Jumat, 15 Mei 2026

PM Inggris Berikutnya Mewarisi Ekonomi Inggris dalam Krisis

Penulis : Grace El Dora
25 Okt 2022 | 10:19 WIB
BAGIKAN
Pemimpin Partai Konservatif yang baru dan perdana menteri yang akan datang Rishi Sunak melambai saat ia meninggalkan Markas Besar Partai Konservatif di London pusat, Inggris pada 24 Oktober 2022. (FOTO: JUSTIN TALLIS / AFP)
Pemimpin Partai Konservatif yang baru dan perdana menteri yang akan datang Rishi Sunak melambai saat ia meninggalkan Markas Besar Partai Konservatif di London pusat, Inggris pada 24 Oktober 2022. (FOTO: JUSTIN TALLIS / AFP)

LONDON, investor.id – Perdana menteri (PM) Inggris berikutnya, mantan menteri keuangan Rishi Sunak, mewarisi ekonomi Inggris yang menuju resesi bahkan sebelum gejolak baru-baru ini dipicu oleh Liz Truss.

PM Truss mengundurkan diri setelah anggaran pemotongan pajak yang didanai oleh utang, mengirimkan gelombang kejutan melalui pasar, menjatuhkan poundsterling.

Hal itu menyebabkan pemerintah memutar balik sebagian besar anggarannya, termasuk mengurangi batas atas melonjaknya tagihan energi. Biaya energi inilah yang berkontribusi besar terhadap krisis biaya hidup bagi puluhan juta warga Inggris.

ADVERTISEMENT

Data yang dirilis Senin (24/10) menunjukkan penurunan ekonomi Inggris telah memburuk pada Oktober 2022, dengan output sektor swasta pada level terendah dalam 21 bulan.

“Data (indeks manajer pembelian) PMI kilasan Oktober menunjukkan laju penurunan ekonomi mengumpulkan momentum, setelah gejolak pasar politik dan keuangan baru-baru ini,” kata Chris Williamson, kepala ekonom bisnis di S&P Global Market Intelligence yang membantu mengumpulkan angka-angka tersebut pada Selasa (25/10).

“Ketidakpastian politik dan ekonomi yang meningkat telah menyebabkan aktivitas bisnis turun pada tingkat yang tidak terlihat sejak krisis keuangan global pada 2009, jika bulan-bulan lockdown pandemi dikecualikan,” lanjutnya.

Williamson menambahkan bahwa data yang akan datang kemungkinan akan menunjukkan Inggris sudah dalam resesi.

PMI komposit S&P Global/ CIPS flash UK berada di level 47,2 pada Oktober 2022, di bawah level September di angka 49,1.

Angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi.

Meski demikian Inggris tidak sendirian, dengan data S&P terpisah yang menunjukkan resesi yang akan terjadi di Jerman, ekonomi terbesar Eropa.

Stabilitas Sunak

Truss mengundurkan diri pada Kamis (20/10), setelah hanya 44 hari menjabat sebagai PM. Dia menggantikan Boris Johnson pada 6 September 2022 setelah kampanye selama berminggu-minggu melawan rival di Tory (sebutan bagi Partai Konservatif), Rishi Sunak.

Mantan kanselir keuangan itu telah memperingatkan dalam pertempuran untuk menggantikan Johnson, bahwa pemotongan pajak yang dijanjikan oleh Truss ketika utang pemerintah telah melonjak untuk intervensi Covid-19 adalah pilihan kebijakan yang salah.

Dia terbukti benar karena anggaran mengirim poundsterling jatuh ke rekor terendah mendekati paritas dengan dolar dan memicu imbal hasil (yield) obligasi pemerintah melonjak.

Sunak dipandang membawa stabilitas ke pasar, poundsterling naik, dan yield turun pada Senin.

“Investor jelas berharap Sunak akan menstabilkan ekonomi dan situasi politik. Meskipun sulit untuk bekerja pada saat ini yang merupakan tugas yang lebih sulit,” kata analis keuangan AJ Bell Danni Hewson.

“Selain pemulihan sterling dan pengurangan biaya pinjaman pemerintah (saat yield turun), Sunak akan senang melihat harga gas Eropa (jatuh),” tambahnya.

Namun, dengan inflasi Inggris pada level tertinggi 40 tahun di atas 10%, bank sentral Inggris (BoE) akan mengungkap kenaikan suku bunga sebagai bumper lanjutan pada pertemuan kebijakan reguler minggu depan.

Ini akan menambah tekanan lebih lanjut pada peminjam, termasuk pemilik rumah yang telah melihat kenaikan suku bunga hipotek setelah anggaran mahal pemerintah.

Shevaun Haviland, direktur jenderal (dirjen) Kamar Dagang Inggris, mendesak Sunak untuk juga membantu bisnis yang berjuang dengan tagihan energi yang besar.

“Ketidakpastian politik dan ekonomi beberapa bulan terakhir telah sangat merusak kepercayaan bisnis Inggris dan sekarang harus diakhiri,” katanya dalam sebuah pernyataan, setelah posisi baru Sunak dikonfirmasi.

“Perdana menteri yang baru harus menjadi pegangan yang mantap untuk melihat perekonomian melalui kondisi yang menantang ke depan. Ini berarti menetapkan rencana biaya penuh untuk menangani masalah besar yang dihadapi bisnis (yakni) tagihan energi melonjak, kekurangan tenaga kerja, inflasi spiral, dan kenaikan suku bunga,” jelas Haviland.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia