Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kementerian Luar Negeri Taiwan (MOFA) pada 2 Agustus 2022 merilis foto Ketua DPR AS Nancy Pelosi berpose dengan delegasi dari AS setibanya di Bandara Sungshan Taipei, Taiwan. (FOTO: HANDOUT / TAIWAN

Kementerian Luar Negeri Taiwan (MOFA) pada 2 Agustus 2022 merilis foto Ketua DPR AS Nancy Pelosi berpose dengan delegasi dari AS setibanya di Bandara Sungshan Taipei, Taiwan. (FOTO: HANDOUT / TAIWAN

AS dan Tiongkok Saling Menjauh karena Lawatan Pelosi

Kamis, 4 Aug 2022 | 14:18 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SINGAPURA, investor.id – Kunjungan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi ke Taiwan pada Rabu (3/8), bahkan bertemu Presiden Tsai Ing-wen, telah meningkatkan ketegangan antara AS dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Risikonya adalah kedua negara bakalan saling menjauh satu sama lain.

“Kita menyaksikan konflik meningkat dan ini (lawatan Pelosi) pasti akan memperburuk keadaan. Tindakan ini sangat politis di Amerika Serikat dan juga di Taiwan. Dan tidak bagus dari sisi geostrategis karena mendorong kedua negara ini untuk saling menjauh. Kemampuan AS dan Tiongkok untuk mengatasi konflik ini ternodai karena ini seperti menabur garam di atas luka Tiongkok,” ujar Stephen Roach, mantan ekonom The Federal Reserve (The Fed) dari Yale University, kepada CNBC pada Rabu (3/8).

Baca Juga: Kunjungan Ketua DPR AS ke Taiwan Dorong Harga Emas

Namun Roach mengatakan, tidak berarti Tiongkok harus melepaskan diri dari beberapa kekhawatiran yang dikemukakan oleh Pelosi.

Advertisement

“Tetapi untuk membesarkan (kekhawatiran) dalam konteks hubungan yang memburuk seperti mengharapkan dampak yang lebih serius dari jalan resolusi yang jauh lebih sulit untuk dicapai. Dan kami tidak berada di jalan menuju resolusi. Biar bagaimana pun kunjungan ini mendorong kedua pihak ke titik untuk saling menjauh daripada saling mendekat,” katanya.

Baca Juga: Pelosi: AS Datang dalam Persahabatan ke Taiwan, Perdamaian ke Kawasan

Seperti diketahui, kunjungan resmi Pelosi yang sangat berisiko itu telah menuai kemarahan Tiongkok. Otoritas Negeri Tirai Bambu menyebut langkah Pelosi mengunjungi Taiwan sebagai pelangggaran kebijakan “Satu Tiongkok” dan upaya campur tangan dalam urusan internal Tiongkok. Di bawah kerangka itu, AS mengakui Beijing sebagai satu-satunya pemerintah resmi Tiongkok, meskipun AS juga mempertahankan hubungan tidak resmi dengan Taiwan.

Pelosi sendiri merupakan pejabat tertinggi di AS yang mengunjungi Taiwan dalam 25 tahun terakhir.

Pertahanan Tiongkok

Sebelumnya, Pemerintah Tiongkok telah memperingatkan akan menanggapi jika Pelosi mengunjungi Taiwan – sebuah pulau dengan pemerintahan sendiri yang dianggap Tiongkok sebagai provinsi pelarian.

Pada konferensi pers Rabu setelah bertemu Tsai, Pelosi mengungkap bahwa Taiwan adalah simbol demokrasi dan sangat berbeda dengan sistem politik di Tiongkok daratan dan Hong Kong, di mana janji “satu negara dua sistem” tidak terjadi.

Langkah Pelosi mengunjungi Taiwan telah menuai banyak pujian bipartisan. “Saya sebenarnya sangat bangga dengan apa yang dilakukan Nancy Pelosi dalam perjalanan ini. Hal yang mudah dilakukan adalah untuk menggagalkan dan dia yakin tidak melakukannya,” ujar Doug Heye, mantan direktur komunikasi di Komite Nasional Partai Republik kepada CNBC pada Rabu.

Baca Juga: Saham Wall Street Jatuh karena Ketegangan AS-Tiongkok

Ia menambahkan bahwa ketua DPR itu konsisten dengan menjadi dirinya sendiri. Di sisi lain, perjalanan Pelosi menciptakan masalah baru bagi pemerintahan Biden, yang telah mencoba meyakinkan Tiongkok bahwa kunjungan itu tidak berarti apa-apa tentang kebijakan AS terhadap Tiongkok atau Taiwan.

Namun menurut Roach, perjalanan itu menempatkan Tiongkok pada posisi defensif, sekaligus mendorong Tiongkok untuk menunjukkan tekadnya mengejar reunifikasi Taiwan dengan daratan.

“Ini adalah kemunduran tujuan di Tiongkok. Saya pikir Tiongkok akan membuat beberapa penyesuaian kompensasi guna mengimbangi kemunduran. Saya tidak berpikir Tiongkok bakal melakukan sesuatu yang gegabah. Saya tidak mencari aksi militer yang terang-terangan, meskipun ada banyak latihan atau unjuk kekuatan yang terjadi di Selat Taiwan,” ujarnya.

Tidak akan Gegabah

Sebagai informasi, menjelang kedatangan Pelosi di Taiwan, militer Tiongkok menggelar latihan tembakan langsung, mengerahkan jet tempur ke Selat Taiwan dan mengumumkan lebih banyak latihan militer.

Roach mengatakan bahwa untuk sementara, manuver ini mungkin tidak memicu sesuatu yang lebih cepat atau serius,tetapi risiko kecelakaan tidak boleh dianggap enteng.

Baca Juga: Aktivitas Manufaktur Tiongkok Kian Melambat

“Terlepas dari ancaman penggunaan kekuatan militer, Tiongkok tidak akan melakukan sesuatu yang gegabah. Saya pikir Beijing tidak ingin krisis ini lepas kendali juga. Mereka ingin mengirim pesan yang kuat, tetapi tidak ingin melakukan sesuatu yang sangat sembrono. Ini yang harus diingat. Pasalnya, banyak pesan yang bermaksud memicu tanda bahaya, bermaksud untuk menciptakan ketakutan dan menunjukkan bahwa setiap upaya melakukan apa yang tidak disukai Tiongkok dengan Taiwan bakal menimbulkan risiko dan ongkos yang mahal,” tutur Ja Ian Chong, profesor ilmu politik dari National University of Singapore, kepada CNBC, Rabu.

Dia juga menggarisbawahi bahwa pemaksaan itu sendiri datang dengan biaya dan risiko yang sangat besar bagi Tiongkok karena itu sangat penting untuk menyeimbangkan perilaku mengancam semacam itu dengan pertimbangan apa yang sebenarnya diinginkan dan apa yang dapat dilakukan Tiongkok. 


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com