Perang Dagang Berdampak Positif bagi Kredit Swasta
JAKARTA, investor.id – Fragmentasi global yang dipercepat oleh kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump memicu dorongan kuat untuk pasar kredit swasta. Ini juga relevan bagi pasar kredit swasta di Indonesia.
Moody’s dalam riset berjudul “Credit conditions turn negative as tariffs disrupt economic growth” menyatakan bahwa negara-negara eksportir komoditas seperti Indonesia, Mongolia dan Malaysia akan terdampak pada penurunan permintaan global dan China. Selanjutnya akan memengaruhi pendapatan fiskal dan membebani pertumbuhan ekonomi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR pada Selasa (1/2/2025) menyatakan, realisasi penerimaan pajak tahun 2025 akan meleset dari target. Karena alasan itu pula, defisit APBN 2025 diperkirakan melebar menjadi 2,78% terhadap PDB. Penerimaan negara tahun ini salah satunya tertahan, mengingat pemasukan yang tak setinggi tahun-tahun sebelumnya karena peningkatan harga komoditas.
Baca Juga:
Perlu Terobosan Tahan Pelebaran DefisitDalam kesempatan berbeda, Sri Mulyani bilang, dengan terbatasnya kapabilitas fiskal pemerintah saat ini, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) diharapkan bisa lebih giat menarik pembiayaan dan investasi dari swasta.
“Peranan Danantara akan sangat menentukan apakah investasi kita meningkat, karena danantara itu state own, kalau dominan tanpa bisa meng-attract (swasta) maka yang terjadi crowding out,” ucap Sri Mulyani dalam ke
Keterbatasan ruang fiskal ini yang pada gilirannya memberi jalan untuk kredit swasta berperan lebih. Kepala Kredit Swasta Global di Moody’s Ratings, Marc Pinto menyampaikan, pergeseran rantai pasok dan kendala fiskal yang dialami pemerintah membuka jalan bagi modal swasta memainkan peran yang lebih signifikan terhadap pembiayaan global.
“Pemerintah berada dalam tekanan dan memiliki keterbatasan kapasitas... Di sinilah pasar kredit swasta dapat berperan,” ungkap Pinto seperti dikutip dari Bloomberg, pada Minggu (13/7/2025).
Baca Juga:
Risiko Kredit Macet MeningkatSeperti fenomena yang terjadi saat ini, kredit swasta akan mengambil porsi lebih dalam proyek-proyek besar. Sayangnya, transaksi seperti pinjaman langsung masih akan menghadirkan kompleksitas bagi investor. Bank maupun asuransi menuntut transparansi dan detail transaksi yang lebih baik. Kompleksitas yang dimaksud dapat menimbulkan risiko kredit.
Di samping itu, ia meluruskan kesalahpahaman umum tentang pasar kredit swasta yang memberi pinjaman risiko tinggi dengan hasil tinggi. Pindo menerangkan, bank tidak hanya bertumpu pada imbal hasil tinggi secara oportunistik, tetapi juga sebagai alokasi aset yang stabil dan jangka panjang.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






