Jumat, 15 Mei 2026

Defisit Perdagangan Jepang 2022 Mencapai Rekor karena Biaya Energi

Penulis : Grace El Dora
19 Jan 2023 | 13:15 WIB
BAGIKAN
Cerobong fasilitas industri di Kawasan Industri Keihin digambarkan dari dek observasi Kawasaki Marien di Kawasaki, Jepang pada 17 Januari 2023. (Foto: Philip FONG / AFP)
Cerobong fasilitas industri di Kawasan Industri Keihin digambarkan dari dek observasi Kawasaki Marien di Kawasaki, Jepang pada 17 Januari 2023. (Foto: Philip FONG / AFP)

TOKYO, investor.id – Pemerintah Jepang mencatat defisit perdagangan tahunan terbesarnya tahun lalu, dengan melonjaknya harga energi dan bahan mentah yang diperparah oleh jatuhnya yen secara dramatis.

Negara miskin sumber daya itu sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil, yang menjadi lebih mahal secara tajam tahun lalu, sebagian besar karena serangan Rusia ke Ukraina.

Pada 2022 nilai impor Jepang mencapai 19,97 triliun yen (US$ 155 miliar) lebih tinggi dari ekspor, menjadi defisit terbesar Jepang. Data pembanding telah tersedia sejak 1979.

ADVERTISEMENT

Angka tersebut juga menandai lompatan dari rekor defisit perdagangan Jepang sebelumnya sebesar 12,82 triliun yen pada 2014.

Otoritas Jepang telah menghentikan impor minyak Rusia sebagai reaksi atas perang di Ukraina, tetapi masih membeli batubara dan gas alam dari negara tersebut. Sementara itu, impor LNG dari Rusia naik lebih dari 4% pada 2022.

Yen juga mencapai posisi terendah dalam dua dekade terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tahun lalu, mendorong intervensi pemerintah yang mahal untuk menopang mata uang.

Didorong oleh kesenjangan kebijakan moneter antara Jepang dan negara-negara lain, pelemahan yen menggelembungkan keuntungan bagi eksportir tetapi meningkatkan harga impor seperti energi.

Taro Saito, peneliti eksekutif di NLI Research Institute, mengatakan Jepang akan terus mengalami defisit perdagangan yang besar dalam waktu dekat.

“Sementara ekspor diperkirakan merosot di belakang ekonomi luar negeri yang melambat, nilai impor juga akan berkurang setelah penurunan yen mengambil nafas,” tulisnya dalam sebuah laporan yang diterbitkan setelah rilis data, Kamis (19/1).

“Defisit perdagangan diperkirakan akan turun secara bertahap sambil tetap pada level tinggi,” ungkap Saito.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 26 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 58 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 1 jam yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia