Jumat, 15 Mei 2026

Tiongkok Tambah Stimulus karena Ekonomi Melambat

Penulis : Grace El Dora
22 Aug 2022 | 11:11 WIB
BAGIKAN
Petani memetik cabai Sichuan di bawah panel surya di Bijie, Provinsi Guizhou barat daya Tiongkok pada 16 Agustus 2022. (FOTO: STR / AFP)
Petani memetik cabai Sichuan di bawah panel surya di Bijie, Provinsi Guizhou barat daya Tiongkok pada 16 Agustus 2022. (FOTO: STR / AFP)

SHANGHAI, investor.id – Pemerintah Tiongkok tambah stimulus ekonomi, memangkas suku bunga acuan pinjaman dan menurunkan referensi hipotek dengan margin yang lebih besar pada Senin (22/8), menambah langkah-langkah pelonggaran pekan lalu. Pihaknya kini meningkatkan upaya untuk menghidupkan kembali ekonomi yang lambat karena krisis properti dan naiknya jumlah kasus Covid-19.

Suku bunga utama pinjaman tenor satu tahun (LPR) diturunkan sebesar 5 basis poin (bps) menjadi 3,65% pada penetapan bulanan bank sentral, sedangkan LPR tenor lima tahun diturunkan 15 bps menjadi 4,30%.

Sebelumnya, LPR satu tahun terakhir diturunkan pada Januari 2022. Tenor lima tahun, yang terakhir diturunkan pada Mei 2022, mempengaruhi harga kredit pemilikan rumah (KPR).

ADVERTISEMENT

Dalam jajak pendapat Reuters yang dilakukan minggu lalu, sebanyak 25 dari 30 responden memperkirakan penurunan 10 bps untuk LPR satu tahun. Semua yang ada dalam polling juga memproyeksikan penurunan untuk tenor lima tahun, termasuk 90% di antaranya memperkirakan penurunan lebih besar dari 10 bps.

“Pemotongan LPR asimetris sejalan dengan ekspektasi kami,” kata Marco Sun, kepala analis pasar keuangan di MUFG Bank pada Senin (22/8).

“Niat kebijakannya cukup jelas ... karena pemotongan 15 bps ke LPR lima tahun dimaksudkan untuk meningkatkan permintaan pembiayaan jangka panjang,” lanjutnya.

Pemotongan lebih dalam pada tingkat referensi hipotek pada Senin menggarisbawahi upaya regulator untuk menstabilkan sektor properti, setelah serangkaian gagal bayar (default) di antara developer properti dan penurunan penjualan rumah.

Sumber pekan lalu mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah Tiongkok akan menjamin penerbitan obligasi domestik baru oleh beberapa pengembang swasta terpilih untuk mendukung sektor ini, yang menyumbang seperempat dari produk domestik bruto (PDB) nasional.

Data PBoC yang Menantang

Pemotongan LPR terjadi setelah bank sentral Tiongkok (PBoC) mengejutkan pasar dengan menurunkan suku bunga Fasilitas Pinjaman Jangka Menengah (MLF) dan alat likuiditas jangka pendek lainnya pekan lalu. Saat itu, pihak berwenang mulai berupaya meningkatkan permintaan kredit dalam ekonomi yang tersendat.

Sejumlah data juga dirilis pekan lalu, menunjukkan ekonomi secara tak terduga melambat pada Juli 2022. Kondisi ini mendorong beberapa bank investasi global, termasuk Goldman Sachs dan Nomura, merevisi turun perkiraan pertumbuhan PDB setahun penuh untuk Tiongkok.

Goldman Sachs menurunkan perkiraan pertumbuhan PDB Tiongkok pada 2022 menjadi 3,0% dari sebelumnya 3,3%, jauh di bawah target pemerintah sekitar 5,5%.

“(Pemotongan LPR diperlukan) tetapi ukuran pengurangan itu tidak cukup untuk merangsang permintaan pembiayaan,” kata Xing Zhaopeng, ahli strategi senior Tiongkok di ANZ.

Xing memperkirakan LPR satu tahun bisa kembali dipangkas.

PBoC berjalan dengan tali yang ketat dalam upaya menghidupkan kembali perekonomian. Sementara menawarkan stimulus ekonomi, terlalu banyak langkah bisa menambah tekanan inflasi dan risiko pelarian modal karena Federal Reserve Amerika Serikat dan ekonomi lainnya menaikkan suku bunga secara agresif.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia