Jumat, 15 Mei 2026

Nasib Kartu Kredit di Tengah Serbuan BNPL

Penulis : Prisma Ardianto
26 Mei 2025 | 18:38 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi kartu kredit. (Foto: AP Photo/Jenny Kane, File)
Ilustrasi kartu kredit. (Foto: AP Photo/Jenny Kane, File)

JAKARTA, investor.id – Kinerja kartu kredit masih tumbuh positif di tengah serbuan layanan ‘beli sekarang, bayar nanti’ alias Buy Now Pay Later (BNPL). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun menilai layanan kartu kredit berjalan beriringan dengan BNPL.

Layanan BNPL yang belakangan jadi primadona masyarakat Indonesia punya model bisnis yang beririsan dengan layanan kartu kredit. BNPL menawarkan layanan pinjaman atas suatu transaksi ekonomi seperti barang dan lainnya, seperti yang juga ditawarkan oleh kartu kredit.

BNPL memang masih memiliki porsi kecil terhadap total kredit perbankan, tapi tak menutup kesempatan untuk mengambil peran besar di masa mendatang. Berdasarkan laporan OJK, porsinya baru 0,29% atau senilai Rp 22,78 triliun per Maret 2025.

ADVERTISEMENT

Namun demikian, pertumbuhan BNPL cukup tinggi yaitu 32,14% year on year (yoy), jauh meninggalkan rata-rata pertumbuhan kredit yang hanya sebesar 9%. Bahkan, jumlah penggunanya telah mencapai 24,59 juta rekening pada Maret 2025, meningkat hampir 1 juta rekening dibandingkan Februari 2025 yang sebanyak 23,66 juta rekening.

Tak hanya di perbankan, kini layanan BNPL juga dapat dijalankan perusahaan pembiayaan. Di sana, layanan BNPL bahkan tercatat meningkat 39,3% yoy menjadi sebesar Rp 8,22 triliun. Kualitas BNPL di perusahaan pembiayaan mampu terjaga dengan NPL sebesar 3,48%.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae mengacu Statistik Sistem Pembayaran dan Infrastruktur Pasar Keuangan (SPIP) Bank Indonesia menyampaikan, transaksi kartu kredit dalam setahun terakhir pada Maret 2024-Februari 25 masih meningkat dibandingkan transaksi kartu kredit setahun sebelumnya.

“Sejalan dengan hal tersebut, jumlah kredit dengan menggunakan kartu kredit juga masih tumbuh,” ungkap Dian kepada wartawan, dikutip pada Senin (26/5/2025).

Dia menuturkan, jumlah kredit yang dicatatkan perbankan dari bisnis kartu kredit masih meningkat 7,28% yoy, dari Rp 95,84T pada Maret 2024 menjadi Rp 102,82 T di Maret 2025.

“OJK menilai bahwa baik penggunaan kartu kredit maupun BNPL, keduanya masih berjalan beriringan sebagai pilihan bagi masyarakat khususnya untuk mendapatkan akses pembiayaan konsumtif,” jelas Dian.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia