Laba Multifinance Mulai Longsor
JAKARTA, investor.id – Laba bersih multifinance akhirnya bergerak menurun pada Oktober 2024, setelah beberapa waktu hanya mencatat pertumbuhan mini. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil tersebut.
Mengacu Statistik Perusahaan Pembiayaan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba bersih multifinance pada September 2024 masih tumbuh kendati tipis yakini 0,86% year on year (yoy) menjadi Rp 16,97 triliun. Padahal di saat sama, bisnis piutang pembiayaan masih naik 9,39% (yoy) menjadi Rp 501,78 triliun.
Berdasarkan catatan Investor Daily, perolehan laba bersih multifinance memang hanya bergerak dalam kisaran kecil dalam beberapa waktu belakangan. Seperti pada bulan sebelumnya atau Agustus 2024 dengan laba bersih meningkat 2,44% (yoy), sementara piutang pembiayaan masih sempat naik dalam kisaran double digit yaitu 10,18% (yoy).
Baca Juga:
Relaksasi Suku Bunga Pinjol KontradiktifSetelah hanya mampu tumbuh mini, laba bersih multifinance akhirnya ambles atau bergerak menurun. Pada Oktober 2024, laba bersih multifinance turun 3,53% (yoy) menjadi Rp 18,72 triliun. Sebagai perbandingan, laba bersih pada periode sama tahun sebelumnya adalah Rp 19,41 triliun.
Faktor utamanya adalah lonjakan total beban multifinance yang sebesar 17,27% (yoy) menjadi Rp 90,18 triliun. Sedikitnya ada tiga hal yang mendorong kinerja beban tersebut. Pertama, beban bunga multifinance yang naik 16,51% (yoy) menjadi Rp 23,11 triliun.
Kedua, beban pemasaran yang mencatat kenaikan sampai dengan 27,53% (yoy) menjadi Rp 8,17 triliun. Menandai multifinance tetap ekspansif meski dihadapkan tekanan kinerja keuangan.
Ketiga, adalah penyisihan piutang pembiayaan sebesar Rp 19,32 triliun atau naik 27,84% (yoy) pada Oktober 2024. Kendati demikian, pembiayaan bermasalah masih dalam rentang yang terjaga, tercermin dari rasio non performing financing (NPF) per Oktober 2024 yang sebesar 2,60%.
Melambat Empat Bulan Berturut-Turut
Di sisi lain, pendapatan hanya naik 12,58% (yoy) menjadi Rp 114,05 triliun pada Oktober 2024. Didorong pendapatan bunga dari bisnis pembiayaan seperti pembiayaan investasi, pembiayaan modal kerja, dan pembiayaan multiguna.
Ditilik dari bisnis, kinerja piutang pembiayaan dari multifinance tercatat tumbuh 8,37% (yoy) menjadi Rp 501,89 triliun. Dalam perkembangannya, kinerja pembiayaan itu telah melambat selama empat bulan berturut-turut dan menjadi pertumbuhan terendah sejak Juli 2024.
Imbas perlambatan itu, realisasi pertumbuhan piutang pembiayaan multifinance kini semakin menjauh dari target yang ditetapkan OJK. Seperti diketahui, OJK mematok piutang pembiayaan dapat tumbuh 10-12% (yoy) pada tahun 2024 ini.
Meski telah dicanangkan dapat tumbuh kisaran double digit pada tahun ini, tetapi target pertumbuhan itu sebenarnya juga masih lebih rendah dari realisasi di akhir tahun 2023. Piutang pembiayaan multifinance pada akhir 2023 mampu tumbuh sampai level 13,23% (yoy).
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






