Kamis, 14 Mei 2026

Powell Ingatkan Dampak ‘Menyakitkan’ Saat The Fed Berjuang Turunkan Inflasi

Penulis : Indah Handayani
27 Aug 2022 | 06:00 WIB
BAGIKAN
Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. ( Foto: NICHOLAS KAMM / AFP )
Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. ( Foto: NICHOLAS KAMM / AFP )

WYOMING, investor.id - Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyampaikan komitmen tegasnya untuk menghentikan inflasi pada Jumat waktu setempat (26/8/2022). Ia juga memperingatkan bank sentral untuk terus menaikkan suku bunga dengan cara yang akan berdampak ‘menyakitkan’ pada ekonomi Amerika Serikat (AS).

Dalam pidato kebijakan tahunannya yang sangat dinanti di Jackson Hole, Wyoming, Powell menegaskan The Fed akan ‘menggunakan berbagai perangkatnya dengan paksa’ untuk menyerang inflasi yang masih mendekati level tertinggi dalam kurun waktu lebih dari 40 tahun.

Bahkan dengan empat kali kenaikan suku bunga berturut-turut total 2,25 poin persentase, Powell mengakui ‘tidak ada tempat untuk berhenti atau jeda’ meskipun suku bunga acuan mungkin berada di sekitar area yang dianggap tidak stimulatif atau membatasi pertumbuhan.

“Sementara suku bunga yang lebih tinggi, pertumbuhan yang lebih lambat, dan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih lemah akan menurunkan inflasi, hal itu juga akan membawa rasa sakit bagi rumah tangga dan bisnis. Ini adalah biaya yang tidak menguntungkan untuk mengurangi inflasi. Tetapi kegagalan untuk memulihkan stabilitas harga akan berarti penderitaan yang jauh lebih besar,” ungkap Powell dalam sambutannya.

ADVERTISEMENT

Saham jatuh setelah pidato Powell, dengan Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 500 poin. Imbal hasil obligasi AS turun dari level tertinggi dalam sesi perdagangan.

Pernyataan itu muncul di tengah tanda-tanda bahwa inflasi mungkin telah mencapai puncaknya tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Dua tolok ukur yang diawasi ketat, indeks harga konsumen dan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi, hanya mengalami sedikit perubahan pada bulan Juli. Hal itu juga sebagian besar terjadi karena penurunan tajam dalam biaya energi.

Pada saat yang sama, bidang ekonomi lainnya melambat. Perumahan khususnya jatuh dengan cepat, dan para ekonom memperkirakan bahwa lonjakan besar dalam perekrutan selama satu setengah tahun terakhir kemungkinan akan mendingin.

Namun, Powell memperingatkan bahwa fokus The Fed lebih luas dari satu atau dua bulan data, dan akan terus mendorong ke depan sampai inflasi bergerak turun mendekati sasaran jangka Panjang, yaitu 2%.

"Kami mengubah sikap kebijakan ke tingkat yang akan cukup ketat untuk mengembalikan inflasi ke 2%. Melihat ke masa depan, memulihkan stabilitas harga kemungkinan akan memerlukan menjaga sikap kebijakan yang ketat untuk beberapa waktu. Catatan sejarah sangat memperingatkan terhadap kebijakan pelonggaran premature,” ucapnya.

Ekonomi mengalami pertumbuhan PDB negatif dalam beberapa kuartal, sebuah definisi umum tentang resesi. Namun, Powell dan sebagian besar ekonom lainnya melihat ekonomi secara fundamental terbilang kuat walau melambat.

"Intinya, Powell dengan jelas menyatakan bahwa saat ini, memerangi inflasi lebih penting daripada mendukung pertumbuhan," kata Jeffrey Roach, kepala ekonom di LPL Financial.

Sayangnya, pidato Powelll pada Jumat (26/8/2022) terbilang sangat biasa singkat. Padahal, para pemimpin Fed, termasuk Powell, sering menggunakan simposium Jackson Hole sebagai kesempatan untuk menguraikan perubahan kebijakan yang luas. Namun, kali ini pernyataan Powell pada Jumat (26/8/2022) sangat singkat, yaitu hanya sekitar delapan menit.

Powell bahkan mengawali pidatonya dengan menekankan bahwa komentarnya akan lebih pendek, fokusnya lebih sempit, dan pesannya lebih langsung. “Stabilitas harga adalah tanggung jawab Federal Reserve dan berfungsi sebagai landasan ekonomi kita. Tanpa stabilitas harga, ekonomi tidak bekerja untuk siapa pun,” kata Powell.

Pasar menanti pertemuan Fed berikutnya pada September mendatang untuk melihat apakah Komite Federal Market Committee (FMC) bakal menaikan suku bunga sebesar 0,75 poin persentase untuk tiga kali berturut-turut. Powell mengatakan keputusan itu akan tergantung pada totalitas data yang masuk dan prospek yang berkembang. Pada titik tertentu, ketika sikap kebijakan moneter semakin ketat, kemungkinan akan menjadi tepat untuk memperlambat laju kenaikan.

Traders saat ini memprediksi kenaikan suku bunga akan berada di kisaran setengah poin atau tiga perempat poin. Pada Jumat pagi setelah pidato Powell, 54,5% kemungkinan pergerakan kenaikan akan mencapai 0,75 poin, menurut ukuran FedWatch CME Group.

The Fed menggunakan pelajaran dari masa lalu sebagai pedoman untuk kebijakan saat ini. Secara khusus, Powell mengatakan inflasi 40 tahun yang lalu memberi The Fed saat ini tiga pelajaran, yaitu bank sentral seperti The Fed bertanggung jawab untuk mengelola inflasi, bahwa ekspektasi sangat penting dan bahwa “kita harus terus melakukannya sampai pekerjaan selesai”.

Powell mencatat bahwa kegagalan Fed untuk bertindak tegas pada 1970-an menyebabkan berlanjutnya ekspektasi inflasi yang tinggi yang menyebabkan kenaikan suku bunga yang menyakitkan pada awal 1980-an. Dalam hal itu, Ketua Fed saat itu, Paul Volcker, menarik ekonomi ke dalam resesi untuk menjinakkan inflasi.

Sambil berulang kali menyatakan bahwa dia tidak berpikir resesi adalah hasil yang tidak terhindarkan bagi ekonomi AS, Powell mencatat bahwa mengelola ekspektasi sangat penting jika The Fed ingin menghindari hasil seperti Volcker.

“Pada awal 1980-an, periode panjang kebijakan moneter yang sangat ketat akhirnya diperlukan untuk membendung inflasi yang tinggi dan memulai proses menurunkan inflasi ke tingkat yang rendah dan stabil yang merupakan norma sampai musim semi tahun lalu. Tujuan kami adalah untuk menghindari hasil itu dengan bertindak dengan tekad sekarang,” tegas Powell.

Salah satu konsep yang membentuk pemikiran Powell adalah ‘kurangnya perhatian yang rasional’. Intinya, itu berarti orang kurang memperhatikan inflasi saat rendah dan lebih memperhatikan saat tinggi.

“Tentu saja, inflasi menjadi perhatian semua orang saat ini, yang menyoroti risiko tertentu hari ini: Semakin lama inflasi tinggi saat ini berlanjut, semakin besar kemungkinan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi akan mengakar,” katanya.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 1 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 1 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 1 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia