Jumat, 15 Mei 2026

Industri Asuransi Butuh Transformasi Digital Atasi Ketimpangan Kinerja 

Penulis : Harso Kurniawan
6 Mei 2025 | 20:48 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Pengisian dokumen klaim asuransi. (Freepik)
Ilustrasi Pengisian dokumen klaim asuransi. (Freepik)

JAKARTA, Investor.id - Industri asuransi Indonesia tengah menghadapi tantangan besar berupa ketimpangan kinerja antara asuransi jiwa, asuransi umum, dan reasuransi. Pada titik ini, industri asuransi membutuhkan transformasi digital demi mengatasi tantangan berupa kesenjangan layanan dan respons cepat kebutuhan pasar. 

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, ketimpangan kinerja signifikan sepanjang 2024. Sektor asuransi jiwa mencatatkan laba setelah pajak sebesar Rp 8,86 triliun, naik 32,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, sektor asuransi umum dan reasuransi membukukan kerugian masing-masing sebesar Rp 8,93 triliun dan Rp 333,65 miliar. 

Sementara itu, tingkat penetrasi asuransi umum terhadap produk domestik bruto (PDB) masih stagnan di angka 0,49%, menurut laporan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI). Fakta ini menunjukkan, di balik pertumbuhan pada satu sisi, industri secara keseluruhan masih menghadapi persoalan mendasar, yakni kesenjangan dalam layanan, lambannya respons terhadap kebutuhan pasar, dan underutilisasi data pelanggan. 

ADVERTISEMENT

Di saat yang sama, ekspektasi konsumen terhadap kecepatan dan personalisasi layanan semakin tinggi. “Banyak perusahaan punya data, tapi tidak tahu harus mulai dari mana,” kata Aina Neva Fiati, managing director iSystem Asia, dalam siaran pers, Selasa (6/5/2025).  

Hal itu terjadi, kata dia, bukan karena mereka tak punya teknologi, tapi pendekatan yang digunakan terlalu teknis dan tidak bisa langsung dipakai oleh tim bisnis. Artinya, digitalisasi tidak lagi cukup hanya menghadirkan dashboard atau tools yang kompleks. 

Hal yang dibutuhkan saat ini, kata dia, adalah sistem yang bisa dipakai langsung oleh tim pemasaran, layanan pelanggan, bahkan manajemen lini depan, tanpa harus bergantung penuh pada divisi TI. Sebab, bagi banyak perusahaan, kecepatan menjadi faktor penentu. 

Di era pasca-pandemi, dia melanjutkan, pelanggan semakin mudah berpindah jika merasa tidak dipahami atau dilayani secara personal. Solusi yang hanya fokus pada otomasi administratif tidak lagi memadai. 

“Hal yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar digital, tapi digital platform yang bisa berpikir, menyesuaikan, dan bereaksi cepat terhadap data pelanggan,” pungkas Aina. 

Menjawab kebutuhan tersebut, iSystem Asia bersama Creatio akan menggelar diskusi yang dikemas dalam program “Lunch & Learn: AI Revolution for CRM Insurance”, Kamis (8/5/2025) di Jakarta. 

Creatio, vendor global untuk platform no-code, memperkenalkan inovasi terbarunya yakni Creatio AI, teknologi yang yang menjadikan praktik CRM lebih powerful dari sebelumnya. Produk ini merupakan platform no-code AI yang secara khusus dikembangkan untuk sektor asuransi, dengan fokus pada optimalisasi data pelanggan, prediksi risiko churn, rekomendasi produk berbasis perilaku, hingga otomasi proses penjualan melalui automated lead scoring. 

Sistem ini memungkinkan perusahaan menjalankan strategi personalisasi secara instan, tanpa perlu menunggu pengembangan teknis yang memakan waktu. CreatioAI diklaim mampu mempercepat proses pengambilan keputusan, menurunkan tingkat kehilangan prospek, dan meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan, dengan antarmuka yang ramah pengguna dan arsitek.

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia