Sabtu, 4 April 2026

BI Hadirkan PIDI untuk Penggerak Talenta dan Startup Sistem Keuangan Digital

Penulis : Arnoldus Kristianus
24 Feb 2026 | 13:01 WIB
BAGIKAN
Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Dicky Kartikoyono di Grha Bhasvara Icchana Dome, Bank Indonesia pada Senin (23/2/2026). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)
Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Dicky Kartikoyono di Grha Bhasvara Icchana Dome, Bank Indonesia pada Senin (23/2/2026). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) meluncurkan program Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) untuk mengakselerasi berbagai solusi digital yang siap diterapkan di industri, memperluas inklusi keuangan, dan memberi nilai tambah nyata bagi perekonomian nasional.

Program ini diinisiasi BI berkolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), Asosiasi FinTech Indonesia (Aftech), Asosiasi Pasar Uang dan Valuta Asing Indonesia (Apuvindo), dan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI).

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Dicky Kartikoyono mengatakan ekonomi digital mengalami perkembangan pesat. Untuk bisa mengikuti perkembangan tersebut maka diperlukan sinergi antar pemangku kepentingan. PIDI hadir untuk menjawab dua kebutuhan dalam ekonomi digital.

Advertisement

Pertama, yaitu memenuhi kebutuhan industri dimana PIDI  akan mengadakan pelatihan. Dari pelatihan tersebut akan ditindaklanjuti dalam bentuk proyek percontohan. Setelah itu akan dilakukan sinergi bersama pelaku industri.

“Tujuannya adalah  kita akan bisa membangun sebuah ekosistem digital, ekonomi keuangan digital kita yang kuat dan mampu bersaing dengan global,” ucap Dicky dalam Soft Launching Pusat Inovasi Digital Indonesia di Grha Bhasvara Icchana Dome, Bank Indonesia pada Senin (23/2/2026).

Kedua yaitu penciptaan lapangan kerja dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Dalam hal ini PIDI akan membangun wadah (talent pool) melalui pelatihan sertifikasi yang berjenjang dan kemudian para talenta tersebut diberikan bekal untuk entrepreneurship yang mampu membuka lapangan kerja.

“Di sini mereka tentunya bukan sekadar program tapi membuktikan langsung membuat startup, langsung kemudian bertemu dengan bisnis untuk menjawab berbagai use case yang dibutuhkan oleh bisnis, terutama bisnis sistem keuangan,” tutur Dicky.

Dia menuturkan ekonomi digital Indonesia memasuki fase akselerasi sejak implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025–2030. Hal ini terlihat dari volume transaksi melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) hampir mencapai 300 miliar per tahun dengan nilai lebih dari Rp 50 triliun. Lalu 90% perbankan nasional telah memiliki layanan mobile banking. Sementara itu, nilai transaksi melalui BI-FAST telah menembus Rp 1,7 kuadriliun. Namun pada saat yang sama juga timbul tantangan terkait literasi, penguatan ekosistem, hingga perluasan ekonomi keuangan digital sampai ke desa-desa.

“Tidak bisa hanya Bank Indonesia. Kita perlu orkestrasi inovasi. Semua pihak harus terlibat membangun ekosistem yang kuat dan berkelanjutan,” tutur Dicky.

Akselerasi Solusi Digital

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 2 menit yang lalu

WOM Finance (WOMF) Tebar Dividen 30% dari Laba, Ini Jadwalnya

PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk atau WOM Finance (WOMF) berencana menebar dividen tunai 30% dari laba tahun 2025.
Lifestyle 10 menit yang lalu

Cara Daikin Dongkrak Kepercayaan Konsumen 

Saat ini AC tidak hanya sekadar pemberi kesejukan, melainkan juga menjadi pendukung bagi produktivitas.
International 51 menit yang lalu

Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang

Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.
Market 1 jam yang lalu

Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.
Business 2 jam yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih
InveStory 2 jam yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia