60 Bank Terbesar Kucurkan US$ 3,8 T ke Bahan Bakar Fosil
NEW YORK, investor.id – Laporan terbaru dari organisasi-organisasi iklim dengan judul “Banking on Climate Chaos 2021” yang diterbitkan Rabu (24/3), terdapat 60 bank komersial dan investasi terbesar di dunia yang secara kolektif membiayai US$ 3,8 triliun untuk perusahaan-perusahaan minyak mentah atau bahan bakar fosil mulai 2016 hingga 2020. Padahal Kesepakatan Iklim Paris telah ditandatangani pada 2015 dan berlaku mulai 4 November 2016.
“Laporan ini berfungsi sebagai pemeriksaan realitas bagi bank-bank yang berpikir, bahwa tujuan nol-bersih yang samar sudah cukup untuk menghentikan krisis iklim. Masa depan kita berjalan di mana uang mengalir, dan pada 2020 bank-bank ini telah menghabiskan miliaran dolar untuk mengunci kita dalam kekacauan iklim lebih lanjut,” ujar analis riset senior di Oil Change International Lorne Stockman, salah satu organisasi yang menulis laporan itu, yang dikutip CNBC.
Sebagai informasi, laporan tersebut merupakan kolaborasi dari tujuh organisasi nirlaba, yakni Rainforest Action Network, Bank Track, Indigenous Environmental Network, Oil Change International, Reclaim Finance, dan Sierra Club.
Setiap tahun, total pembiayaan untuk bahan bakar fosil mengalami penurunan 9% pada 2020. Namun, laporan tersebut mengaitkan penurunan dengan pembatasan permintaan akibat pandemi virus corona Covid-19.
Laporan organisasi iklim itu juga menemukan, bahwa angka pembiayaan bahan bakar fosil dari 60 bank komersial dan investasi terbesar di dunia pada 2020 lebih tinggi daripada 2016 – di tahun pertama Perjanjian Iklim Paris diberlakukan.
Seperti diketahui, mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan keluar dari perjanjian internasional itu pada 2017. Namun, AS kembali bergabung dengan Kesepakatan Iklim Paris ketika Presiden Joe Biden menjabat di hari pertamanya.
Menurut laporan organisasi iklim, ada tiga bank yang paling banyak menggelontorkan pembiayaan untuk bahan bakar fosil pada 2020, yakni JPMorgan Chase dengan US$ 51,3 miliar; Citi sebesar US$ 48,4 miliar; dan Bank of America dengan US$ 42,1 miliar.
Saat dikonfirmasi ke perwakilan JPMorgan Chase, mereka mengatakan kepada CNBC “Make It” bahwa pihak bank tidak dapat mengomentari laporan dari pihak ketiga. Tetapi mereka mengarahkan CNBC pada inisiatifnya untuk mengatasi perubahan iklim, termasuk mengadopsi komitmen pembiayaan yang selaras dengan tujuan Perjanjian Paris, dan memfasilitasi US$ 200 miliar dalam hal pembiayaan bersih dan berkelanjutan pada 2025.
Sedangkan Citi mengarahkan CNBC “Make It” ke unggahan di blog yang diterbitkan, Selasa (23/3) oleh Val Smith, chief sustainability officer bank. Dalam unggahannya, Citi mengatakan akan bekerja dengan para klien perbankan yang bergerak di bidang bahan bakar fosil yang sudah ada untuk transisi pertama ke pelaporan publik tentang emisi gas rumah kaca. Kemudian mengarah ke penghentian bertahap pembiayaan yang ditawarkan kepada perusahaan yang tidak mematuhi standar-standar pengurangan karbon.
“Sebagai bank paling global di dunia, kami mengakui bahwa kami terhubung dengan banyak sektor padat karbon yang telah mendorong pembangunan ekonomi global selama beberapa dekade. Oleh karena itu, upaya kami untuk mencapai emisi nol bersih pada 2050 mengharuskan kami bekerja dengan para klien kami, termasuk klien bahan bakar fosil, untuk membantu mereka dan sistem energi yang kami andalkan guna transisi ke ekonomi nol bersih,” demikian tulis Smith.
Salah Arah
Sementara itu, Bank of America tidak menanggapi permintaan komentar dari CNBC. Laporan “Banking on Climate Chaos 2021” itu muncul karena banyak indikator menunjukkan perekonomian global saat ini tidak berada di jalur yang tepat untuk mencapai pengurangan emisi yang ditetapkan sebagai bagian dari Perjanjian Iklim Paris pada 2015.
Laporan 2020 merupakan laporan tahunan ke-12, meski cakupan laporannya semakin meluas pada saat itu. Para penulis laporan mengumpulkan data-data pinjaman dan penjaminan bank dengan menggunakan metodologi kredit liga (league credit)Bloomberg – yang berarti kredit dibagi antara bank-bank yang memainkan peran utama dalam transaksi tertentu, serta memanfaatkan data dari Bloomberg Finance L.P. dan Global Coal Exit List.
Selain itu, perbankan diberi kesempatan untuk mempertimbangkan temuan tersebut. “Draf temuan laporan dibagikan dengan bank-bank sebelumnya, dan mereka diberi kesempatan untuk mengomentari pembiayaan dan penilaian kebijakan,” demikian menurut laporan itu.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah
Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.Ujian Berat bagi Saham BUMI
Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China
Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya
Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karatDuit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaTag Terpopuler
Terpopuler

