PM Australia Tolak Komitmen Hapus Bahan Bakar Fosil
MELBOURNE, investor.id – Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyatakan penolakannya untuk berkomitmen menghapus bahan bakar fosil secara bertahap, menjelang pelaksanaan konferensi perubahan iklim besar-besaran pada November mendatang. Sementara itu wakil perdana menterinya mengatakan, bakal melipatgandakan target-target yang berlawanan dengan emisi nol bersih gas rumah kaca.
Dalam wawancara dengan media Australia, SBS usai pertemuan puncak di Washington, Amerika Serikat (AS) Morrison mengungkapkan bahwa pemerintahannya masih mengerjakan rencana-rencana emisinya, dan menolak berkomitmen untuk membatasi bahan bakar fosil yang merupakan bagian utama dari pendapatan ekspor di Australia.
Kepada SBS, ia mengaku tidak siap untuk segera menarik industri bahan bakar fosil.
“Tidak harus, karena perubahan itu akan terjadi seiring waktu. Kami sedang mengerjakan teknologi transisi, bahan bakar dan teknologi utama yang akan ada selama 20, 30 tahun ke depan yang dapat membuat kita mencapai nol. Ini tidak terjadi dalam semalam,” ujar dia dalam wawancara yang ditayangkan Sabtu (25/9) malam, yang dikutip Reuters.
Morrison – yang memiliki slogan “teknologi bukan pajak” dan sebagian besar tidak terdefinisi itu – merupakan bagian dari pemerintah yang menggagalkan skema penetapan harga karbon setelah memenangkan pemilihan umum (pemilu) 2013, sambil menentang mekanisme tersebut sebagai pajak.
Wakil perdana menterinya, Barnaby Joyce – yang skeptis terhadap perubahan iklim – pada Minggu (26/9) mulai menolak target nol bersih.
“Kami melihatnya melalui mata untuk memastikan tidak ada yang tidak masuk akal, atau kehilangan pekerjaan regional,” kata Joyce, dari partai Nasionalnya yang sebagian besar mewakili para pemilih di pedesaan, kepada lembaga penyiaran Australian Broadcasting Corporation (ABC).
Joyce menambahkan bahwa hasil dari industri pertambangan dan pertanian sangat penting bagi masyarakat di kota-kota regional, mulai profesi penata rambut hingga penyedia layanan mobil.
“Anda harus ingat, bahan bakar fosil adalah ekspor terbesar negara Anda dan jika Anda mengambil ekspor terbesar negara Anda, Anda harus menerima standar hidup yang lebih rendah,” pungkas dia.
Sebagai informasi, Australia – sebagai negara pengekspor batu bara dan gas utama dunia – sedang berada di bawah tekanan yang semakin besar untuk mencapai target pengurangan emisi menjelang Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-26 (Climate Change Conference of the Parties/COP26) pada November di Glasgow, Skotlandia.
Bahkan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Jumat (24/9) telah meminta Australia untuk menetapkan target terikat waktu atas pencapaian emisi nol bersih. IMF juga memperingatkan supaya Negeri Kangguru itu bersiap menghadapi biaya-biaya pinjaman yang jauh lebih tinggi jika gagal berkomitmen pada target nol bersih pada 2050, seperti yang telah dilakukan oleh banyak rekan-rekan senegaranya.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now



