Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Puing-puing tank Rusia yang hancur di sebuah pompa bensin rusak di dekat Zalissya, timur laut Kyiv, Ukraina pada 12 April 2022. (FOTO: GENYA SAVILOV / AFP)

Puing-puing tank Rusia yang hancur di sebuah pompa bensin rusak di dekat Zalissya, timur laut Kyiv, Ukraina pada 12 April 2022. (FOTO: GENYA SAVILOV / AFP)

Update Perang di Ukraina: Biden Tuduh Rusia Genosida hingga Warga yang Mulai Kembali ke Ukraina

Rabu, 13 April 2022 | 12:49 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

KYIV, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menuduh pasukan Rusia melakukan genosida di Ukraina, pertama kali pemerintahannya menggunakan istilah itu. Sementara itu, lebih dari 870.000 warga Ukraina yang pergi ke luar negeri sejak perang memilih kembali ke tanah airnya.

Berikut adalah perkembangan terbaru dalam perang di Ukraina.

Advertisement

Biden ditanya tentang penggunaan istilah genosida, dalam kunjungan ke Iowa, AS. “Ya, saya menyebutnya genosida. Semakin dan semakin jelas bahwa Putin hanya mencoba menghapus gagasan untuk bisa menjadi orang Ukraina,” kata Biden, dilansir dari AFP pada Rabu (13/4).

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dengan cepat menjawab. “Kata-kata yang benar dari seorang pemimpin sejati,” tukasnya.

Baca juga: Dampak Perang Rusia-Ukraina, Modal Asing US$ 1,3 Miliar Keluar dari Indonesia

Warga Dikepung di Mariupol

Pasukan Ukraina dikepung dan diblokir di Mariupol ketika pasukan Rusia mendesak mengambil alih kota pelabuhan tenggara, tulis pejabat dari kantor kepresidenan Ukraina Mykhaylo Podolyak lewat media sosial Twitter.

Zelensky mengatakan dirinya yakin puluhan ribu orang di kota itu telah terbunuh. Ia juga kembali mengajukan permohonan untuk bantuan senjata.

Informasi Kredibel tentang Senjata Kimia

Pemerintah AS mengatakan pihaknya memiliki informasi yang dapat dipercaya bahwa Rusia mungkin menggunakan bahan kimia dalam serangannya untuk merebut Mariupol, kata Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Antony Blinken. Dia tidak dapat mengonfirmasi tuduhan bahwa pemerintah Rusia telah menggunakan senjata kimia di sana.

Pengawas senjata kimia dunia, OPCW, mengaku prihatin atas laporan penggunaan senjata kimia di Mariupol.

Semua Opsi untuk Negosiasi

Menteri angkatan bersenjata Inggris James Heappey mengatakan kepada Sky News bahwa jika bukti penggunaan senjata kimia muncul, maka semua opsi ada untuk negosiasi.

“Ada beberapa hal yang di luar batas. Dan penggunaan senjata kimia akan mendapat respons,” katanya.

Lebih dari 400 Jasad di Bucha

Walikota Bucha, tempat puluhan jasad ditemukan setelah penarikan Rusia dari Ukraina utara, mengatakan bahwa lebih dari 400 orang telah ditemukan tewas sejauh ini dan 25 wanita yang tewas dilaporkan juga menjadi korban pemerkosaan.

Zelensky mengatakan, para penyelidik telah menerima laporan tentang ratusan kasus pemerkosaan di daerah-daerah yang sebelumnya diduduki oleh pasukan Rusia. Termasuk serangan seksual terhadap anak-anak kecil, bahkan bayi.

Pemakaman di Timur Ukraina

Sekitar 400 warga sipil dimakamkan di Severodonetsk, dekat garis depan di Ukraina timur sejak serangan Rusia, kata Gubernur Lugansk Sergiy Gaiday.

Putin: Serangan Lebih Tenang

Putin mengatakan, serangan Rusia berjalan “dengan tenang” dan sesuai rencana, dengan tujuan “meminimalkan kerugian”.

Selama konferensi pers yang disiarkan televisi dengan Presiden Belarusia Alexander Lukashenko, Putin menolak laporan tentang penemuan ratusan jasad warga sipil di Bucha dan menuduh itu sebagai berita palsu.

Warga Mengungsi ke Timur

Warga berhamburan keluar dari Kramatorsk dan Sloviansk di Ukraina timur, saat kekhawatiran berkembang bahwa kota-kota itu akan menjadi sasaran utama serangan besar baru Rusia.

Pentagon mengatakan bahwa pemerintah Rusia sedang membangun pasukannya di wilayah Donbas timur, karena mengalihkan fokus ke wilayah di mana pemberontak pro Rusia telah memerangi pasukan Ukraina sejak 2014.

Baca juga: Pecah Perang Rusia-Ukraina, Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Terjaga Normal

Ukraina: Pembicaraan Sangat Sulit

Pemerintah Ukraina mengatakan pembicaraan dengan Rusia untuk mengakhiri perang sangat sulit. “Negosiasi sangat sulit,” kata penasihat presiden Ukraina Podolyak.

Putin mengatakan, inkonsistensi pada poin fundamental Ukraina menciptakan kesulitan tertentu dalam mencapai kesepakatan akhir.

Presiden Jerman Tidak Diinginkan di Ukraina

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengatakan dirinya menawarkan untuk mengunjungi Ukraina dengan para pemimpin Uni Eropa (UE) lainnya. Tetapi otoritas Ukraina mengatakan bahwa perjalanannya tidak diinginkan.

Steinmeier, mantan melu di bawah kepemimpinan mantan kanselir Angela Merkel, sudah lama dikenal karena memperjuangkan hubungan dengan Rusia. Penghinaan itu datang ketika Kanselir Olaf Scholz berada di bawah tekanan yang meningkat karena tidak mengunjungi Ukraina.

Penawaran Pertukaran Tawanan

Zelensky menawarkan untuk menukar jutawan pro Rusia Viktor Medvedchuk, yang ditangkap setelah melarikan diri dari tahanan rumah, dengan orang Ukraina yang ditangkap oleh Rusia.

Lebih dari 870.000 Orang Kembali

Lebih dari 870.000 warga Ukraina yang melarikan diri ke luar negeri sejak dimulainya perang telah kembali ke negara itu, kata pasukan perbatasan Ukraina.

Juru bicara Andriy Demchenko mengatakan bahwa 25.000-30.000 orang Ukraina kembali setiap hari, dengan semakin banyak wanita, anak-anak, dan orang tua di antara mereka.

Secara total, lebih dari 4,6 juta orang Ukraina kini telah meninggalkan negara mereka, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : AFP

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN