam konsultasi dengan dokter umum secara digital. Ini akan meminimalkan kunjungan ke rumah sakit (RS).
“Saat ini OJK juga mendorong pemanfaatan fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti klinik untuk memberikan layanan kesehatan,” imbuh Ogi.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






