Jumat, 15 Mei 2026

Kenaikan Biaya Perawatan Kesehatan Makin Menekan Kondisi Finansial Masyarakat

Penulis : Happy Amanda Amalia
23 Aug 2024 | 16:56 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Biaya perawatan kesehatan yang meningkat. (Freepik)
Ilustrasi Biaya perawatan kesehatan yang meningkat. (Freepik)

JAKARTA, investor.id – Biaya perawatan kesehatan dan biaya hidup yang meningkat diklaim telah menjadi kekhawatiran utama bagi masyarakat Indonesia. Hal ini turut berdampak pada kepercayaan diri dalam mencapai tujuan kesejahteraan mereka.

Mengutip dari "Manulife Asia Care Survey 2024," tekanan finansial semacam itu telah mendorong individu untuk mengevaluasi kembali kesiapan dalam menghadapi masa pensiun dan kebutuhan medis yang tidak terduga, yang tercermin dalam tujuan finansial utama mereka.

Berdasarkan Indeks Kesiapan Masa Depan dari survei Manulife, yang mengukur persepsi masyarakat terhadap kesejahteraan fisik, mental, dan finansial saat ini dan di masa depan. Pada indeks kesejahteraan menunjukkan skor 89 (menggunakan skala 1 sampai 100) atau melebihi rerata negara-negara lain di Asia.

Tetapi skor untuk mereka yang merasa dapat mencapai kesejahteraan yang diinginkan hanya 81. Catatan ini mencerminkan kurangnya kepercayaan diri akan masa depan, walaupun skor tersebut ada di level lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia.

ADVERTISEMENT

Menurut Presiden Direktur Manulife Indonesia Ryan Charland, kekurangan kepercayaan diri dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Tetapi yang utama adalah prospek kesehatan yang memburuk di usia tua dan meningkatnya biaya perawatan medis.

Dari seluruh responden, 67% menyatakan kenaikan biaya perawatan kesehatan merupakan tantangan utama bagi kesejahteraan finansial secara keseluruhan. Mereka mengakui bahwa kesehatan fisik merupakan faktor terpenting (37%) yang berdampak pada kesejahteraan finansial (33%) dan mental (31%) saat mereka memandang 10 tahun ke depan.

Ada pun langkah-langkah yang mereka ambil untuk membantu mempersiapkan masa pensiun dan kebutuhan medis yang tidak terduga, adalah dengan memiliki tabungan yang cukup untuk hari tua (46%), kebebasan finansial di masa pensiun (43%), pendapatan pasif di masa pensiun (38%), serta tabungan yang cukup untuk kebutuhan perawatan kesehatan (28%).

Namun dengan usia harapan hidup di Indonesia yang makin panjang, kebutuhan akan perencanaan jangka panjang yang lebih matang menjadi lebih penting. Sebagai informasi, usia harapan hidup rata-rata di Indonesia saat ini mencapai 73 tahun, meningkat dari 64 tahun pada 1990.

Sedangkan berdasarkan indeks kesejahteran finansial, Indonesia mendapat skor 73, di atas rata-rata negara-negara lain di Asia (67). Ini didasari bahwa pasangan yang sudah menikah (75%) memiliki rasa kesejahteraan finansial yang lebih baik dibandingkan yang masih lajang (64%), dan di antara pasangan tersebut, mereka yang sudah memiliki anak merasa lebih sejahtera.

Ryan mengungkapkan, masyarakat di negara-negara di Asia hidup lebih lama dan populasinya makin menua. Dengan meningkatnya kebutuhan perawatan dan permintaan akan layanan kesehatan, kemungkinan besar harga yang berkaitan dengan medis akan naik lebih cepat daripada inflasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, kekhawatiran para responden bisa dipahami.

“Menemukan solusi untuk mengurangi dampak inflasi merupakan salah satu fokus kami. Seorang profesional keuangan dapat membantu menemukan produk yang tepat untuk memberikan perlindungan kesehatan, dan lebih jauh lagi, juga perlindungan aset,” ujarnya.

Sehubungan dengan tingkat literasi finansial, survei menunjukkan bahwa kemampuan keuangan kelompok yang masih lajang lebih rendah dibandingkan yang sudah menikah.

Ada pun survey ini dilakukan berdasarkan pada jangkauan dan jenis investasi, asuransi dan tabungan yang mereka miliki. Tingkat literasi keuangan yang lebih rendah dan kekhawatirannya seputar kesejahteraan finansial dapat ditunjukkan bahwa baru 42% lajang yang memiliki perencana keuangan dibandingkan 63% dari yang sudah menikah.

