Jeblok di Angka Rp 17 Ribuan, Astronacci Prediksi Rupiah Makin Loyo Dipukul Dolar AS
Adapun gonjang-ganjing pasar rupiah tentu saja tidak sampai di sana. Isu pelemahan rupiah hingga Rp 20.000 per dolar AS mulai ramai di masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut Gema memberikan pandangannya untuk tetap berpikir realistis.
“Tekanan memang masih ada, tapi bukan berarti pasti menuju 20 ribu. Investor perlu rasional. Jangan membuat keputusan ekstrem hanya karena rumor. Fokus pada risk management dan tunggu sinyal teknikal yang jelas,” jelas dia.
Meski demikian, dia yang telah berkecimpung di dunia keuangan dan investasi selama lebih dari 20 tahun juga memberikan masukan kepada pemerintah. Salah satunya pemerintah harus responsif. Komunikasi fiskal dan moneter yang kuat, intervensi Bank Indonesia (BI) yang tepat waktu, dan menjaga kepercayaan investor menjadi kunci untuk meredam volatilitas ini.
Berkaitan dengan pelemahan nilai rupiah Gema memiliki pandangan yang serius.
“Kami melihat potensi tekanan masih ada, apalagi jika kondisi geopolitik dan inflasi global belum mereda. Namun kami akan terus memantau sinyal teknikal terbaru dengan metode time trading,” jelas.
Untuk update terkini seputar rupiah, saat ini rupiah akan mulai masuk ke level Rp 17.500 per dolar AS dan bertahan di level tersebut untuk beberapa waktu. Dalam hal ini, BI akan mulai intervensi. Target berikutnya akan sampai pada level Rp 18.200 per dolar AS sesuai dengan target harmonic fibonacci dan pandangan secara makro ekonomi dari tariff war yang ada saat ini, termasuk adanya ancaman inflasi dunia yang akan semakin naik.
Fenomena panic buying dollar di tengah masyarakat juga menjadi hal yang patut diperhatikan, khususnya investor ritel.
“Panic buying bukanlah strategi investasi yang sehat. Investor sebaiknya memahami tren pasar, bukan hanya ikut-ikutan. Jika ingin lindung nilai, lakukan secara terukur, bukan panik. Diversifikasi aset tetap penting — tidak hanya dolar AS, tapi juga emas atau aset lain yang memiliki sifat lindung,” pungkas Gema Goeyardi.
Editor: Thomas Harefa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






