Kredit UMKM Anjlok di Kuartal I-2026, Masih Bisa Berlanjut hingga Akhir Tahun
JAKARTA, investor.id – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperingatkan tantangan besar dalam pemerataan pembiayaan nasional. Meski kredit perbankan secara agregat tumbuh solid 10,42% (yoy) pada Kuartal I-2026, segmen UMKM justru mengalami kontraksi sebesar 3,57% yang diprediksi bisa berlanjut hingga akhir tahun—berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, seperti dikutip dari Antara pada Senin (20/4/2026), menilai pertumbuhan kredit dua digit tersebut belum mencerminkan kualitas pertumbuhan yang merata. Ekspansi saat ini masih terkonsentrasi pada segmen korporasi, komersial, dan konsumsi yang memiliki risiko lebih terukur.
“Pertumbuhan kredit 10,42% pada Kuartal I-2026 menunjukkan ekspansi yang masih solid, tetapi belum mencerminkan kualitas pertumbuhan yang merata,” ujar Rizal.
Baca Juga:
Kredit Tumbuh 10,42% pada Kuartal I-2026Rizal menyoroti fenomena credit rationing atau pembatasan kredit oleh perbankan terhadap sektor UMKM. Hal ini dipicu oleh kenaikan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) UMKM yang menyentuh angka 4,55% pada Maret 2026. Meski masih di bawah ambang 5%, angka ini menjadi sinyal peringatan dini bagi industri perbankan.
“Jika tren ini berlanjut, perbankan akan semakin berhati-hati dan potensi kontraksi kredit UMKM bisa berlanjut sepanjang 2026,” tambahnya.
Menurut Indef, likuiditas perbankan saat ini relatif longgar, namun preferensi risiko bank cenderung lebih selektif akibat peningkatan NPL. Kondisi ini menunjukkan adanya celah lebar antara pemulihan ekonomi agregat dengan distribusi pembiayaan yang inklusif bagi pelaku usaha kecil.
Baca Juga:
Kredit UMKM Menjauh dari TargetUntuk mengatasi risiko bias pertumbuhan tersebut, Rizal menyarankan pemerintah menggeser strategi kebijakan dari sekadar mendorong volume kredit menuju pendekatan mitigasi risiko. Langkah kunci yang diperlukan mencakup penguatan skema penjaminan, optimalisasi KUR, serta integrasi UMKM ke dalam rantai pasok industri besar.
Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, pertumbuhan kredit nasional dikhawatirkan hanya akan menguntungkan sektor korporasi besar dan gagal mendukung transformasi ekonomi yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