Selain itu untuk mencapai tujuan keuangan, baru 45% dari total responden Indonesia mengatakan bakal menggunakan tabungan dan deposito bank, sementara 27% menyatakan mencari pekerjaan tambahan, dan 24% memiliki investasi saham, obligasi, dan instrumen keuangan lainnya.

Di antara mereka yang masih lajang, kekhawatiran terbesar yang dihadapi adalah kurang atau berkurangnya pendapatan (57%), jauh di atas pasangan yang sudah menikah (52%). Mereka juga khawatir akan kurangnya tabungan (52%), lebih banyak dari pasangan yang sudah menikah (48%).

Secara keseluruhan, empat dari lima orang yang disurvei di Indonesia memiliki asuransi (80%), dan 40% responden mengaku memiliki asuransi kesehatan. Namun, mereka yang masih lajang memiliki lebih sedikit produk tabungan, lebih sedikit asuransi, dan tidak memiliki produk investasi sebanyak mereka yang sudah menikah. Survei ini menunjukkan, 92% responden memiliki produk perbankan, terutama tabungan dalam mata uang lokal (85%), sementara 78% memiliki investasi, termasuk saham (28%), emas (57%), reksadana (31%) dan obligasi (11%).

Inflasi Biaya Perawatan

Survei juga mengungkapkan persepsi responden terhadap inflasi biaya perawatan kesehatan selama 12 bulan terakhir adalah sebesar 26%, di atas rata-rata negara-negara di Asia (23%) dan lebih besar dua kali lipat dari angka yang sebenarnya2. Responden sangat khawatir dengan kenaikan harga pada resep obat (61%), perawatan kesehatan untuk pencegahan (42%), dan rawat inap (41%). Penyakit yang paling dikhawatirkan adalah penyakit jantung (40%), stroke (35%), obesitas (24%), serta kanker dan diabetes (keduanya 22%).

Perlindungan kesehatan responden pun masih rendah, terutama untuk penyakit kritis, seperti rawat jalan 40%, rawat inap 34%, kecelakaan 30%, dan hanya 15% untuk penyakit kritis. Bahkan, angka-angka tersebut sebagian besar akan turun dalam beberapa tahun ke depan. Jaminan rawat jalan diprediksi turun menjadi 25%, rawat inap menjadi 27% dan kecelakaan menjadi 25%, namun hanya penyakit kritis yang sedikit lebih tinggi menjadi 18%.

“Masyarakat Indonesia memiliki investasi yang lebih beragam ketimbang negara lain di Asia, namun mereka amat bergantung pada tabungan. Hal ini beresiko tinggi karena uang pasti akan mengalami depresiasi, terutama ketika laju inflasi tinggi. Uang bukanlah jawaban,” kata Ryan.

Pilihan Menunda Pensiun

Sebagian besar responden di Asia merasa bahwa tunjangan dan cakupan kesehatan dari perusahaan tidak mencukupi. Hal ini terjadi pula di Indonesia dengan 74% responden memiliki pandangan serupa.

Bahkan ada 85% responden yang merasa perlu menambah tunjangan pensiun dan tunjangan hari tua yang mereka terima dari perusahaan. Selain itu, 60% dari mereka yang sudah menikah ingin menunda masa pensiun karena tanggung jawab finansial terhadap keluarga.

Pada umumnya di Asia dan di berbagai belahan dunia lainnya, alternatif untuk bergantung memiliki asuransi dan pensiun di hari tua adalah dengan memiliki anak supaya dapat menafkahi mereka di masa pensiun.

Tetapi pandangan tersebut makin memudar. Semisal di Indonesia, ada 44% responden mengatakan tidak mengharapkan anak-anak menafkahi mereka di masa pensiun. Persentase ini masih lebih tinggi dari semua pasar lain di kawasan Asia, kecuali Jepang (70%) dan Filipina (58%).

“Survei ini menunjukkan adanya kebutuhan bagi masyarakat Indonesia untuk merencanakan perlindungan kesehatan dengan lebih baik dan perusahaan asuransi memiliki peran penting untuk membantu mereka melakukan hal tersebut, terutama dalam mengubah persepsi mengenai biaya kesehatan dan berfokus pada kebutuhan individu yang spesifik. Dengan melakukan hal tersebut, setiap orang dapat menemukan cara untuk mengatasi kendala dalam perencanaan keuangan mereka secara lebih efektif,” demikian penjelasan Ryan.

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 16 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 20 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia