Jumat, 15 Mei 2026

Pemuda Pengangguran di Tiongkok Hadapi Ketidakpastian Masa Depan

Penulis : Happy Amanda Amalia
29 Aug 2022 | 11:48 WIB
BAGIKAN
Karyawan bekerja di jalur perakitan ponsel pintar di pabrik Oppo Dongguan, Provinsi Guangdong selatan Tiongkok pada 20 Juli 2022. (FOTO: Giok GAO / AFP)
Karyawan bekerja di jalur perakitan ponsel pintar di pabrik Oppo Dongguan, Provinsi Guangdong selatan Tiongkok pada 20 Juli 2022. (FOTO: Giok GAO / AFP)

BEIJING, investor.id – Laju ekonomi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang melambat telah mengakibatkan jutaan pemuda bersaing ketat untuk mendapatkan pekerjaan di tengah lapangan kerja yang semakin berkurang, dan menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Berdasarkan data resmi yang dirilis bulan ini, satu dari lima pemuda di kota-kota di Tiongkok telah kehilangan pekerjaan pada Juli. Jumlah ini lebih dari tiga kali lipat rerata nasional dan tercatat sebagai rekor tertinggi sejak Januari 2018.

Selain itu, hampir 11 juta lulusan universitas memasuki pasar ketenagakerjaan Tiongkok yang suram pada musim panas ini. Pasalnya, tingkat pertumbuhan ekonomi untuk kuartal II-2022 hanya mencapai 0,4% atau terlemah dalam dua tahun.

Semisal yang dialami Zhao Yuting (22 tahun). Dia mengungkapkan kepada AFP pada Minggu (28/8) bahwa banyak perusahaan enggan merekrut karyawan karena ekonomi sedang kontraksi. Zhao juga menambahkan, harus bersaing dengan para pekerja berpengalaman guna mendapatkan posisi untuk karyawan baru, yang akhirnya menggeser calon pekerja tanpa pengalaman seperti dirinya.

ADVERTISEMENT

Zhao mengaku, sejak lulus pada Juli, ia telah menyerahkan CV-nya ke puluhan perusahaan. Tetapi hanya segelintir perusahaan yang menghubunginya untuk wawancara. Itu pun sekadar untuk menolaknya karena Zhao tidak memiliki pengalaman. Ia selama ini mengira, cukup berbekal gelar dalam bahasa Inggris, sudah dapat mencari nafkah sebagai tutor sampai menemukan pekerjaan purna waktu.

Namun tindakan tegas Pemerintah Tiongkok baru-baru ini terhadap sektor teknologi dan pendidikan, yang biasanya menyerap talenta baru, telah menghilangkan lapangan pekerjaan untuk Zhao.

“Saya sudah mencari pekerjaan selama dua atau tiga bulan, tetapi prospek untuk dipekerjakan terlihat tipis. Semakin lama, semakin besar tekanannya,” tutur Zhao, yang terpaksa tinggal kembali dengan orang tuanya saat mencari pekerjaan.

Sementara itu, kalangan analis menuding kondisi ekonomi yang lambat karena pemberlakuan lockdown Covid, serta kelompok besar yang memasuki angkatan kerja selama musim kelulusan pada Juli dan Agustus, telah membuat pemuda Tiongkok dihadapkan pada peluang yang tipis.

Menurut Zhuang Bo – ekonom di kelompok riset TS Lombard – data resmi tidak melakukan pelacakan terhadap pengangguran di kalangan pemuda pedesaan, sehingga populasi pengangguran sebenarnya diperkirakan bisa lebih dari dua kali lipat jumlah resmi.

Golongan pekerja buruh juga sedang berjuang untuk mencari pekerjaan menyusul tingkat pertumbuhan di sektor manufaktur dan konstruksi yang merosot.

“Kenyataannya lebih serius daripada yang ditunjukkan data. Jika masalah terus berlanjut tanpa perbaikan, itu akan dengan mudah menyebarkan gangguan sosial,” kata Ho-fung Hung, seorang pakar dalam ekonomi politik Tiongkok di Johns Hopkins University.

Sedangkan di sebuah bursa kerja yang digelar di pusat teknologi Shenzhen, tampak pemandangan antrean panjang orang tua dan lulusan pemuda yang cemas menunggu kesempatan untuk diwawancarai oleh para perekrut.

Tetapi menurut para pencari kerja di bursa kerja itu, para perekrut hanya memilih orang-orang dari lulusan universitas ternama karena lowongan yang tersedia hanya sedikit.

“Tujuan saya adalah bekerja di Shenzhen, di Silicon Valley-nya Tiongkok. Tetapi setelah lebih dari empat bulan mencari, saya siap bekerja bahkan di kota yang lebih kecil, dengan bayaran lebih rendah,” ujar Luo Wen, lulusan sarjana ilmu komputer kepada AFP.

Tidak Melihat Masa Depan

Data perusahaan rekrutmen online Zhaopin menunjukkan, para lulusan yang berhasil mendapatkan pekerjaan tahun ini ditawari gaji yang rata-rata 12% lebih rendah dari tahun lalu.

Sementara itu, beberapa pencari kerja memilih meredam ambisi mereka, sedangkan yang lain menunggu waktu dengan melanjutkan studi. Para ahli telah memperingatkan bahwa situasi ini dapat menyebabkan inflasi derajat, di mana perusahaan menuntut kualifikasi yang lebih tinggi dan lebih tinggi untuk lowongan pekerjaan yang tidak selalu membutuhkan mereka.

Kalangan analis pun menyalahkan kebijakan pemerintah yang berdampak pada peningkatan pesat jumlah mahasiswa selama dekade terakhir, karena negara telah gagal mengakomodasi lebih banyak pekerja berilmu.

“Pandemi dan aturan lockdown hanya memperburuk masalah,” tambah Hung.

Pemerintah Tiongkok sendiri telah berjanji untuk menopang lapangan pekerjaan dengan menawarkan keringanan pajak untuk usaha kecil dan lebih banyak pendanaan awal.

Menurut Perdana Menteri Li Keqiang, krisis ketenagakerjaan di Negeri Tirai Bambu adalah masalah kompleks dan serius. Ia pun meminta perusahaan-perusahaan milik negara untuk meningkatkan stabilitas ekonomi.

Sementara itu, seiring melambatnya pertumbuhan di sektor swasta, para pencari kerja berbondong-bondong datang ke tempat-tempat bimbingan belajar (bimbel) untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian pegawai negeri sipil (PNS) yang sangat kompetitif. Tercatat ada 2 juta orang mendaftar mengikuti ujian PNS nasional pada musim gugur yang lalu.

Berdasarkan survei baru-baru ini oleh 51job – salah satu layanan pencarian kerja terbesar di Tiongkok – sebanyak 40% responden lebih memilih bekerja di pemerintahan yang stabil daripada berkarir di perusahaan.

Tetapi bagi Zhao, yang tidak mampu belajar lebih lanjut (di bimbel) dan tidak memiliki koneksi untuk mendapatkan pekerjaan di pemerintahan, hanya tersisa sedikit pilihan. “Saya merasa tidak bisa melihat masa depan. Saya belum membuat kemajuan apa pun. Ini menyedihkan,” tambah dia. 

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 16 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 18 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia