Jumat, 15 Mei 2026

Laba Asuransi Jiwa Longsor 10%

Penulis : Prisma Ardianto
17 Nov 2024 | 20:03 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi polis asuransi kesehatan. (Investor Daily/Prisma Ardianto)
Ilustrasi polis asuransi kesehatan. (Investor Daily/Prisma Ardianto)

JAKARTA, investor.id – Laba bersih perusahaan asuransi jiwa konvensional ambles 10,37% secara tahunan (year on year/yoy) hingga kuartal III-2024. Penyusutan perolehan laba dipengaruhi pendapatan premi yang masih terkontraksi, meskipun pos lain menunjukkan indikasi perbaikan.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi perolehan laba bersih industri asuransi jiwa pada sembilan bulan tahun ini. Indikator yang dimaksud khususnya mengenai kontraksi pendapatan premi.

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pendapatan premi asuransi jiwa terkontraksi 9,21% (yoy) menjadi Rp 117,87 triliun sampai dengan kuartal III-2024. Angka itu lebih rendah dari capaian Rp 129,82 triliun pada periode sama tahun lalu.

Dari segi nilai, terdapat penurunan pendapatan premi senilai Rp 11,95 triliun atau hampir menyentuh Rp 12 triliun. Menandai pengaruh besar penurunan premi unit link yang terjadi dalam dua tahun terakhir, meskipun premi produk tradisional bertumbuh positif.

ADVERTISEMENT

Masih dari sisi pendapatan-pendapatan, hasil investasi industri asuransi jiwa melejit 43,03% (yoy) menjadi Rp 24,84 triliun. Namun demikian, total pendapatan perusahaan asuransi jiwa masih terkontraksi 3,89% (yoy) menjadi Rp 139,36 triliun.

Beralih ke pos beban dan biaya, klaim dan manfaat dibayar perusahaan asuransi jiwa sebenarnya relatif berhasil ditahan dengan pertumbuhan tipis 0,76% (yoy) menjadi Rp 55,56 triliun. Bahkan, klaim penebusan unit berhasil ditekan 24,95% (yoy) menjadi 50,53 triliun.

Dengan tren seperti itu, total beban klaim dan manfaat perusahaan asuransi jiwa turun 12,44% (yoy) menjadi Rp 109,08 triliun. Industri ini juga bisa menekan beban usaha 6,55% (yoy) menjadi Rp 16,40 triliun sepanjang Januari-September 2024.

Meski begitu, hasil laba bersih industri asuransi jiwa harus rela menurun sampai dengan 10,37% (yoy) menjadi Rp 4,54 triliun sampai kuartal III-2024. Angka itu lebih rendah dari perolehan kuartal III-2023 yang sebesar Rp 5,06 triliun.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 43 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 45 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia