Jumat, 15 Mei 2026

OJK: Kebutuhan Kredit Usaha Masih Tinggi

Penulis : Prisma Ardianto
13 Jun 2025 | 17:19 WIB
BAGIKAN
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam konferensi pers di Jakarta. (Dok. Investor Daily)
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam konferensi pers di Jakarta. (Dok. Investor Daily)

JAKARTA, investor.id – Kredit perbankan dalam tren pelambatan dalam beberapa bulan terakhir, dimana pertumbuhan pun hanya sebesar 8,88% year on year (yoy) pada April 2025. Sedana dengan tren kredit, dana pihak ketiga (DPK) juga cuma naik 4,55% yoy.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae menerangkan, dari sisi supply, kondisi likuiditas perbankan masih cukup terjaga. Kondisi demikian mengindikasikan bahwa pada dasarnya perbankan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penyaluran kredit.

Selain itu, optimisme proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup baik. Keyakinan itu didorong sentimen percepatan belanja dan stimulus ekonomi pemerintah yang diharapkan dapat menarik minat investasi ke domestik dan meningkatkan permintaan kredit.

ADVERTISEMENT

“OJK menilai bahwa meskipun pertumbuhan DPK dan kredit sama-sama mengalami perlambatan, kebutuhan kredit usaha tetap lebih tinggi dibandingkan keinginan masyarakat untuk menyimpan dana di bank,” ungkap Dian kepada wartawan, dikutip Jumat (13/6/2025).

Sementara dari sisi demand, tekanan pada penyaluran kredit perbankan dipengaruhi tingginya ketidakpastian global yang antara lain disebabkan lambannya laju penurunan suku bunga acuan khususnya Fed Fund Rate (suku bunga acuan bank sentral AS), eskalasi trade war melalui kebijakan pengenaan tarif impor oleh AS, serta dinamika konflik geopolitik yang masih terjadi di beberapa kawasan, memang sedikit banyak telah memengaruhi ekonomi global maupun domestik.

Akhir-akhir ini, salah satu dampak yang terlihat adalah kecenderungan para investor untuk mengalihkan investasi ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven asset) atau investasi di sektor yang dinilai telah stabil meskipun dengan imbal hasil yang tidak terlalu tinggi.

“Di tengah dinamika global tersebut, kinerja penyaluran kredit nasional tetap tumbuh pada April 2025 sebesar 8,88%, meskipun melambat dibanding periode yang sama tahun 2024. Selain itu, risiko kredit perbankan tetap terjaga dengan baik, tercermin dari rasio NPL di bawah 3% serta tren coverage pencadangan CKPN yang relatif stabil,” kata Dian.

Dalam situasi sulit seperti saat ini, penting bagi OJK dan masing-masing bank melaksanakan secara rutin stress test. Dari stress test mandiri masing-masing bank, ditemukan bahwa tingkat permodalan perbankan saat ini masih sangat memadai untuk menghadapi risiko yang disebabkan oleh perubahan signifikan dalam kondisi makro ekonomi Indonesia, antara lain perlambatan pertumbuhan ekonomi, perubahan nilai tukar, maupun penurunan nilai surat-surat berharga.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia