Jumat, 15 Mei 2026

Nasib Asuransi Pengangkutan Setelah Geger Tarif Tinggi AS

Penulis : Prisma Ardianto
25 Apr 2025 | 20:27 WIB
BAGIKAN
Kapal tunda menarik kapal kontainer usai proses bongkar muat peti kemas di PT Terminal Peti Kemas (TPS), Surabaya, Jawa Timur, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/Rizal Hanafi/Spt)
Kapal tunda menarik kapal kontainer usai proses bongkar muat peti kemas di PT Terminal Peti Kemas (TPS), Surabaya, Jawa Timur, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/Rizal Hanafi/Spt)

JAKARTA, investor.id – Kebijakan tarif balasan atau tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) bisa memberikan pukulan ke sektor perasuransian Indonesia, salah satunya lini bisnis asuransi pengangkutan (marine cargo) dari sektor asuransi umum dan reasuransi. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), asuransi pengangkutan juga berpeluang dapat berkah dari situasi saat ini.

Seperti yang diketahui, tarif tinggi AS ke banyak negara semakin menimbulkan ketidakpastian global. Terbaru, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 dari sebesar 3,6% menjadi 2,8%.

Dampak dari ketidakpastian ekonomi yang sudah terjadi dan diperparah dengan kebijakan tarif resiprokal AS juga dipercaya memengaruhi perekonomian Indonesia. IMF juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,1% menjadi 4,7% pada 2025.

ADVERTISEMENT

Meski porsi ekspor Indonesia terhadap AS relatif kecil, termasuk kontribusinya terhadap produk domestik bruto hanya sekitar 2%, dampak secara tidak langsung dari kebijakan tarif AS bisa tetap dirasakan Indonesia. Salah satu yang disebut-sebut dapat ikut terdampak adalah sektor perasuransian, khususnya lini bisnis asuransi pengangkutan.

Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (KE PPDP) OJK menyampaikan, saat ini pemerintah Indonesia tengah menempuh jalur negosiasi dalam rangka menjaga hubungan perdagangan dengan AS. Salah satu strategi yang dicanangkan pemerintah adalah meningkatkan volume komoditas impor dari AS, terutama produk agrikultur dan engineering.

Selain itu, kata dia, pemerintah juga menawarkan pemberian insentif fiskal dan nonfiskal kepada AS, yang diharapkan dapat membuka barang impor dari AS ke Indonesia dan juga turut menjaga daya saing ekspor Indonesia ke AS. Dari sana, asuransi pengangkutan berpeluang mendapatkan bisnis baru dari hasil negosiasi.

“Hal ini diharapkan akan menjaga asuransi marine cargo tetap tumbuh dengan adanya stabilitas bahkan peningkatan volume perdagangan,” ujar Ogi kepada wartawan, pada Jumat (25/4/2025).

Dia menerangkan, meskipun tengah menghadapi tantangan, prospek asuransi pengangkutan di Indonesia tetap terbuka. Sampai dengan akhir tahun 2024, premi asuransi pengangkutan masih menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 3,29% year on year (yoy).

“Meskipun sampai dengan akhir Februari 2025, premi asuransi marine cargo sedikit mengalami penurunan yaitu sebesar -0,44% yoy,” tandas Ogi.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 50 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia