Jumat, 15 Mei 2026

Enam Bulan Perang Rusia, Ekonomi Global dalam Bahaya

Penulis : Grace El Dora
22 Aug 2022 | 12:29 WIB
BAGIKAN
Penjual jajanan kaki lima Warunee Deejai memasak makan siang untuk pelanggan di Bangkok, Thailand pada 11 Agustus 2022. Dalam enam bulan sejak serangan Rusia ke Ukraina, dampak perang memiliki dampak besar pada ekonomi global. Kenaikan harga-harga memaksa Deejai menaikkan harga, mengurangi staf, dan bekerja lebih lama. (FOTO: AP/Sakchai Lalit)
Penjual jajanan kaki lima Warunee Deejai memasak makan siang untuk pelanggan di Bangkok, Thailand pada 11 Agustus 2022. Dalam enam bulan sejak serangan Rusia ke Ukraina, dampak perang memiliki dampak besar pada ekonomi global. Kenaikan harga-harga memaksa Deejai menaikkan harga, mengurangi staf, dan bekerja lebih lama. (FOTO: AP/Sakchai Lalit)

MECKENHEIM, investor.id – Enam bulan setelah Rusia menyerang Ukraina, konsekuensinya merupakan ancaman bahaya yang menghancurkan bagi ekonomi global. Harga gas tidak hanya jauh lebih mahal, bahkan mungkin tidak akan tersedia sama sekali jika pemerintah Rusia benar-benar menghentikan pasokan ke Eropa untuk membalas sanksi Barat, atau jika utilitas tidak dapat menyimpan cukup untuk musim dingin.

Pemerintah Jerman mungkin harus memberlakukan penjatahan gas yang dapat melumpuhkan industri, dari pembuatan baja, obat-obatan, binatu komersial.

Pemerintah, bisnis, dan keluarga di seluruh dunia merasakan dampak ekonomi perang hanya dua tahun setelah pandemi virus corona merusak perdagangan global. Inflasi melonjak, sementara meroketnya biaya energi telah meningkatkan prospek musim dingin yang sulit di Barat. Eropa kini berada di ambang resesi.

Tingginya harga dan kelangkaan pangan diperparah oleh penghentian pengiriman pupuk dan biji-bijian dari Ukraina dan Rusia, yang kini secara perlahan mulai kembali. Namun krisis pangan bisa menimbulkan kelaparan dan kerusuhan yang meluas di negara berkembang.

ADVERTISEMENT

Di luar ibu kota Uganda, Kampala, Rachel Gamisha mengatakan perang Rusia di Ukraina yang jauh telah merugikan bisnis bahan makanannya.

Perang Rusia menyebabkan Dana Moneter Internasional (IMF) bulan lalu menurunkan prospek ekonomi global untuk keempat kalinya dalam waktu kurang dari setahun. Lembaga pemberi pinjaman itu memperkirakan pertumbuhan 3,2% tahun ini, turun dari 4,9% yang diharapkan pada Juli 2021 dan jauh di bawah 6,1% yang kuat tahun lalu.

“Dunia mungkin akan segera tertatih-tatih di tepi resesi global, hanya dua tahun setelah (resesi) yang terakhir,” kata kepala ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas, Senin (22/8).

Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan kenaikan harga pangan dan energi membuat 71 juta orang di seluruh dunia jatuh miskin dalam tiga bulan pertama perang. Negara-negara di Balkan dan Afrika sub Sahara paling terpukul. Hingga 181 juta orang di 41 negara dapat menderita krisis kelaparan tahun ini, menurut proyeksi Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

Bahkan sebelum Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan serangan ke Ukraina, ekonomi global sudah berada di bawah tekanan.

Inflasi telah meroket karena pemulihan yang lebih kuat dari perkiraan dari resesi pandemi membanjiri pabrik, pelabuhan, dan galangan pengiriman sehingga menyebabkan penundaan, kekurangan, dan harga yang lebih tinggi. Sebagai tanggapan, bank sentral mulai menaikkan suku bunga untuk mencoba mendinginkan pertumbuhan ekonomi dan menjinakkan lonjakan harga.

“Kita semua mengalami semua hal yang berbeda ini. Volatilitas inflasi naik. Volatilitas pertumbuhan meningkat. Dan oleh karena itu, menjadi jauh lebih sulit bagi bank sentral untuk mengarahkan kapal,” kata kepala ekonom di International Institute of Finance Robin Brooks.

Tiongkok, mengejar kebijakan nol kasua Covid-19, memberlakukan lockdown yang melemahkan ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Pada saat itu, banyak negara berkembang masih bergulat dengan pandemi dan utang besar yang mereka ambil untuk melindungi populasi dari bencana ekonomi.

Semua tantangan itu mungkin bisa diatasi. Tetapi ketika Rusia menyerang Ukraina pada 24 Februari 2022, Barat menanggapi dengan sanksi berat.

Kedua tindakan tersebut mengganggu perdagangan pangan dan energi. Pasalnya, Rusia adalah produsen minyak bumi terbesar ketiga di dunia dan pengekspor gas alam, pupuk, dan gandum terkemuka. Peternakan di Ukraina juga memberi makan jutaan orang secara global.

Inflasi kemudian menyebar ke dunia.

Di dekat Johannesburg, Afrika Selatan, Stephanie Muller membandingkan harga dan memeriksa berbagai toko kelontong untuk menemukan penawaran terbaik.

Berbelanja di sebuah pasar di ibukota Vietnam, Hanoi, Bui Thu Huong mengatakan dirinya membatasi pengeluaran dan mengurangi gaya hidup.

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo bulan ini memperingatkan bahwa harga mi instan mungkin naik tiga kali lipat karena harga gandum yang melambung. Di negara tetangga Malaysia, petani sayuran Jimmy Tan menyayangkan harga pupuk naik 50%. Ia juga membayar lebih untuk persediaan seperti lembaran plastik, tas, dan selang.

Di Karachi, Pakistan yang jauh dari medan perang Ukraina, Kamran Arif mengambil pekerjaan paruh waktu kedua untuk menambah gajinya.

Sebagian besar orang hidup dalam kemiskinan di Pakistan, yang mata uangnya telah kehilangan hingga 30% valuasinya terhadap dolar. Pemerintah telah menaikkan harga listrik 50%.

Muhammad Shakil, importir dan eksportir, mengatakan dia tidak bisa lagi mendapatkan gandum, buncis putih dan kacang polong kuning dari Ukraina.

Kenaikan suku bunga pinjaman oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) menekan pendapatan, karena berkurangnya pemilik rumah yang meminjam untuk membayar perbaikan rumah.

Di Eropa, harga-harga naik 15 kali lipat dari sebelum Rusia mengerahkan pasukan di perbatasan Ukraina pada Maret 2021.

“Ada lebih banyak risiko dan tekanan resesi di Eropa daripada di negara-negara berpenghasilan tinggi lainnya,” kata Adam Posen, presiden Institut Peterson untuk Ekonomi Internasional dan mantan regulator bank sentral Inggris (BoE).

Kerusakan juga hampir tidak menyelamatkan Rusia, yang ekonominya diperkirakan IMF akan berkontraksi 6% tahun ini. Ekonom Rusia Sergey Aleksashenko yang sekarang tinggal di AS mencatat bahwa penjualan ritel negara itu jatuh 10% pada kuartal II-2022 dibandingkan dengan tahun sebelumnya, karena konsumsi berkurang.

“Mereka tidak punya uang untuk dibelanjakan,” katanya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 42 menit yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 52 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 9 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia