Jumat, 15 Mei 2026

Jeblok di Angka Rp 17 Ribuan, Astronacci Prediksi Rupiah Makin Loyo Dipukul Dolar AS

Penulis : Thomas E. Harefa
8 Apr 2025 | 16:32 WIB
BAGIKAN
Suasana penukaran mata uang dolar Amerika ke mata uang rupiah di salah satu pusat penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Minggu (6/4/2025). (Foto: B-Universe/ Joanito De Saojoao)
Suasana penukaran mata uang dolar Amerika ke mata uang rupiah di salah satu pusat penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Minggu (6/4/2025). (Foto: B-Universe/ Joanito De Saojoao)

Adapun gonjang-ganjing pasar rupiah tentu saja tidak sampai di sana. Isu pelemahan rupiah hingga Rp 20.000 per dolar AS mulai ramai di masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut Gema memberikan pandangannya untuk tetap berpikir realistis.

“Tekanan memang masih ada, tapi bukan berarti pasti menuju 20 ribu. Investor perlu rasional. Jangan membuat keputusan ekstrem hanya karena rumor. Fokus pada risk management dan tunggu sinyal teknikal yang jelas,” jelas dia.

Meski demikian, dia yang telah berkecimpung di dunia keuangan dan investasi selama lebih dari 20 tahun juga memberikan masukan kepada pemerintah. Salah satunya pemerintah harus responsif. Komunikasi fiskal dan moneter yang kuat, intervensi Bank Indonesia (BI) yang tepat waktu, dan menjaga kepercayaan investor menjadi kunci untuk meredam volatilitas ini.

ADVERTISEMENT

Berkaitan dengan pelemahan nilai rupiah Gema memiliki pandangan yang serius.

“Kami melihat potensi tekanan masih ada, apalagi jika kondisi geopolitik dan inflasi global belum mereda. Namun kami akan terus memantau sinyal teknikal terbaru dengan metode time trading,” jelas.

Untuk update terkini seputar rupiah, saat ini rupiah akan mulai masuk ke level Rp 17.500 per dolar AS dan bertahan di level tersebut untuk beberapa waktu. Dalam hal ini, BI akan mulai intervensi. Target berikutnya akan sampai pada level Rp 18.200 per dolar AS sesuai dengan target harmonic fibonacci dan pandangan secara makro ekonomi dari tariff war yang ada saat ini, termasuk adanya ancaman inflasi dunia yang akan semakin naik.

Fenomena panic buying dollar di tengah masyarakat juga menjadi hal yang patut diperhatikan, khususnya investor ritel. 

Panic buying bukanlah strategi investasi yang sehat. Investor sebaiknya memahami tren pasar, bukan hanya ikut-ikutan. Jika ingin lindung nilai, lakukan secara terukur, bukan panik. Diversifikasi aset tetap penting — tidak hanya dolar AS, tapi juga emas atau aset lain yang memiliki sifat lindung,” pungkas Gema Goeyardi.

Editor: Thomas Harefa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 11 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 43 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 54 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 58 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia