Kamis, 14 Mei 2026

Fed Yakin Ada Tanda-Tanda Pelonggaran Inflasi

Penulis : Grace El Dora
2 Jun 2022 | 11:20 WIB
BAGIKAN
Presiden AS Joe Biden (tengah) bertemu dengan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell dan Menteri Keuangan Janet Yellen di Oval Office, Gedung Putih pada 31 Mei 2022 di Washington, DC. Ketiganya bertemu untuk membahas rencana Administrasi Biden untuk memerangi rekor inflasi yang tinggi. (FOTO: Kevin Dietsch / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)
Presiden AS Joe Biden (tengah) bertemu dengan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell dan Menteri Keuangan Janet Yellen di Oval Office, Gedung Putih pada 31 Mei 2022 di Washington, DC. Ketiganya bertemu untuk membahas rencana Administrasi Biden untuk memerangi rekor inflasi yang tinggi. (FOTO: Kevin Dietsch / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

WASHINGTON, investor.id – Pertumbuhan yang solid terus berlanjut di seluruh Amerika Serikat (AS), bahkan ketika perusahaan meresahkan perjuangan berkelanjutan dengan kekurangan pekerja dan kenaikan harga. Namun Federal Reserve (Fed) yakin ada beberapa tanda tentatif bahwa ada pelonggaran gelombang inflasi.

Survei beige book (laporan bank sentral yang dirilis delapan kali tiap tahun) terbaru tentang kondisi bisnis bahkan mencatat ada tanda bahaya di beberapa regional, di mana ada kekhawatiran yang meningkat tentang penurunan ekonomi.

Semua 12 regional Fed melaporkan pertumbuhan, meskipun sepertiga dari mereka mengatakan bahwa kecepatan telah melambat. “(Tiga regional) secara khusus menyatakan keprihatinan tentang resesi,” kata laporan itu, dilansir dari AFP pada Kamis (2/6).

ADVERTISEMENT

Laporan tersebut disiapkan menjelang pertemuan kebijakan Fed pada 14-15 Juni 2022. Isinya membahas ukuran bagaimana postur agresif bank sentral dalam memerangi inflasi mempengaruhi ekonomi terbesar di dunia itu.

The Fed telah meningkatkan suku bunga acuan dua kali sejak Maret 2022 dengan total tiga perempat poin persentase atau 75 basis poin (bps). Pihaknya telah mengisyaratkan beberapa kenaikan setengah poin atau 50 bps kemungkinan bulan ini dan pada Juli 2022, karena mencoba menekan inflasi tertinggi selama lebih dari empat dekade tanpa menggagalkan ekspansi ekonomi.

Pada survei yang dilakukan hingga 23 Mei 2022, The Fed menemukan sebagian besar distrik melaporkan kenaikan harga yang kuat atau kuat, terutama untuk harga input.

Sementara itu, banyak perusahaan mengatakan bahwa mereka masih dapat meneruskan kenaikan harga kepada konsumen. “Lebih dari separuh distrik mengutip beberapa penolakan pelanggan, seperti pembelian volume yang lebih kecil atau penggantian merek yang lebih murah,” tulisnya.

Meskipun aktivitas manufaktur terus berkembang secara nasional, perusahaan ritel mencatat beberapa pelemahan karena konsumen menghadapi harga yang lebih tinggi. Ini menjadi kabar baik bagi regulator Fed.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 2 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 10 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 28 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 58 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 1 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia